Warna kuning cerah dan rasa gurih keunggulan utama si jago

Warna kuning cerah dan rasa gurih keunggulan utama si jago

Dua avokad terbaik pemenang Lomba Buah Unggul Nasional.

Februari atau Maret bulan yang membahagiakan Mesiyat. Ketika itulah ratusan buah avokad di lahan Mesiyat meranum. Petani di Desa Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, rata-rata menuai 300 kg avokad dari dua pohon berumur 12 tahun. Mesiyat tak perlu repot memboyong Persea americana itu ke pasar. Pengepul datang ke lahannya dan membayar hingga Rp15.000 per kg.

Dengan perawatan yang baik, bobot buah mencapai 1,3 kg

Dengan perawatan yang baik, bobot buah mencapai 1,3 kg

Pengepul ringan kaki melangkah ke lahan lantaran avokad Mesiyat memang unggul. Bentuknya bulat di bagian bawah dan lancip di tangkai. Kulitnya mulus, mengilap. Apalagi jika terbelah, tampaklah daging buah kuning mentega yang membangkitkan selera. Dagingnya cukup tebal hingga 2 cm, bijinya berukuran sedang. Untuk menikmati avokad sijago itu tinggal menarik kulit persis mengupas buah pisang.

Jawara
Mengolahnya menjadi jus atau sekadar potong dadu lalu siram dengan susu kental manis, wuih… lezat nian! Ketika masuk dalam rongga mulut, dagingnya lembut berserat halus, gurih, dan manis. Aromanya khas avokad. Itulah sosok pemenang pertama kategori avokad pada Lomba Buah Unggul Nasional yang dihelat Majalah Pertanian Trubus. Para juri sepakat mendaulat sijago menjadi yang terbaik dikelasnya.

Mesiyat dengan avokadnya, si jago

Mesiyat dengan avokadnya, si jago

Sebelum menetapkan sebagai juara, Trubus memverifikasi pohon milik Mesiyat itu. Di sawahnya tumbuh dua pohon anggota famili Lauraceae itu. Pohon menjulang 10 meter penuh dengan buah. Jika tanpa aral, Mesiyat kembali menuai pada Maret 2015. Ukuran buah 735—996 gram per buah. Menurut Mesiyat beberapa avokad bahkan berbobot 1,3 kg per buah. Bagian buah yang dapat dikonsumsi mencapai 70—78%.

Baca juga:  Waspada Hama Persea

Mesiyat memperoleh bibit avokad si jago dari seorang kawan di Ponggok. Ia memperbanyak bibit dengan entres sebagai batang atas. Ia menyambung entres itu dengan batang bawah avokad lokal. Dua belas tahun silam, sejatinya ia menanam 13 bibit sijago. Sayang, angin kencang menyebabkan 10 bibit patah. Yang tersisa hanya tiga pohon. Dua pohon sangat produktif, sementara sebuah pohon produksinya relatif kecil, 100 kg per tahun.

Avokad milik Sugiman unggul dalam ketebalan daging

Avokad milik Sugiman unggul dalam ketebalan daging

Ia mengirimkan avokad dari kedua pohonnya itu ke panitia Lomba Buah Unggul Nasional. Di kelas avokad, terdapat 17 peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia seperti Semarang, Yogyakarta, dan Banten. Dengan seabrek keunggulan—bentuk menarik, bobot besar, citarasa legit, dan produktivitas tinggi—para juri memilih sijago jadi jagoan di kelasnya. Mesiyat kembali menanam 36 bibit si jago pada November 2014.

Karanganyar
Mesiyat memperbanyak sendiri bibit avokad setinggi 60 cm. Tanaman berhabitat asli di Meksiko dan Amerika Tengah ini dapat tumbuh baik di dataran rendah antara 162—500 meter di atas permukaan laut (m dpl). Si jago berbuah perdana pada umur 25 bulan dan menghasilkan 15 kg per tanaman ketika panen perdana. Menurut ayah tiga anak itu biaya produksi hanya Rp8.000,- per pohon setahun.

Pohon usia 12 tahun yang kini jadi indukan

Pohon usia 12 tahun yang kini jadi indukan

Avokad jawara lain datang dari Desa Mojorejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Keistimewaan avokad milik Sugiman itu berwarna daging kuning cerah, daging buah tebal, mencapai 2 cm, dan biji kecil. Rasanya gurih dan pulen. Diameter buah 8 cm dan panjang 16 cm, bobot rata-rata 612 g dengan lingkar buah 28 cm. Bagian buah yang dapat dimakan mencapai 77,5%. Sayangnya beberapa buah bentuknya membengkok.

Baca juga:  Biji Avokad Jaga Hati

Sugiman praktis tak merawat pohon avokad secara khusus. Ia hanya memberi 1 kg NPK dan 1 karung 30 kg pupuk kandang untuk sebuah pohon yang sebesar batang kelapa itu. “Varientasnyalah yang menjadikan avokad berkarakter buah istimewa,” ujar Hidayat, kerabat Sugiman. (Syah Angkasa/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d