Perda Sari Dewi budidayakan sayuran hidroponik bertingkat sejak medio 2014

Perda Sari Dewi budidayakan sayuran hidroponik bertingkat sejak medio 2014

Pendapatan tambahan dari halaman rumah dengan berkebun sayuran hidroponik bertingkat.

Perda Sari Dewi membayangkan menyusuri sepanjang Jalan Malioboro atau belanja batik pada liburan akhir tahun. Ia mempersiapkannya jauh-jauh hari dengan mengajukan cuti selama tujuh hari. Sayang, mencari tiket pesawat Palembang—Yogyakarta—Palembang bukan perkara mudah pada musim liburan. “Saya tidak dapat tiket pesawat. Padahal saya sudah ambil cuti seminggu,” kata karyawati sebuah perusahaan swasta di Palembang, Sumatera Selatan, itu.

Untuk mengobati kekecewaaannya, Perda pun berselancar di dunia maya. Ia mendapat informasi tentang budidaya sayuran hidroponik. Itulah awal Perda jatuh hati pada teknologi budidaya sayuran tanpa tanah. Kini, setahun sejak gagal berlibur ke Yogyakarta, Perda rutin mengirim sayuran hidroponik berlabel Palembang Green Corner ke pasar swalayan di Kota Pempek. Saat ini, “Saya rutin memasok 10—15 kg sayuran per 2 hari ke-3 pasar swalayan yaitu Carrefour, Giant, dan Diamond,” kata Perda.

Memiliki 5 instalasi hidroponik bertingkat dengan total 3.300 lubang tanam

Memiliki 5 instalasi hidroponik bertingkat dengan total 3.300 lubang tanam

Pasar swalayan
Perda memang menjadi petani sayuran hidroponik pascagagal berlibur. Perempuan kelahiran Palembang 28 Pebruari 1978 itu membudidayakan beragam sayuran seperti salada, kangkung, caisim, dan pakcoy dengan teknologi hidroponik bertingkat. Ia memanfaatkan halaman rumah sebagai lokasi budidaya sayuran hidroponik bertingkat. Di atas lahan 370 m2, Perda dan suami, Adie Alqodri, membuat 3 instalasi sayuran hidroponik bertingkat sistem nutrient film technique (NFT) pada medio 2014.

“Hidroponik bertingkat dipilih karena halaman rumah kami sempit, dengan bertingkat produksi bisa lebih banyak karena lubang tanam kan banyak, dan dari segi estetika hidroponik bertingkat itu indah dipandang,” kata Adie. Tiga instalasi itu berbentuk segitiga dengan masing-masing jarak antarkaki 1,5 m dan panjang pipa 12 m. “Pipa dibuat 5 tingkat kanan-kiri dan 1 pipa di tengah atas. Jadi total ada 11 pipa per instalasi,” kata Adie.

Baca juga:  Jaring Peneduh

Total 3 instalasi berbiaya Rp15-juta itu memiliki 2.000 lubang tanam. Dari instalasi itu Perda rutin panen 200 kg sayuran. Dari sumber itu 150 kg masuk ke pasar modern dan sisanya dijajakan ke pasar tradisional. Total biaya operasional 3 instalasi hidroponik itu Rp1-juta per siklus tanam sekitar 30 hari. Untuk buka pasar modern, “Kami menemui manajemen pasar swalayan dengan membawa sampel sayuran hidroponik,” kata Adie.

Awalnya menanam sayuran hidroponik di 30 boks stirofoam

Awalnya menanam sayuran hidroponik di 30 boks stirofoam

Beruntung pasar swalayan di Palembang itu sedang mencari pemasok lokal sayuran hidroponik. Maklum, selama ini, “Banyak sayuran di Palembang berasal dari daerah lain, bahkan dari provinsi lain,” kata Perda. Perda merupakan pioner pemasok sayuran hidroponik lokal ke pasar modern di Palembang. Padahal, semula ia dan suami memasarkan sayuran ke pasar tradisional.

“Ketika itu saya bawa semua hasil panen sayuran ke pasar. Saya tawarkan kepada satu per satu pedagang sayuran di sana. Mereka banyak yang mau tapi harga yang ditawarkan rendah,” kata Adie. Untuk pasar modern Perda mengemas sayuran dalam plastik transparan. Satu kemasan berbobot 250 gram berisi 2—3 tanaman. Harganya, Rp20.000—Rp25.000 per kg. Artinya, Perda meraih omzet minimal Rp200.000 per hari setara Rp3-juta per bulan.

Terjun sendiri
Meski berhasil menembus pasar modern, Perda dan Adie tetap tidak melupakan pasar tradisional. “Kami tetap menjual sayuran hidroponik ke pasar tradisional karena pasar pertama kami. Lagi pula sayuran yang tidak masuk ke pasar modern masih bisa dijual ke pasar tradisional,” kata Adie.

Pasar modern menghendaki sayuran hidroponik yang mulus, tanpa gerekan serangga, dan berukuran seragam. Perda memasarkan sayuran yang tidak memenuhi standar kualitas itu ke pasar tradisional. Menurut Adie Alqodri pedagang di pasar tradisional belum membedakan sayuran hidroponik dan konvensional. “Mereka hanya melihat penampilan sayuran. Kalau segar dan bagus sayuran dibeli dengan harga sedikit lebih mahal dibandingkan rata-rata. Spesifikasi lain seperti bobot dan ukuran sayuran tidak mereka perhitungkan,” kata Adie.

Baca juga:  Standar Mutu Sayuran Hidroponik

Oleh karena itu harga jual sayuran hidroponik di pasar tradisional pun lebih rendah dibandingkan pasar modern. Perda menjual caisim dan kangkung Rp7.000—8.000 per kg di pasar tradisional. Sementara harga kangkung di pasar modern Rp14.000 per kg. “Meski harga jual di pasar tradisional lebih rendah 2 kali lipat dari pasar modern, tapi masih menguntungkan,” katanya.

Perda bersama manajer Carrefour di Palembang mengapit displai sayuran hidroponik

Perda bersama manajer Carrefour di Palembang mengapit displai sayuran hidroponik

Perda menjual 6 kg sayuran ke pasar tradisional per 2 hari. Artinya Perda memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp675.000 per bulan. Jika omzet penjualan sayuran di kedua pasar dijumlah, pendapatan alumnus Universitas Sriwijaya itu setiap bulan Rp3,6-juta. Omzet itu bakal kian besar karena permintaan juga terus meningkat.

“Permintaan tinggi, 2 kali lipat dari kapasitas produksi sekarang,” kata Perda. Oleh karena itu ia pun membangun 2 instalasi hidroponik bertingkat baru. “Dengan begitu ada penambahan produksi sekitar 120 kg di bulan depan,” ujarnya.

Perawatan sayuran hidroponik masih mereka tangani sendiri. “Tidak terlalu repot kok. Biasanya selepas salat Subuh saya mengecek kondisi nutrisi dan sayuran. Paling setengah jam sudah beres,” kata Adie. Karena panen setiap hari, penyemaian benih pun dilakukan setiap hari. “Semai setiap hari sambil nonton televisi. Dilakukan berdua saja dengan istri jadi suasana rumah tangga kian akrab dan kompak,” kata Adie. Itu buah dari “kekecewaan” akibat gagal berlibur pada Desember 2013. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d