Agrinesia 2016 mempertemukan para petani dengan pasar.

Stan hidroponik milik Kris Ermawan menjadi perhatian pengunjung.

Stan hidroponik milik Kris Ermawan menjadi perhatian pengunjung.

Pengunjung berkerumun di stan milik Kris Ermawan pada ajang Agricultural Network Indonesia (Agrinesia) 2016. Mereka tertarik dengan dua perangkat hidroponik yang dipamerkan. Di stan itu Kris memamerkan hidroponik nutrient film technique (NFT) yang dirancang vertikal. Pada perangkat pertama, Kris memasang pipa secara horizontal bertingkat.

Adapun pada perangkat lain, terdiri atas 5 pipa vertikal. Yang menarik kedua perangkat hidroponik itu dapat berputar secara otomatis. Menurut Kris perangkat hidroponik itu dapat berputar otomatis agar tanaman yang tumbuh memperoleh paparan sinar matahari merata. “Perangkat ini cocok diletakkan di halaman rumah yang tidak memperoleh sinar matahari penuh atau hanya mendapat sinar matahari dari satu sisi,” ujar Kris.

Temu bisnis

Suasana pameran pada ajang Agrinesia 2016.

Suasana pameran pada ajang Agrinesia 2016.

Dengan keunggulan itu, seorang perempuan pengunjung asal Kota Bogor, Jawa Barat, akhirnya membeli sepasang perangkat hidroponik rancangan Kris. Kris salah satu dari 50 peserta pameran pada ajang Agrinesia yang berlangsung di hotel bintang empat di Sanur, Provinsi Bali, 1—4 Desember 2016. Para produsen komoditas lain seperti beras merah, kakao, kopi, buah-buahan, herbal, pupuk organik, dan kelapa memeriahkan ekshibisi itu.

Pada Agrinesia 2016 itu tak hanya diisi dengan acara pameran. Perhelatan itu menjadi ajang temu bisnis yang mempertemukan para pelaku agribisnis dengan pasar atau buyers, seperti perusahaan pemasok komoditas pertanian, agroindustri, perusahaan retail, dan eksportir. “Hal itu sesuai dengan tema Agrinesia 2016, yaitu when farmers meet buyers,” ujar Ida Bagus Agung Gunarwatha, ketua Junior Chamber International (JCI) Farmers Club.

Gelar wicara bersama para buyers yang siap bekerja sama dengan para petani.

Gelar wicara bersama para buyers yang siap bekerja sama dengan para petani.

JCI menjadi penyelenggara Agrinesia 2016. Dalam kegiatan temu bisnis itu panitia menyediakan ruangan khusus untuk para pelaku agribisnis bernegosiasi dengan para pembeli. Menurut Gunarthawa Agrinesia lahir dari keprihatinan terhadap dunia pertanian tanahair. Ancaman krisis pangan akibat pemanasan global dan alih fungsi lahan pertanian seharusnya menempatkan dunia pertanian sebagai aspek ekonomi yang sangat strategis.

Baca juga:  Dilarang Pelihara Kukang

Namun, fakta justru sebaliknya. Dunia pertanian dianggap sebagai usaha yang tidak prospektif secara ekonomi bagi para petani. “Hal itu akibat kurang terintegrasinya sistem yang menghubungkan antara petani dengan pasar,” ujar Gunarthawa dalam konferensi pers pada 1 Desember 2016. Itulah sebabnya jumlah petani di tanahair terus berkurang. Dari jumlah petani yang tersisa hanya 12% yang berusia kurang dari 35 tahun.

Temu bisnis pada ajang Agrinesia 2016.

Temu bisnis pada ajang Agrinesia 2016.

Tokoh petani sukses, Wayan Supadno, menyampaikan keprihatinan serupa. Wayan menyayangkan hanya segelintir sarjana pertanian yang terjun dalam dunia pertanian. “Mereka seharusnya paling bertanggung jawab atas kemajuan pertanian di tanahair. Namun, mereka lebih suka menjadi pegawai bank, pegawai negeri sipil, dan perusahaan lain nonpertanian,” ujarnya. Kondisi itulah yang mendorong JCI Farmers Club yang bekerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk menyelenggarakan Agrinesia 2016.

Selain berupaya mempertemukan para petani dengan pasar, Gunarwatha juga berharap acara itu juga dapat membangkitkan semangat pemuda agar terjun di bidang pertanian. “Petani muda itu keren,” tegasnya. Menurut pemimpin BNI Kantor Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, AAG Agung Dharmawan, BNI menyambut baik kegiatan Agrinesia 2016.

Petani muda

Ida Bagus Agung Gunarwatha, ketua JCI Farmers Club, Agrinesia 2016 menjadi ajang bertemunya para petani dengan pasar.

Ida Bagus Agung Gunarwatha, ketua JCI Farmers Club, Agrinesia 2016 menjadi ajang bertemunya para petani dengan pasar.

“Kami berkomitmen untuk mendukung sektor pertanian dan industri kreatif. Kedua sektor itu paling tahan terhadap guncangan ekonomi,” ujarnya. BNI mendukung kegiatan bidang pertanian agar menjadi acara tahunan. “Kami tidak hanya hadir sebagai pemberi kredit, tapi juga akan lebih memfokuskan diri untuk membantu pemasaran produk-produk hasil pertanian. Dengan begitu petani tidak hanya menjadi petani, tapi juga bisa menjadi pengusaha pertanian,” tambahnya.

Baca juga:  Tumbuh Bersama Bank

Gunarwatha gembira temu bisnis membuahkan hasil. Pemilik CV Cipta Agri Pratama, Rio Erlangga, berhasil membukukan kerja sama Rp17,5-miliar berupa pengembangan budidaya pisang untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Arab Saudi. Dengan pencapaian nilai kerja sama sebesar itu Rio memperoleh penghargaan sebagai peraih nilai transaksi tertinggi pada ajang Agrinesia 2016.

Empat acara gelar wicara atau talk show juga memeriahkan Agrinesia 2016. Tema gelar wicara adalah pandangan pertanian Indonesia yang menghadirkan pembicara dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Acara gelar wicara lain adalah perkenalan dengan para pembeli, yaitu pelaku pariwisata, eksportir buah dan sayuran, perusahaan retail, dan perusahaan pemasok.

Para penerima penghargaan pada ajang Agrinesia 2016.

Para penerima penghargaan pada ajang Agrinesia 2016.

Yang tak kalah menarik adalah gelar wicara dengan para ahli bidang komunikasi pemasaran, digital ekonomi, dan pengolahan hasil pertanian. Agrinesia 2016 juga menjadi ajang pemaparan tentang visi pertanian Bali pada 2050 yang menghadirkan para calon gubernur Bali. Sebagai penutup acara Agrinesia 2016 juga memberikan penghargaan kepada para tokoh yang menjadi inspirasi bidang pertanian, yaitu Wayan Supadno sebagai inspirasi petani sukses, Rio Erlangga sebagai inspirasi petani muda sukses, dan Prof Wisnu Gardjito sebagai inspirasi inovator yang sukses melahirkan 1.600 produk turunan kelapa. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d