Perekam suara walet solusi tingkatkan produksi sarang.

Alat perekam suara walet ciptaan Harry Wijaya membuka peluang peternak mendapatkan komposisi yang tepat untuk berbagai keperluan.

Alat perekam suara walet ciptaan Harry Wijaya membuka peluang peternak mendapatkan komposisi yang tepat untuk berbagai keperluan.

Zainal tersenyum saat memandangi rumah waletnya. Perangkat tatasuara mulai memperdengarkan rekaman suara walet. Peternak walet di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, itu berharap kawanan walet segera ramai masuk dan bersarang di bangunan miliknya. Dua bulan berlalu, Zainal waswas karena harapannya belum terwujud. Burung-burung memang mulai terbang di sekitar lubang angin bangunan, tetapi yang “menginap” sedikit.

“Jumlahnya hanya ratusan. Padahal, di media daring dengan rekaman suara itu bakalan dapat memancing walet untuk menetap dan bersarang hingga ribuan ekor,” ujarnya. Harap mafhum, Zainal mendapatkan rekaman suara burung itu melalui file audio unduhan via daring secara gratis. Setelah 5 bulan, burung yang bersarang tetap sedikit sehingga produksi sarang pun masih rendah, yakni 1 kg.

Suara original
Peternak walet dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Juharno, mengalami hal serupa. Juharno merekam sendiri suara-suara burung yang ada di dalam rumah walet. “Ide itu saya terapkan dengan tujuan supaya mendapatkan suara yang asli, berasal dari burung asli dan berada di tempat yang sama,” ujar Juharno. Hasil rekaman itu kemudian melalui proses editing untuk mendapatkan suara yang jernih dan berpotensi mampu memikat burung.

Mikrofon dalam ukuran beragam dengan tujuan perekaman suara yang berlainan.

Mikrofon dalam ukuran beragam dengan tujuan perekaman suara yang berlainan.

Alih-alih meningkatkan populasi walet, jumlah burung tetap sedikit. Produksi sarang juga rendah hanya sekitar 1,5 kg dalam panen tiap 2 bulan sekali. Celakanya populasi burung pada setiap musim kemarau berkurang. Kendala kedua peternak walet itu mulai teratasi setelah menjalin komunikasi dengan Harry Wijaya, konsultan walet dari Jakarta. Harry mengatakan, kasus semacam itu lazim dialami oleh peternak walet di seluruh tanah air.

Baca juga:  Berkah Ruminansia

Selama ini pebisnis walet sulit memecahkan permasalahan itu lantaran belum menemukan penyebab utamanya. Harry mengamati suara walet selama bertahun-tahun. Inti masalahnya adalah suara walet itu unik, yaitu kicauannya berbeda pada satu daerah dengan daerah lain. Itulah sebabnya pebisnis walet sering gagal memanggil burung dengan suara yang sudah beredar luas di dunia maya.

Pencipta alat perekam, Harry Wijaya.

Pencipta alat perekam, Harry Wijaya.

“Hal yang dilakukan oleh Juharno adalah sebuah ide dasar yang sama dengan saya, tetapi perlu pengamatan lanjutan. Itulah yang saya lakukan sehingga menemukan akar masalah,” ujarnya. Ia juga menemukan fakta bahwa suara burung berlainan tergantung aktivitasnya. “Suara koloni walet saat terbang dalam ruangan, berbeda dengan saat walet memanggil kawanannya untuk mendekat karena menemukan sumber pakan, dan termasuk saat kawin,” ujar Harry.

Sepuluh menit

Harry lalu menciptakan alat perekam yang dapat digunakan untuk menangkap suara yang berbeda-beda itu. Prinsip kerjanya sejatinya relatif sederhana, yaitu menitikberatkan pada pemanfaatan berbagai jenis mikrofon, perekam digital dengan output berupa file audio, dan kejelian pengguna dalam membuat komposisi suara yang tepat. Jenis mikrofon besar digunakan untuk merekam riuhnya suara koloni walet yang sedang terbang dalam ruangan.

Suara walet asli yang dihasilkan melalui alat itu dapat meningkatkan populasi burug secara pesat.

Suara walet asli yang dihasilkan melalui alat itu dapat meningkatkan populasi burug secara pesat.

Untuk merekam suara yang lebih lembut, misalnya suara burung di sekitar sarang, menggunakan mikrofon berukuran kecil. “Semakin besar alat penangkap bunyi itu, maka semakin peka dan tidak memerlukan jarak yang dekat dengan sumber suara. Mikrofon yang kecil juga membuat burung tidak terganggu karena tidak merasa ada benda asing di sekitarnya,” kata Harry.

Kini ia masih menggunakan bantuan kabel sebagai penghubung dan menggunakan sebuah konektor yang memudahkan saat mengganti kabel berujung mikrofon yang satu jenis dengan lainnya. Kebutuhan alat perekam dalam bangunan dapat beragam. Semakin banyak alat itu dan penempatan yang tersebar, maka proses perekaman semakin cepat Namun, istimewanya, alat perekam itu tidak memerlukan daya listrik, karena dipenuhi dari perekam digital.

Baca juga:  Dua Lemon Anyar

Proses perekaman disesuaikan dengan kondisi dan keperluan. Harry mengatakan, waktu ideal untuk merekam pada malam hari karena gangguan suara kegiatan manusia di sekitar bangunan relatif kecil. Durasi perekaman suara walet di satu lokasi sekitar 10 menit. Kemudian lanjutkan dengan perekaman di lokasi lain. Hasil akhir dari alat perekam itu adalah file audio siap edit menggunakan program editor suara yang banyak pilihannya untuk komputer.

Kabel bermanfaat sebagai alat penghubung antara alat perekam dengan lokasi penempatan mikrofon.

Kabel bermanfaat sebagai alat penghubung antara alat perekam dengan lokasi penempatan mikrofon.

Pengguna alat itu harus memilah-milah hasil rekaman suara sebelum digabung dalam sebuah komposisi. Setelah komposisi tersusun, langkah selanjutnya pengujian reaksi burung. Jika reaksi burung sesuai dengan yang diinginkan, misalnya dapat memanggil burung untuk bersarang di tempat, maka uji coba itu dianggap berhasil. “Keseriusan dan ketekunan dari pengguna alat itu berbuah manis, yaitu komposisi tepat untuk burung di sebuah wilayah tertentu untuk berbagai keperluan,” kata Harry.

Itu berarti sebuah peluang bisnis, kalau peternak walet bermaksud untuk menjual komposisi itu ke petani lain di wilayahnya. Kini Zainal dan Juharno menikmati peningkatan hasil produksi sarang berkat bantuan suara hasil perekaman Harry menggunakan alat barunya itu. Juharno mengatakan produksi melonjak dari 1,5 kg sekali panen menjadi 5 kg. Zainal merasakan waktu memanggil burung walet untuk datang bersarang yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya, yaitu dari 6 bulan menjadi sekitar 2 bulan. (Muhammad Herawan Nugroho).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d