Perlu Pangkas Jabon?

Perlu Pangkas Jabon? 1
Pemangkasan bisa mempercepat pertumbuhan jabon

Pemangkasan bisa mempercepat pertumbuhan jabon

Perlukah pemangkasan pada jabon?

Sejak jabon berumur 1,5 tahun setinggi 2 m, Enang Zainal rutin memangkas cabang-cabang pohon itu setiap bulan. Pekebun di Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, itu mengebunkan 167 jabon di lahan 2.000 m2.  Ia memangkas cabang terbawah yang mulai ternaungi ketika daun di atasnya sempurna membuka. Untuk menjangkau cabang yang semakin tinggi, ia menggunakan galah berujung sabit. Tujuan Enang memangkas semata untuk mempercepat pertumbuhan.

“Daun yang tidak terkena sinar matahari memboroskan nutrisi tapi tidak menghasilkan energi,” kata ayah 2 anak itu. Begitu cabang ternaungi dipangkas, aliran energi terkonsentrasi ke atas sehingga tunas daun lebih cepat terbentuk dan berfotosintesis, sehingga mempercepat pertumbuhan. Terbukti kini pohon berumur 3 tahun setinggi melebihi 5 m, lingkar batang 73 cm alias berdiameter sekitar 23 cm. Itu lebih besar ketimbang batang jabon tanpa pemangkasan, rata-rata 17—20 cm.

Irdika Mansur: Pastikan pemangkasan memberikan nilai tambah

Irdika Mansur: Pastikan pemangkasan memberikan nilai tambah

Daun menganggur

Sejatinya pemangkasan jabon bukan cuma mempercepat pertumbuhan. Menurut Manajer Produksi PT Baujeng Plywood Bernas, Artha Aryesta, pemangkasan jabon mengurangi peluang terbentuknya mata kayu di batang utama. PT Baujeng Plywood Bernas merupakan industri kayu lapis di Pasuruan, Jawa Timur.  “Mata kayu lebih keras ketimbang bagian lain di batang sehingga bisa merusak pisau mesin vinir alias pengupas. Jika dipaksakan, ada kemungkinan mata kayu lepas sehingga vinir berlubang,” kata Artha.

Benarkah pemangkasan memacu pertumbuhan? “Sejatinya jabon mempunyai mekanisme absisi alias menggugurkan daun dan bagian yang tidak produktif,” kata Dr Irdika Mansur MForSc, pakar Silvikultur di Lembaga Penelitian Tanaman Kehutanan SEAMEO Biotrop, Bogor. Namun, tidak semua daun di suatu tanaman mampu berfotosintesis. Di daun terjadi 2 proses: respirasi dan fotosintesis.

Respirasi memecah cadangan energi, sementara fotosintesis menghasilkan energi. Tanaman menyimpan energi fotosintesis dalam bentuk zat gula maupun selulosa. Simpanan itu yang dipakai untuk tumbuh, berbunga, dan berbuah. Menurut Irdika, ada 3 jenis daun berdasarkan umur: daun muda, produktif, dan tua. Dari ketiganya, hanya daun produktif yang aktif berfotosintesis dan memberikan energi untuk pertumbuhan tanaman.

Sisakan cabang 10—15 cm ketika memangkas agar tidak menjadi lubang masuk hama penyakit seperti pada pemangkasan sengon

Sisakan cabang 10—15 cm ketika memangkas agar tidak menjadi lubang masuk hama penyakit seperti pada pemangkasan sengon

Menurut pemulia tanaman kayu di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Dr Eko Bhakti Hardiyanto, daun yang tidak berfotosintesis menjadi “beban” pohon. Sebab, daun-daun itu tetap melakukan respirasi tanpa berfotosintesis. Ibarat orang yang tidak bekerja dan tetap harus makan. Padahal, energi yang dikonsumsi daun tua mestinya bisa digunakan untuk membentuk jaringan kayu di batang utama. “Ternaunginya daun tua memicu mekanisme absisi,” kata Eko.

Baca juga:  Racik Sendiri Pakan Ikan

Ahli patologi di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Dr Ir Sri Rahayu MP,  mengatakan bahwa absisi bisa terjadi karena dua sebab. Penyebab pertama, ketika bagian yang ternaungi menyerap cadangan energi lebih banyak ketimbang cadangan energi yang disalurkan. Itu hal yang terjadi di tanaman jabon, ketika daun produktif menaungi daun tua. Penyebab kedua, infeksi cendawan patogen yang menyebabkan kerusakan. “Tanaman akan memproduksi asam absisat di pangkal cabang untuk memutuskan bagian yang terserang cendawan agar tidak menyebar ke bagian lain,” kata Sri Rahayu.

Asam absisat menghambat aliran nutrisi sehingga bagian yang tidak memperoleh pasokan nutrisi mati dan membentuk jaringan kayu. Begitu jaringan kayu terbentuk, maka nutrisi ke ujung cabang terhenti seluruhnya. Ujung cabang dan daun-daunnya pun layu dan gugur dengan sendirinya. Itu sebabnya jabon disebut mempunyai kemampuan self-prunning alias mampu melakukan “pemangkasan sendiri” sehingga tidak perlu pemangkasan. Tidak seperti sengon yang memerlukan pemangkasan teratur agar tanaman tumbuh lurus.

 

Tanam rapat

Jadi perlukah memangkas jabon? Menurut Sri Rahayu, kelebihan pemangkasan adalah mempercepat pertumbuhan vertikal. Pasalnya, proses pergantian daun lebih cepat lantaran aliran nutrisi terfokus ke pertumbuhan tunas daun di pucuk batang. Namun, Irdika Mansur menyarankan pekebun untuk membandingkan kenaikan biaya perawatan untuk memangkas dengan nilai tambah yang diperoleh.

Harga kayu lapis tidak memperhitungkan corak permukaan vinir

Harga kayu lapis tidak memperhitungkan corak permukaan vinir

Apalagi menurut Priyono, manajer pengadaan PT Serayu Makmur Kayuindo, harga kayu di kebun hanya memperhitungkan kubikasi. PT Serayu Makmur Kayuindo produsen kayu lapis di Cirebon, Jawa Barat. Padahal pengalaman Artha Aryesta, bekas mata cabang justru meningkatkan keindahan kayu. “Setelah dikupas menjadi vinir, bekas mata cabang membentuk pola berulang mirip batik,” kata Artha. Pemasangan vinir berpola itu  keruan saja lebih sulit daripada vinir polos. Lagi pula, pasar tidak membedakan harga kayu lapis dengan permukaan berpola.

Baca juga:  Kicauan Dua Jawara

Menurut konsultan dan pembibit jabon di Kendal, Jawa Tengah, Ardha Primatopan, “Pemangkasan mempercepat pertumbuhan, tetapi pertumbuhan ke atas terlalu cepat sehingga batang menjadi lemah lantaran tinggi tidak sesuai diameter,” kata Ardha. Efeknya pohon mudah bengkok bahkan riskan patah ketika diterpa angin kencang atau hujan deras. Selain itu, bekas pangkasan akan menyisakan lubang yang menjadi jalan masuk cendawan dan hama.

Untuk mencegah kerusakan akibat sisa cabang, Irdika menyarankan pemangkasan sebaiknya menyisakan cabang sepanjang 10—15 cm, seperti memangkas sengon. Nantinya sisa cabang itu akan layu dan rontok dengan sendirinya. Dengan demikian batang utama tumbuh cepat tanpa risiko infeksi hama penyakit. Menurut Irdika, jabon yang perlu pemangkasan terutama pohon yang ditanam rapat berjarak kurang dari 3 m x 3 m. Akibat penanaman rapat, cabang saling menutup sehingga sinar matahari tidak sampai ke daun terbawah.

“Cabang yang ternaungi memang akan gugur sendiri, tetapi pemangkasan mempercepat proses itu,” kata doktor alumnus Universitas Kent, Inggris, itu. Jika jarak tanam longgar, 4 m x 4 m atau lebih, pemangkasan bisa lebih jarang atau bahkan tidak perlu dilakukan. Yang paling penting, pekebun harus memastikan bahwa pemangkasan memberikan keuntungan percepatan pertumbuhan maupun peningkatan kubikasi. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x