Pesta Bonsai Formosa 1
Juniperus chinensis var sargentii dengan gaya jin dan shari  menjadi andalan pebonsai Taiwan.

Juniperus chinensis var sargentii dengan gaya jin dan shari menjadi andalan pebonsai Taiwan.

Sebanyak 400 peserta dari 58 negara berpartispasi pada pesta bonsai dunia di Taiwan.

Indonesia menjadi salah satu peserta yang diberi kesempatan untuk melakukan demonstrasi bonsai pada konvensi Bonsai Club International (BCI) dan The 14th Asia Pacific Bonsai and Viewing Sione Exhibition and Convention (ASPAC). Konvensi itu berlangsung di Taiwan pada 4—7 November 2017. Tampil dalam festival itu sebuah kebanggaan luar biasa. Maklum, event itu adalah acara spektakuler bagi pebonsai dunia. Dalam acara itu dua organisasi bonsai dunia yaitu Bonsai Club International (BCI) dan Asia Pacific Bonsai and Viewing Sione Exhibition and Convention (ASPAC) mengadakan konvensi secara bersamaan.

Bonsai Club International sebuah organisasi bonsai internasional terbesar di dunia. Organisasi itu mengadakan konvensi setiap tahun di salah satu negara anggota. Adapun ASPAC adalah sebuah konvensi bonsai dan suiseki yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Indonesia salah satu pelopor berdirinya ASPAC. Konvensi ASPAC perdana berlangsung di Bali pada 1992. Konvensi di Taiwan adalah yang ke-14.

Dalam konvensi akbar itu hadir 400 pebonsai dari 58 negara. Indonesia mengirimkan sekitar 19 pebonsai. Tidak hanya menjadi penikmat, perwakilan Indonesia juga menjadi demonstran bonsai bersama 18 demonstran dari negara lain, plus tiga pebonsai dari Taiwan. Peserta pameran bonsai pun membeludak. Total bonsai yang dipamerkan mencapai 500 tanaman. Karena tempat terbatas, panitia memamerkan bonsai di dua tempat, yaitu Chang Hua dan Tai Chung. Dalam acara itu juga disemarakkan pameran suiseki atau batu panorama.

Pesat

Perwakilan Indonesia dalam gelaran akbar pebonsai tingkat internasional di Taiwan.

Perwakilan Indonesia dalam gelaran akbar pebonsai tingkat internasional di Taiwan.

Taiwan salah satu negara yang perkembangan bonsainya begitu pesat. Taiwan berada di perbatasan antara daerah tropis dan subtropis. Kondisi itu memberi keuntungan bagi pebonsai untuk mengembangkan berbagai tanaman bahan bonsai yang berasal dari daerah masing-masing iklim. Contoh tanaman yang berasal dari iklim tropis seperti ficus, podocarpus, hibiscus, premna, maba, celtis, ulmus, casuarinas (cemara), dan pemphis (santigi). Adapun juniperus, pinus, piracanta, gardenia, zelkova, dan eurya berasal dari daerah subtropis.

Baca juga:  Semarak Merah Putih Petunia

Di Taiwan, tanaman kerdil itu umumnya dibuat oleh pebonsai profesional. Tak mengherankan jika kualitas bonsai Taiwan sangat tinggi, sangat matang, dan kaya dengan variasi bentuk. Mereka menanam bakal bonsai di tanah atau pot besar dengan proses step by stem sejak kecil. Sebagai contoh pada jenis cemara. Mereka mempersiapkan bakalan cemara sejak kecil dan dilakukan pemecahan, pembengkokan berkali-kali seolah tanaman itu terkena bencana angin topan berulang-ulang.

Hasilnya memberikan kesan tanaman dengan kulit pohon terkelupas, batang yang terpelintir, tapi tetap terlihat natural. Teknik itu kerap mengantarkan bonsai asal Negeri Formosa langganan juara pada berbagai kontes. Para pebonsai di tanah air harus mempelajari teknik itu untuk memperkaya bentuk bonsai. Andalan pebonsai Taiwan lain ialah juniper yang telah diolah menampilkan jin dan shari  yang amat menarik. Bonsai juniper asal Taiwan menjadi komoditas salah satu ekspor.

Bonsai Premna mycrophylla tampil apik dengan susunan daun menyerupai payung.

Bonsai Premna mycrophylla tampil apik dengan susunan daun menyerupai payung.

Gaya Tiongkok
Pinus juga menjadi andalan sebagai bahan bonsai. Yang terpopuper adalah red pine atau Pinus massoniana. Red pine tumbuh lebih lambat dari black pine. Pebonsai Taiwan biasanya mengimpor red pine dari Korea. Tanaman yang berasal dari daerah subtropis itu menghiasi salah satu lokasi pameran, yaitu Chen Mei Culture Park. Di taman itu tumbuh pohon-pohon tua nan langka. Menurut keterangan pemandu wisata, taman itu dibangun pada 1813 oleh seorang hakim setempat.

Bonsai yang menghiasi taman itu sebagian besar terpengaruh gaya estetika Tiongkok dengan ciri khas bentuk serba simetris. Itu berlawanan dengan gaya Jepang yang asimetris. Budaya kedua negara itu juga berpengaruh pada cara masyarakatnya menikmati keindahan bonsai. Gaya bonsai ala Tiongkok biasanya berukuran besar sehingga dapat dinikmati di sebagai elemen taman. Jepang tidak memiliki tradisi menikmati bonsai di taman. Mereka secara formal menampilkan bonsai sebagai penghias ruangan.

Baca juga:  Atasi Karat Putih

Konvensi itu memutuskan bahwa konvensi BCI selanjutnya akan berlangsung di Mulhouse, Perancis, sementara ASPAC 2019 berlangsung di Vietnam. Sebetulnya Indonesia berminat menjadi tuan rumah ASPAC pada 2019. Namun, pada tahun itu berlangsung pemilihan presiden. Indonesia akhirnya memutuskan bakal menjadi tuan rumah ASPAC pada 2021. Marilah kita beramai-ramai menghadiri ASPAC ke-15 di Vietnam sambil mengundang mereka di ASPAC 2021 di Indonesia. (Budi Sulistyo, praktisi bonsai, anggota Perkumpulan Pecinta Bonsai Indonesia dan Bonsai Club International)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *