Kebun jeruk dekopon di kawasan agrowisata Bagus Agro Pelaga di Kabupaten Badung, Bali.

Kebun jeruk dekopon di kawasan agrowisata Bagus Agro Pelaga di Kabupaten Badung, Bali.

Agrowisata Bagus Agro Pelaga membudidayakan 1.000 pohon jeruk dekopon.

Setelah menempuh perjalanan selama 90 menit dari Kota Denpasar, Provinsi Bali, Trubus akhirnya tiba di kawasan agrowisata Bagus Agro Pelaga di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Udara di daerah berketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl) itu begitu sejuk. Pengelola agrowisata menyambut ramah dan mempersilakan para pengunjung beristirahat sejenak di halaman depan kantor pengelola.

Sambil beristirahat para pengunjung menikmati segarnya jus buah jambu biji merah sebagai minuman selamat datang. Pengelola lalu mempersilakan pengunjung untuk mengelilingi area kebun. Di depan kantor pengelola terhampar kebun jeruk dekopon yang berderet rapi. Untuk menuju kebun, terdapat jalan paving block sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Menurut Gusti Sumartana, manajer aktivitas Bagus Agro Pelaga, populasi jeruk dekopon di kebun itu mencapai 1.000 tanaman.

Buah jeruk dekopon tumbuh optimal, sekilogram terdiri atas 2—3 buah.

Buah jeruk dekopon tumbuh optimal, sekilogram terdiri atas 2—3 buah.

Terawat
Di kebun itu dekopon sangat terawat. Dedaunan tampak hijau dan segar. Pada beberapa pohon bergelayut berbuah. Sayangnya saat Trubus berkunjung pada awal Desember 2016 musim panen buah dekopon baru saja selesai. Buah yang tersisa sebagian besar masih pentil. Beberapa di antaranya ada yang bersemburat kuning, tapi belum bisa dipanen karena masih mengkal.

Menurut Sumartana produksi dekopon mencapai 20 kg per pohon per tahun. Ia menuturkan jumlah panen sejatinya bisa lebih banyak. Namun, pengelola menyeleksi buah agar ukuran optimal. Berkat seleksi bobot dekopon rata-rata sekilogram berisi 2—3 buah. Hasil panen dekopon itu tidak pernah sampai ke pasar swalayan karena selalu habis di kebun. “Setiap kali panen selalu habis dibeli pengunjung agrowisata,” ujar Sumartana. Padahal, harga jual dekopon tergolong premium, yakni mencapai Rp25.000—Rp30.000 per kg. Beberapa konsumen biasanya rutin menanyakan ketersediaan buah di kebun. “Jika tersedia mereka pesan dan datang langsung untuk membeli,” tambahnya. Sumartana menuturkan Bagus Agro Pelaga menanam jeruk dekopon pada 2011.

Baca juga:  Ubi Ungu Gempur Kanker

Ketika itu Bagus Sudibya, sang pemilik, memperoleh informasi tentang jeruk dekopon, jeruk asal Jepang yang berharga premium. Menurut peneliti jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropis (Balitjestro), Ir Arry Supriyanto MS, jeruk dekopon kemungkinan jeruk hasil persilangan dari ponkam Citrus reticulata dan jeruk manis Citrus sinensis. Ciri khas ponkam terlihat dari bentuk buah.

Hama lalat buah dan penyakit akibat bakteri serta cendawan masih menjadi ancaman.

Hama lalat buah dan penyakit akibat bakteri serta cendawan masih menjadi ancaman.

Sementara “darah” jeruk manis menitis pada daun dekopon. Syamsul Asinar Radjam, praktikus pertanian di Sukabumi, Jawa Barat, yang pernah berkunjung ke Jepang mengatakan bahwa dekopon hasil silangan jeruk kiyomi dan ponkam. Dekopon satu-satunya jeruk yang dipanen pada musim semi, yakni pada Februari saat musim jeruk di Negeri Sakura usai.

Asal Lembang
Bagus Sudibya mendatangkan langsung bibit tanaman anggota famili Rutaceae itu dari Jepang dan menanamnya di Bali. Namun, karena prosedurnya rumit, Sudibya akhirnya mendatangkan bibit dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di sana Rahmat memproduksi bibit dekopon hasil perbanyakan lima pohon induk yang sumber bibitnya berasal dari seorang kolega asal Jepang yang bekerja di The Organization for Industrial, Spiritual, and Cultural Advancement (OISCA) pada 2005. Pria 52 tahun itu lalu memperbanyak kelima bibit itu dengan cara okulasi menggunakan batang bawah jeruk lokal.

Sumartana menuturkan semula dekopon di Bagus Agro Pelaga dibudidayakan secara organik. Namun, teknik budidaya itu membuat pertumbuhan dekopon menjadi lambat. Meski berumur 3 tahun tanaman kerabat kemuning itu tak kunjung berbuah. Akhirnya pengelola menambahkan 250 g pupuk NPK per pohon. Ia juga memberikan 30 kg pupuk kandang yang telah terurai. Interval pemberian setiap 6 bulan. Pemberian pupuk hanya dua kali setahun karena dekopon juga mendapat pasokan nutrisi dari “sisa” nutrisi kacang tanah dan komoditas lain, seperti ubi jalar ungu yang ditanam di sela-sela dekopon.

Jeruk dekopon berbuah susul-menyusul. Setelah musim panen usai sudah keluar lagi pentil buah baru.

Jeruk dekopon berbuah susul-menyusul. Setelah musim panen usai sudah keluar lagi pentil buah baru.

Menurut Sumartana hama dan penyakit juga menjadi ancaman sehingga perlu bantuan penanganan secara anorganik. Hama lalat buah kerap menyerang sejak buah masih pentil. Padahal, untuk mengusir lalat Bactrocera sp pengelola menempatkan kenikir dalam polibag di beberapa bagian kebun. Aroma daun dan bunga Tagetes erecta diharapkan dapat membantu mengusir serangga hama. “Tapi itu tidak cukup sehingga perlu tambahan penyemprotan insektisida,” tuturnya. Iklim yang sejuk dan kerap terpapar kabut juga membuat tanaman rentan terkena serangan bakteri dan cendawan sehingga perlu penyemprotan bakterisida dan fungisida. Dengan berbagai perlakuan itu kini dekopon rajin berbuah dan berukuran optimal. (Imam Wiguna)

Baca juga:  Duduk Perkara Berubah Warna

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d