Cemoohan datang bertubi-tubi saat Mukarom Salasa memutuskan kembali ke desa dengan status menganggur. Saat itu, pada 2008 ia baru meraih gelar sarjana Fisika Instrumentasi dari Universitas Brawijaya, Malang, Provinsi Jawa Timur. “Kalau bertani saja, lulusan sekolah dasar juga bisa. Tidak perlu susah-susah sekolah sampai sarjana,” ujar Mukarom menirukan cemoohan itu.

Mukarom tak patah arang. Hinaan itu justru melecut semangatnya untuk membuktikan pendidikan amat penting dalam pengembangan pertanian. “Saya yakin pendidikan tinggi pasti akan membantu kehidupan kita termasuk bertani,” ujar bungsu 3 bersaudara itu. Semula pemuda itu membantu sang ayah untuk mengembangkan kambing peranakan ettawa.

Rumput odot

Rumput odot memiliki potensi 200 ton pakan hijauan per hektare
Rumput odot memiliki potensi 200 ton pakan hijauan per hektare

Pada 2008 para pengusaha bermodal besar ikut terjun di bisnis kambing unggul itu. “Saat itu ada peternak yang memiliki 1.000 kambing,” ujarnya. Mukarom berpikir realistis, “Kalau saya tetap mengembangkan kambing pasti kalah dengan peternak bermodal besar,” ujar Mukarom.

Setelah memutar otak, sebuah ide muncul. “Kebutuhan utama kambing adalah pakan sehingga banyak peternak tergantung kepada konsentrat pabrikan. Padahal, harganya tinggi sehingga biaya pakan pun besar,” ujar pemuda kelahiran 16 September 1986 itu. Pilihan akhirnya jatuh kepada hijauan makanan ternak (HMT). Pemberian pakan hijauan dapat menekan biaya pembelian konsentrat untuk pakan.

Bibit setek rumput odot siap kirim ke berbagai daerah di seluruh Indonesia
Bibit setek rumput odot siap kirim ke berbagai daerah di seluruh Indonesia

Pucuk dicinta ulam tiba, seorang teman menawarinya untuk menanam rumput gajah Pennisetum purpureum asal Kanada. Rumput yang semula ditanam oleh Odot, peternak kambing ettawa di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu sohor dengan nama rumput odot. Berbekal pengetahuan, ia mulai menggali informasi melalui dunia maya dan peternak. Salah satu keunggulan rumput odot yang memikatnya adalah produktivitas tinggi, 200 ton per hektare.

Pada 2009-2010 Mukarom memulai budidaya rumput odot dengan menanam 20 bibit. Tiga bulan kemudian, Mukarom mulai menyebarkan bibit rumput itu ke peternak dan warga di sekitar desanya. “Mereka bersedia menanam karena rumput itu bisa menjadi pakan tambahan untuk ternak mereka sendiri,” kata pemuda pelopor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Mukarom mulai membagikan informasi mengenai rumput odot lewat laman daring (online) miliknya pada 2010.

Baca juga:  Pertemuan Petani dan Pembeli

Ia memberi nama kebunnya Lembah Gogoniti farm and nursery. Lembah Gogoniti adalah nama gunung yang lerengnya Mukarom tinggali. “Awalnya sekadar berbagi informasi tanpa niat menjual,” ujarnya. Namun, seorang petani dari Provinsi Bali langsung memesan bibit rumput itu. Sang pembeli meminta sekardus berisi 200 bibit berukuran sejengkal. Dari sanalah optimisme Mukarom bangkit.

Daun tarum

Kini setiap bulan ia mengirim 100.000-300.000 setek rumput odot ke berbagai daerah. Pada bulan-bulan tertentu, ketika ramai proyek di daerah, Mukarom bisa mengirim 500.000 bibit setek rumput odot per pekan.

Lamtoro genderuwo (kiri) berkarakter tak tumbuh bunga sehingga produksi daun lebih tinggi dibandingkan lamtoro biasa (kanan).
Lamtoro genderuwo (kiri) berkarakter tak tumbuh bunga sehingga produksi daun lebih tinggi dibandingkan lamtoro biasa (kanan).

Harga bibit Rp200-Rp500 per setek, tergantung jumlah pembelian. Mukarom tak pernah kekurangan stok lantaran bermitra dengan 30 petani dan warga di Blitar, Jawa Timur. Cita-citanya untuk memberdayakan warga sekitar pun tercapai. Para mitra sangat terbantu karena memperoleh pakan ternak sekaligus mendapatkan pemasukan tambahan dari penjualan bibit kepada Mukarom.

“Dari semua mitra itu jika dikumpulkan total lahannya 10-20 hektare dengan potensi produksi bibit 500.000—1.000.000 bibit per 2 bulan,” ujarnya. Pelanggan yang membeli bibit dari Mukarom tidak khawatir salah membudidayakan. Pasalnya, Mukarom menyertakan petunjuk cara tanam di kemasan. Selain rumput odot, Mukarom juga mengembangkan HMT lain seperti daun tarum Indigofera sp dan lamtoro Leucaena leucocephala.

Kandungan protein odot masih rendah sekitar 11%, sementara idealnya untuk ternak minimal 15%. “Protein indigofera mencapai 27% dan lamtoro 21%,” ujar Mukarom. Produktivitas tarum 2 kali lebih tinggi dibanding daun gamal yang kerap dijadikan pakan hijauan. “Indigofera berbatang lunak sehingga bisa dimakan semuanya oleh ternak,” kata Mukarom.

Penghargaan Penyuluh Pertanian Swadaya Tingkat Nasional, dari Menteri Pertanian diterima pada 19 Agustus 2015
Penghargaan Penyuluh Pertanian Swadaya Tingkat Nasional, dari Menteri Pertanian diterima pada 19 Agustus 2015

Kini ia tengah memenuhi permintaan dari Kutaikartanegara, Kalimantan Timur, sebanyak 100.000 polibag bibit tarum berumur 2 bulan. Selain itu Mukarom juga mengembangkan jenis lamtoro genderuwo yang tidak memproduksi buah sehingga fokus memproduksi daun. Lamtoro genderuwo juga tahan hama kutu loncat yang tak dimiliki lamtoro jenis biasa seperti lamtorogung.

Baca juga:  Dominggus Nones, Petani Pala Beromzet Rp 31,5 Miliar

Ia bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kotamadya Batu, Balai Besar Pelatihan Pertanian Malang, dan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas), semuanya di Jawa Timur.

Ia juga aktif mensosialisasikan pentingnya bertani kepada generasi muda melalui kunjungan ke sekolah-sekolah.

Pertanian adalah bisnis yang tidak akan mati sampai hari kiamat, karena sampai kapan pun manusia butuh makan Mukarom Salasa

ujar Peraih juara 1 Penyuluh Pertanian Swadaya Tingkat Nasional itu. Rumput tetangga lebih hijau? Bagi Mukarom rumput sendirilah yang lebih hijau.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d