Phoutthasone Phaengvilai

Phoutthasone Phaengvilai

Berkebun beragam sayuran menghasilkan pendapatan belasan juta rupiah per bulan.Phoutthasone Phaengvilai senang bukan kepalang lantaran berpendapatan Rp13,5 juta saban bulan setara Rp162 juta per tahun. Padahal Noy—panggilan sehari-hari perempuan asal Desa Hoi, Distrik Khoune, Provinsi Xiangkhouang, Laos, itu, tidak bekerja di perkantoran di Vientiane seperti yang dilakukan mayoritas teman Phoutthasone. Pendapatan perempuan 23 tahun itu juga lebih tinggi ketimbang gaji pegawai negeri setempat yang hanya Rp2,7 juta—Rp4 juta setiap bulan.

Menurut General Manager Lao Farmer Network Laos, Phoutashinh Phimmachan, pendapatan Phoutthasone juga relatif tinggi jika dibandingkan dengan petani padi di Laos yang menerima Rp2,7 juta—Rp4 juta per hektare per musim tanam. Pendapatan petani padi di Laos kecil karena hanya mengandalkan hujan untuk sumber irigasi. Petani menanam padi pada Juli dan panen pada Oktober. Artinya penanaman hanya sekali setahun.

Wirausaha
Padahal padi salah satu komoditas paling penting di negara yang dialiri Sungai Mekong itu. Penghasilan besar Noy berasal dari perniagaan beragam sayuran seperti mentimun, cabai, terung, atau brokoli. Sejak 2008 ia menjadi petani sayuran dan mengelola 2 hektare lahan. Perempuan penyuka warna hijau itu membudidayakan aneka sayuran secara terjadwal dan menerapkan rotasi tanam agar kontinuitas panen terjaga. Sayuran produksi Phoutthasone tersebar di provinsi tetangga seperti Xaisomboun.

Irigasi menggunakan sprinkle di kebun milik Phoutthasone.

Irigasi menggunakan sprinkle di kebun milik Phoutthasone.

Noy memilih beragribisnis karena tidak terikat peraturan. “Kita sendiri yang membuat keputusan kapan harus bekerja dan beristirahat. Sekecil apapun usaha itu, kita adalah bos di perusahaan kita,” kata sarjana pertanian alumnus Souphanouvong University, Luang Prabang, Laos, itu. Sejatinya Phoutthasone bertani sejak berumur 9 tahun bersama orangtuanya. Namun, baru mengelola lahan sendiri sejak 2008.

Baca juga:  Atasi Musuh Nomor Satu

Ia mantap bertanam sayuran karena lingkungan mendukung lantaran berketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (m dpl). Alasan lain, merosotnya minat pemuda untuk menerjuni pertanian. Karena itulah ia fokus di dunia pertanian dan membuktikan bahwa pertanian menjanjikan keuntungan. Jika pertanian dikelola baik maka pendapatannya pun bisa melebihi gaji pekerja di perkantoran.

Menurut Phoutashinh hampir 70% dari total populasi 6,76 juta jiwa penduduk Laos pada 2016 berprofesi petani. Sayangnya jumlah itu terus menurun saban tahun. Musababnya, “Kebijakan pemerintah terfokus ke modernisasi dan sektor industri, kurang memperhatikan pertanian,” kata pria berumur 36 tahun itu. Untungnya masih tersisa petani muda dan perempuan yang bergelut di bidang pertanian.

Kebun Phoutthasone, Desa Hoi, Distrik Khoun, Provinsi Xiangkhouang, Laos.

Kebun Phoutthasone, Desa Hoi, Distrik Khoun, Provinsi Xiangkhouang, Laos.

Dari 70% populasi penduduk Laos yang berprofesi petani itu, setengahnya berusia muda dan setengahnya lagi adalah perempuan seperti Phoutthasone. Lebih lanjut Phoutashinh menuturkan perempuan berperan besar dalam pertanian karena lebih cakap, rapi, dan terampil dalam bekerja. Kesuksesan Noy mengembangkan sayuran bukan tanpa kendala. Masalah kerap muncul terutama pada musim hujan karena serangan hama dan penyakit relatif tinggi.

Kepercayaan
Dampaknya produksi dan pendapatan pun menurun. Untungnya saat kemarau, produksi bagus dan permintaan relatif terpenuhi. Kesuksesan Noy bertanam sayuran membawanya mengikuti acara Asean Learning Series 2017 mewakili Laos. Menurutnya, acara pada 25—26 Oktober 2017 di Jakarta itu sangat bermanfaat dan menambah wawasan baru seperti cara mengembangkan pemasaran dan membentuk gambaran komunitas atau organisasi petani muda.

Pasalnya tidak hanya 8 negara Asia Tenggara yang hadir. Dua orang pelaku pertanian muda asal Belgia mewakili Eropa pun meramaikan acara yang terselenggara berkat kerjasama Asean dan Uni Eropa itu. Menurut panitia acara dari Asean, Yacinta Esti, acara itu bertujuan mempertemukan 3 pelaku penting pertanian, yakni pemerintah, swasta, dan koperasi pelaku pertanian. Tema acara koperasi dan fokus kepada cara membuat koperasi pertanian yang menarik dan diminati pemuda.

Baca juga:  Nirwana Hingga Akhir Masa

Pascamengikuti acara rembug petani muda se-Asia Tenggara itu, Noy berharap pertanian di Laos makin berkembang. Selain itu ia berharap bisa menjadi inspirasi bagi anak muda dan perempuan lain agar berkecimpung di bidang pertanian. “Anak muda dan perempuan perlu diberi kepercayaan lebih di masyarakat sehingga bisa lebih berkembang dan mengoptimalkan kemampuannya,” kata perempuan kelahiran 12 Januari 1995 itu. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d