Peti Harta Karun Lengguru 1
Bentangan karst membentuk jejaring hingga ke bawah permukaan laut

Bentangan karst membentuk jejaring hingga ke bawah permukaan laut

Kapal Airaha 2 bercat putih itu membelah ombak yang terdorong angin musim timur. Tiga jam menjelang tengah malam, kapal sepanjang 30 m itu mencapai tujuan, pelabuhan Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Sebuah kapal kayu berukuran lebih kecil berada di depan Airaha 2 milik Akademi Perikanan Sorong itu. Kedua kapal itu mengangkut 29 peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain itu keduanya juga mengangkut kebutuhan logistik dan 2 perahu karet untuk ekspedisi selama 45 hari di perbukitan karst Lengguru, Kabupaten Kaimana. Perjalanan Airaha 2 dimulai pada Kamis 16 Oktober 2014 dari Pelabuhan Sorong, Papua Barat, selama dua hari dua malam menempuh jarak 580 km. Insiden matinya mesin mewarnai perjalanan itu. Untungnya setelah hampir 2 jam awak kapal berjibaku, mesin kembali meraung sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan.

Karang Gorgonian hidup di kedalaman 10 m di bawah permukaan air laut

Karang Gorgonian hidup di kedalaman 10 m di bawah permukaan air laut

Ibukota Kabupaten Kaimana itu wajib mereka singgahi untuk mengurus perizinan lantaran ekspedisi berlangsung di wilayah kabupaten itu. Total peneliti dalam rombongan itu 51 orang. Selain 29 orang yang berangkat dengan Airaha 2, sisanya mendahului dengan feri komersial yang menghubungkan Sorong dan Kaimana. Selama 45 hari mereka menjelajahi daerah yang jarang tersentuh manusia, bahkan penduduk asli Papua sekalipun.

Sebanyak 23 peneliti luar negeri dari Perancis, Spanyol, Peru, dan Kaledonia Baru, yang tergabung dalam Institute de Recherche pour le Developpement (IRD) berkolaborasi dengan 28 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tim ekspedisi terdiri atas ilmuwan dari 8 ilmu berbeda: botani, entomologi, herpetologi, ikhtiologi dan onkologi, karstologi dan hidrologi, mamalogi, biologi kelautan dan tim selam, serta ornitologi. Setiap grup keilmuan mengikuti rencana perjalanan yang disusun sebelumnya dan bertemu kembali di pangkalan penelitian beberapa hari kemudian.

Teripang, salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Papua Barat

Teripang, salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Papua Barat

Rombongan mengeksplorasi kawasan karst di Lengguru. Menurut Prof Gono Semiadi, periset di Pusat Penelitian Zoologi LIPI, karst di bagian selatan kepala burung Provinsi Papua Barat itu ibarat peti harta karun ilmu pengetahuan. Sampai sekarang saja belum ada catatan rinci tentang spesies hewan maupun tanaman di sana. Padahal luas kawasan itu hampir sebesar Sardinia, pulau terbesar kedua di Italia.

Kelompok peneliti perairan dan tim penyelam meneliti kehidupan di karst bawah laut

Kelompok peneliti perairan dan tim penyelam meneliti kehidupan di karst bawah laut

“Literatur geologi menyatakan kawasan Lengguru terbentuk 24-juta—5-juta tahun silam alias periode miosen,” ujar pemimpin kelompok peneliti mamalogi ekspedisi Lengguru itu. Lempeng Australia menyusup di bawah lempeng Pasifik, menyebabkan Lengguru perlahan terangkat ke permukaan laut. Saat itu Lengguru menghubungkan daratan utama Papua dengan area kepala burung, kepingan yang 30-juta tahun silam terlepas dari Australia dan perlahan bergeser ke utara.

“Jembatan” Lengguru menyebabkan terjadinya pertukaran jenis satwa. Di bagian timur, terbentuk jajaran pegunungan dengan puncak setinggi lebih dari 5.000 m yang memisahkan Papua besar secara membujur. Kedua lempeng itu terus saling tindih dan susup sampai muncul lipatan pegunungan dan lembah tertutup, yang menjadi ciri Lengguru sekarang. Lengguru yang terus terangkat beberapa cm setiap tahun itu lama-kelamaan menjadi penghalang yang membatasi penyebaran spesies antara area kepala burung dan daratan utama Papua serta di sisi lain antara wilayah utara dan selatan Guinea Baru.

Jenis lain karang Gorgonian

Jenis lain karang Gorgonian

“Didukung ketersediaan pakan berupa serangga, ikan, atau buah, terbentuklah banyak spesies satwa endemik yang masing-masing hanya menghuni area seluas beberapa puluh kilometer persegi,” kata Prof Dr Ani Mardiastuti, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Ani mencontohkan tingginya keragaman antarspesies burung cenderawasih. “Ada yang besar seperti cenderawasih merah Paradisea rubra, tapi ada juga yang mungil seperti cenderawasih kecil P. minor,” kata Ani.

Karst Lengguru tinggi keragaman hayati

Karst Lengguru tinggi keragaman hayati

Masing-masing spesies itu semula berasal dari spesies yang sama. Lantaran terhalang oleh pegunungan, mereka terjebak dalam kantong-kantong habitat sehingga masing-masing berdiferensiasi menjadi spesies yang sama sekali berbeda. Minimnya akses dan keterisolasian Papua menjadi berkah yang melestarikan kantong-kantong habitat itu dari kerusakan akibat ulah manusia.

Baca juga:  Cermat Pilih Bibit

Badan air Lengguru bermuara ke Laut Seram dengan kedalaman hingga 2.000 meter. Zona bawah air itu pun memiliki jejaring karst di bawah laut, yang terbentuk ketika terjadi regresi air laut. Jaringan karst itu berisi sejumlah besar tipe habitat seperti gua, jaringan sungai bawah laut, mata air bawah laut, ngarai, dan lembah fosil, danau laut pesisir, serta terumbu yang membentuk lereng.

Beberapa pantai di Kabupaten Kaimana menjadi tempat peneluran penyu hijau

Beberapa pantai di Kabupaten Kaimana menjadi tempat peneluran penyu hijau

Tim penyelam ekspedisi Lengguru mengakses kawasan yang belum pernah terjamah. Itu sebabnya dunia ilmu pengetahuan menganggap Lengguru sebagai “lemari pendingin”yang berisi banyak spesies berharga bagi ilmu pengetahuan. Sejatinya pada 1980, ahli fisiologi-ornitologi-geografi dari Universitas Kalifornia Los Angeles (UCLA), Jared Diamond, pernah mengidentifikasi burung di Lengguru.

“Namun, waktu itu dia hanya sampai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ia belum menyentuh burung yang habitatnya di atas ketinggian itu, gua-gua bawah tanah atau bawah laut dan kehidupan di dalamnya, juga spesies ikan air tawar dan laut,” kata Gono. Sebelum berangkat, tim ekspedisi menghubungi Jared secara intensif untuk memperoleh peta perjalanan dan jalur yang ia tempuh pada 1980. Informasi Jared membuat kerja tim ekspedisi Lengguru lebih terarah.

Kelelawar Pterocarpus neohibernicus, salah satu penghuni gua karst

Kelelawar Pterocarpus neohibernicus, salah satu penghuni gua karst

Ornitolog di Pusat Penelitian Zoologi LIPI, Hidayat Ashari, mengatakan, “Kami tinggal mengikuti jalur yang ada dan mengumpulkan spesimen. Tanpa itu, ekspedisi mesti mengirim tim pendahulu untuk mencari wilayah dengan keragaman tinggi.” Dari Kaimana, tim menuju Desa Lobo yang berjarak 6 jam perjalanan laut. Di sana mereka membuat pangkalan penelitian dan mulai berpencar.

Bukit-bukit karst di Lengguru yang menjulang hingga ketinggian 1.600 m di atas permukaan laut (m dpl) menyimpan ribuan jenis tanaman, serangga, araknida, mamalia, dan burung yang mungkin belum pernah teridentifikasi. Kondisi lingkungan bawah tanah yang tua dan stabil memungkinkan spesies relik yang telah punah di permukaan dapat bertahan. “Penemuan tempat seperti itu dapat menyambung mata rantai yang hilang dan memungkinkan kita memahami rekam jejak evolusi,” tutur Gono.

Searah jarum jam. Kalajengking, laba-laba, dan kalacemeti yang hidup dalam gua karst

Searah jarum jam. Kalajengking, laba-laba, dan kalacemeti yang hidup dalam gua karst

Di kawasan karst biasanya terbentuk sistem gua dan aliran air bawah tanah yang menjadi tempat bernaungnya spesies hipogean, seperti ikan buta atau kepiting buta. Adaptasi berabad-abad di kawasan bawah tanah yang gelap membuat penghuni gua tidak memiliki pigmen kulit. Ketiadaan cahaya membuat indera penglihatan makhluk gua tidak berkembang. “Sebagai gantinya mereka meningkatkan kemampuan peraba atau pendengaran, salah satunya dengan antena yang lebih panjang,” kata Prof Dr Yayuk Rahayuningsih Suhardjono, biospeleolog—ahli kehidupan dalam gua—di Pusat Penelitian Zoologi LIPI.

Baca juga:  Peluang Pasar Puyuh Pedaging

Di Desa Lobo tim entomologi yang dikomandani Dr Cahyo Rahmadi—taksonom spesialis Arachnida, periset di Pusat Penelitian Zoologi LIPI—dan kolega dari IRD mencari sampel serangga di lokasi sekitar desa sampai puncak pegunungan Lamansiere setinggi 685 m dpl. Untuk memperoleh serangga, mereka mengambil tanah dan menyimpan dalam kantong. Di pangkalan penelitian, mereka menempatkan tanah dalam saringan plastik—mirip tutup saji kecil—dan membiarkan tanah mengering perlahan.

Keragaman burung cenderawasih terbentuk akibat isolasi oleh karst penghalang

Keragaman burung cenderawasih terbentuk akibat isolasi oleh karst penghalang

Secara naluriah serangga merangkak ke bawah mencari kelembapan lalu tercebur ke dalam larutan pengawet. Selanjutnya periset tinggal mengangkat serangga itu untuk mengidentifikasi di LIPI Cibinong dengan bantuan kaca pembesar—beberapa jenis serangga kecil malah memerlukan mikroskop. “Memisahkan dari tanah sudah susah, identifikasinya pun rumit. Namun itulah pekerjaan peneliti,” tutur Yayuk.

Sungai menjadi tempat hidup ikan, serangga, moluska, sampai burung

Sungai menjadi tempat hidup ikan, serangga, moluska, sampai burung

Sementara itu Cahyo Rahmadi mendapatkan penemuan berharga, yaitu spesies kalacemeti (amblypygi) yang belum teridentifikasi. Makhluk berkaki 8 yang dalam bahasa Inggris disebut whipspider itu tergolong Arachnida alias kelas laba-laba. Sosoknya mirip ketonggeng, tetapi tidak memiliki cambuk di ujung belakang tubuhnya. Di balik penampilannya yang menyeramkan, kalacemeti tidak berbahaya bagi manusia. “Kecuali kalau tubuh anda seukuran jangkrik atau kecoak,” kata Cahyo.

Kalacemeti hidup di tempat gelap dan lembap seperti gua atau lantai hutan yang rapat dan memangsa serangga yang lewat di dekatnya. Meski berlangsung selama 45 hari (17 Oktober—20 November 2014), waktu efektif melakukan eksplorasi hanya sekitar 30 hari. Sisanya untuk mendirikan pangkalan penelitian, mengolah dan mengidentifikasi sampel dari lapangan, serta transportasi. Setelah 11 hari di Desa Lobo, tim kembali ke Kaimana untuk mengisi persediaan air tawar, menurunkan sampel.

Sungai bawah tanah menyimpan rekam jejak peristiwa geologis pembentukan permukaan

Sungai bawah tanah menyimpan rekam jejak peristiwa geologis pembentukan permukaan

Sementara Gono dan Dr Kadarusman—periset dari Akademi Perikanan Sorong—kembali menemui Bupati untuk melaporkan perkembangan. “Pemerintah daerah menitipkan misi pencarian tempat terbaik untuk pengembangan wisata alam seperti di Kabupaten Rajaampat. Itu sebabnya kami sering menemui Bupati,” tutur Gono. Sorenya kedua kapal bertolak ke Desa Wanoma di tepi Teluk Arguni yang terletak di utara ibukota Kabupaten Kaimana.

Di Teluk Arguni, keduanya berpisah. Airaha 2 membawa peneliti perairan ke Pulau Adi, sementara kapal kayu sewaan memboyong peneliti darat ke Desa Urisa. Peneliti darat mendirikan pangkalan di Urisa dan melakukan penelitian di sekitar desa selama 6 hari. Selanjutnya mereka kembali ke Kaimana lalu berlayar ke Pegunungan Kumawa, 85 km di barat daya ibukota Kaimana.

Bunga Clerodendron di Desa Lobo, Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Bunga Clerodendron di Desa Lobo, Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Tim darat mendirikan pangkalan di Kumawa dan mengeksplorasi pegunungan, sementara tim perairan menyelami pantai hingga kedalaman 30 m. Setelah 9 hari, mereka kembali ke Kaimana, bertemu Bupati, lalu kembali ke Sorong dan tiba di sana pada 22 November 2014. Totalnya ekspedisi Lengguru mengidentifikasi 37 spesies capung dengan 8 di antaranya endemik Papua, 100—150 spesies kerabat jangkrik—di antaranya ada 2 genus dan spesies baru, kalajengking, kalacemiti dan laba-laba, 30 amfibi, 50 reptil, dan 10 kandidat spesies baru.

Prof Dr Ani Mardiastuti: Keragaman burung cenderawasih akibat isolasi geologi

Prof Dr Ani Mardiastuti: Keragaman burung cenderawasih akibat isolasi geologi

Selain itu, ada 20 spesies kelelawar, 8 spesies rodensia,burung, serta 600 nomor koleksi palem, anggrek, jambu-jambuan, ara, talas-talasan, serta tanaman hias di antaranya Zingiberaceae.Tim perairan juga menemukan beragam temuan menarik, salah satunya spons laut berdiameter 80 cm. Menurut Laurent Pouyaud, tingginya keragaman hayati di wilayah yang terbilang sempit itu memerlukan perlindungan khusus dengan melibatkan masyarakat. Tujuannya tentu saja agar kekayaan hidupan alam itu mendatangkan kemakmuran bagi warga Kaimana. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *