Kontes menjadi parameter burung berkualitas

Kontes menjadi parameter burung berkualitas

Perkutut kembali tren. Konkurs internasional se-Asia tenggara berlangsung di Surabaya. Para kampiun kontes itu dan keturunannya bakal laris di pasaran.

Relawan menyandang gelar prestisus pada 8 Juni 2014: perkutut terbaik se-Asia tenggara. Sebulan sebelumnya perkutut milik HR Ali Badri Zaini itu juga meraih, juara kedua kelas piyik di kontes Piala Walikota Surabaya. Prestasi gemilang itu bakal mengatrol pamor Relawan, bahkan keturunannya. “Biasanya harga perkutut akan naik begitu ia menang kontes. Keturunannya pun akan diincar para pehobi dan penangkar karena memiliki darah juara,” kata Ujang, penangkar perkutut sejak 1980-an di Yogyakarta.

Begitulah yang terjadi pada perkutut jawara lain milik Ali Badri. Sebut saja Kaisar, Irama Agung, Bulan Purnama, dan Rupawan yang keturnannya menjadi dambaan para pehobi. Kaisar jawara Liga Perkutut Indonesia (LPI) 2013. Sementara Irama Agung berturut-turut meraih gelar terbaik di kontes nasional Piala Kapolri di Bandung, Jawa Barat, dan Piala Asean di Surabaya, Jawa Timur pada 2014 pada kelas dewasa senior. Dengan segudang prestasi itu wajar jika banyak pehobi dan penangkar mengincar keturunan kedua perkutut itu.

Faktor genetik menentukan kualitas suara perkutut

Faktor genetik menentukan kualitas suara perkutut

Darah juara
Untuk mendapatkan keturunan perkutut jawara, para pehobi rela inden meski harga tinggi. “Anakan Kaisar berharga Rp50-juta dan sudah banyak yang inden,” kata Ali Badri. Ali Badri juga membanderol keturunan Rupawan dengan harga sama, anakan Bulan Purnama, Rp40-juta per ekor. Total pemilik Alib Bird Farm (BF) itu memiliki 41 kandang yang berisi induk berkualitas. Penangkar di Surabaya, Jawa Timur, itu rata-rata menjual seekor piyik di atas Rp10-juta.

Para pehobi juga mengincar keturunan Den Bagus milik Laksana Muda TNI purnawirawan Muryono di Depok, Jawa Barat. Maklum, Den Bagus beberapa kali merajai kontes. “Ia (Den Bagus, red) kerap meraih 5 pita hitam di kontes,” kata Muryono. Artinya, perkutut itu mendapat nilai hampir sempurna dari ke-5 juri, meliputi: suara depan, tengah, dan belakang, serta irama dan dasar suara.

Salah satu keturunan Den Bagus terbukti mewarisi trah juara. Sebut saja Oplosan yang dibeli oleh Terminal Bird Farm di Surabaya, Jawa Timur. Perkutut berumur 4,5 bulan itu langsung menggoreskan prestasi dengan meraih juara pertama di kontes perdana. Artinya, darah jawara induk sangat berpengaruh dalam menghasilkan keturunan berkualitas. Pehobi perkutut di Malang, Jawa Timur, Hery Sunarto Widodo, mengungkapkan dalam dunia perkutut faktor genetik memang sangat menentukan.

Djunaidy Soetanto, pemilik Cristal Bird Farm

Djunaidy Soetanto, pemilik Cristal Bird Farm

Bahkan, “Sekitar 90% kualitas perkutut dipengaruhi oleh faktor genetik,” kata Ali Badri. Maklum, perkutut berbeda dengan burung berkicau seperti cucakrawa, muraibatu, dan lovebird, yang suaranya bisa dibentuk. “Suara perkutut tidak bisa diisi,” ujar We We—sapaan Hery Sunarto Widodo. Oleh karena itu trah juara sangat berperan menghasilkan perkutut berkualitas. Menurut ahli burung di Universitas Padjadjaran, Prof Johan Iskandar MSc PhD, induk sangat mempengaruhi suara perkutut keturunannya. “Umumnya induk jantan yang menurunkan suara dan warna,” katanya.

Baca juga:  Kefir dan Kesehatan

Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam pembentukan suara. “Misal piyik tinggal dekat dengan induk sehingga bisa meniru suaranya,” ujar Johan. Menurut Dr Sri Sulandari, ahli genetika di Laboratorium Ornitologi Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), “Karakter suara bisa diturunkan oleh induk.” Namun, Sri belum mengetahui pasti persentase genetik yang menghasilkan karakter suara karena perlu penelitian lebih lanjut.

Perawatan mudah, biaya pakan muran, dan bagusnya irama suara menjadi daya tarik pehobi baru memelihara perkutut

Perawatan mudah, biaya pakan muran, dan bagusnya irama suara menjadi daya tarik pehobi baru memelihara perkutut

Hambatan
Terjun dalam bisnis perkutut bukan sekadar membeli induk jawara, menangkarkan, memperoleh piyik, lalu menjualnya. Beragam aral menghadang siapa pun yang menekuni perkutut. Fauzie Cokie L Tobing di Cijantung, Jakarta Timur, misalnya, pernah membeli puluhan perkutut sebagai indukan melalui media sosial. “Saya memang tidak melihat langsung, tapi kata penjualnya bagus sehingga saya beli. Namun, pada saat saya terima ternyata kualitas suara perkututnya tak seperti yang diinfokan awal,” ujar Cokie.

Harapan alumnus Teknik Perkapalan Universitas Indonesia itu tinggal harapan. Induk-induk itu gagal berbiak. Sudah begitu Cokie yang mempercayakan perawatan perkutut koleksinya pada orang khusus juga menghadapi aral lain. Lantaran salah perawatan, burung pun banyak yang sakit. Sulitnya menghasilkan anak berkualitas juga menjadi kendala. Slamet dari Igona BF di Pulogebang, Jakarta Timur, mengatakan memelihara perkutut itu gampang-gampang susah.

“Perawatan gampang, tetapi untuk mendapatkan burung bagus ada unsur untung-untungan. Sebab, kemungkinan mendapat anakan bagus 50% : 50%,” kata penangkar sejak 2003 itu. Oleh karena itu belum tentu burung bagus dengan harga puluhan juta rupiah menghasilkan anakan bagus. Demikian pula sebaliknya, induk murah belum tentu anakan yang dihasilkan buruk. “Jadi harus pandai-pandai memilih induk,” katanya.

Sertifikat berisi nama induk sangat penting dalam penangkaran

Sertifikat berisi nama induk sangat penting dalam penangkaran

Makanya silsilah dalam perkutut sangat penting. “Biasanya kalau beli piyik akan diberikan sertifikat yang berisi mengenai nama induk jantan dan betina,” kata Cokie. Dengan begitu memudahkan penangkar menelusuri asal-usul perkutut. Bisa jadi induk yang dibeli merupakan produk apkir, tapi akan menghasilkan keturunan juara lantaran kakeknya atau buyutnya merupakan jawara kontes.

Pemain baru
Jika beragam aral itu terlewati, ada saja permintaan perkutut. Sampai saat ini pasar lokal mampu menyerap produksi piyik yang mutunya beragam. Kemampuan itu antara lain karena kian banyak penggemar baru dan penangkar bertambah. Menurut Djunaidy Soetanto, pemilik Cristal BF, bisnis perkutut mengalami peningkatan setiap tahun. “Pada 2013 penjualan meningkat sekitar 10% dibandingkan 2012,” kata Djunaidy yang menghasilkan 40—50 piyik per bulan dari 62 induk.

Baca juga:  Kopi Tepal: Kelezatan dari Puncak Ngeres

Namun, dari karakter suara burung ada pergeseraan tren. Pehobi mencari perkutut bervolume suara besar dan irama bagus. “Yang sudah ada di Indonesia suara kecil dengan melodi bagus,” katanya. Oleh karena itu penangkar pun mendatangkan induk dari Thailand untuk disilangkan dengan perkutut di tanahair. Harapannya, dihasilkan perkutut berkarakter suara besar dan iramanya juga bagus. “Irama bagus itu seperti Broery Pesolima atau Rhoma Irama sedang menyanyi,” kata Ali Badri menganalogikan.

Para pehobi yang sempat berhenti kini juga kembali menggeluti kembali perkutut. Budi Andre di Cilacap, Jawa Tengah, misalnya, menekuni perkutut pertama kali pada 2004 dengan 2 kandang. Ia akhirnya berhenti menekuni satwa klangenannya itu karena kerap ke luar kota dalam jangka waktu lama. “Karena tak ada yang rawat perkutut,” ujar Budi. Pada 2011 Budi kembali aktif menangkarkan Geopelia striata. Kini ia memiliki 15 kandang, masing-masing berukuran 60 cm x 90 cm x 90 cm.

Fauzi Cokie L Tobing, pehobi baru perkutut

Fauzi Cokie L Tobing, pehobi baru perkutut

Sejak menangkarkan Andre tidak pernah kesulitan menjual piyik. Andre menjual anakan agak bagus Rp500.000, piyik apkir terjual secara borongan ke pasar burung. Harganya Rp50.000 per ekor. Maklum, dalam setiap penangkaran tidak melulu menghasilkan piyik bagus. “Paling dari 100 anakan hanya satu yang bagus,” ujar We We. Wajar jika piyik berkualitas berharga tinggi.

Selain pehobi lama yang aktif kembali, pemain baru pun banyak bermunculan. Sebut saja Fauzie Cokie L Tobing di Cijantung, Jakarta Timur, yang serius memelihara perkutut pada pertengahan 2012. “Saya menyukai perkutut karena perawatan mudah, murah, dan suaranya bagus,” kata Cokie. Ia memberikan pakan berupa campuran milet putih, jawawut, ketan hitam, dan gabah. “Total biaya pakan perkutut untuk 2 bulan hanya Rp15.000 per ekor,” katanya.

Ia pun cukup memberikan pakan setiap pekan. “Saya tidak perlu khawatir jika harus tugas keluar kota,” katanya. Perawatan mudah dan suara yang bagus juga memikat Aditya Nugraha Widodo di Malang, Jawa Timur, untuk memelihara perkutut. Sejatinya, Aditya tertarik perkutut sejak 2007—2008. Namun, kewajiban menyelesaikan kuliahnya di jurusan Bisnis Manajemen di sebuah universitas di Amerika Serikat, membuatnya urung merawatnya.

Hasrat memiliki burung anggota famili Columbidae itu baru terwujud pada 2013. Dengan dukungan keluarga, kini Titi—sapaan Aditya—serius menangkarkan perkutut di bawah bendera ALF bird farm. Total jenderal ALF BF memiliki 90 kandang. Ia membiakkan perkutut-perkutut itu untuk menghasilkan keturunan berkualitas seperti dambaan para pehobi. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Bondan Setiawan, Riefza Vebriansyah, Rizky Fadhilah, dan Syah Angkasa)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d