durian lezat di sumatera barat

Kedai-kedai penjual durian itu berderet-deret di tepi jalan di daerah Sungai Tarab, Kabupaten Tanahdatar, Provinsi Sumatera Barat. Sebuah papan nama bertuliskan “durian tembago” terpampang jelas di sebuah lapak.

Durian tembaga: durian lezat di sumatera barat

Konon durian tembaga durian tersohor di kawasan itu. Pemilik kedai, Rahman, cekatan membuka buah tanaman anggota famili Malvaceae itu.

Begitu buah terbuka, tampak daging buah berwarna kuning pekat laksana tembaga. Kami pun melahap satu per satu pongge tembaga.

durian tembaga
Durian tembaga, daging kering, manis, legit, dan pulen

“Warnanya menarik, kuning pekat. Dagingnya juga tebal dan berbiji tipis. Namun yang paling dicari adalah rasa. Durian tembaga ini rasanya manis, gurih, pulen, dan ada sedikit pahit. Istimewa!” tutur peneliti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Dr. Panca Jarot Santoso, S.P., M.Si.

Durian tembaga berukuran kecil

Panca menuturkan, di Pulau Sumatera durian tembaga sebenarnya banyak sekali. Asalkan daging buah berwarna kuning kental pekat, pasti diberi nama tembaga. Namun, keistimewaan durian milik Rahman berukuran kecil, yakni hanya berbobot 1,5-2 kg per buah.

“Konsumen lebih suka dengan durian berukuran seperti itu,” jelas Panca. Itu lantaran sekali konsumsi durian bakal habis tak tersisa.

Pohon durian tembaga berumur 200 tahun

Menurut Rahman durian tembaga itu berasal dari pohon durian miliknya yang tumbuh di belakang rumah. “Umurnya lebih dari 200 tahun,” katanya. Karena penasaran, Panca pun meminta Rahman untuk mengantarnya ke lokasi pohon.

Baca juga:  Menanam Cabe Besar Atau Cabe Rawit? Ini Cara Menanam dan Tipsnya!
makan durian
Makan durian di Kampung Jariangau

Pohon tembaga milik Rahman berukuran besar, tiga pelukan orang dewasa, dan tinggi lebih dari 30 m. “Pohon durian varietas bagus biasanya berukuran besar,” kata Panca.

Panca menuturkan hal itu menandakan dulu di sekitar pohon itu banyak pohon durian, tapi yang lainnya sudah ditebang dan yang tersisa hanya yang bagus-bagus. Keistimewaan lain, durian tembaga milik Rahman itu juga sangat produktif.

“Dalam satu musim bisa berbuah hingga 2.000 buah,” ujar Rahman. Di dekat pohon durian tembaga, berdiri tegak pohon durian berukuran sama besar dengan tembaga.

Rasa dari buah durian tembaga

“Itu pohon durian pandan, ini buahnya” kata Rahman seraya menyodorkan buah tanaman kerabat kapuk randu itu. Setelah buah terbuka, aroma pandan nan pekat langsung menguar.

Saat mencicipnya daging buah terasa manis, creamy, dan seperti meleleh di mulut. “Ini harganya Rp20.000 per buah (th 2017). Kalau membeli banyak, harganya bisa kurang,” ujar Rahman.

Durian pandan

Menurut Rahman jika sedang musim buah, banyak pelanggan yang memesan durian pandan. Ia juga rutin mengirim daging buah durian pandan. Mula-mula ia mengupas buah kemudian mengemas daging buah dalam kotak plastik ke Jakarta setiap pekan.

“Jadi saya tidak pernah jual buahnya ke pasar,” kata Rahman. Menurut Panca begitulah kondisi durian di tanah air. Jumlah durian bagus terbatas dan tidak dikembangkan dalam jumlah besar.

rahman memegang durian pandan
Rahman memegang durian pandan (kanan) dan durian tembaga

Tahun ini panen, belum tentu tahun depan ada. Berbeda dengan durian di Malaysia dan Thailand yang selalu tersedia.

“Durian kita masih tersebar di hutan atau di kebun dengan luas total sekitar 70.000 hektare. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, produksi durian kita sangat kecil,” papar Panca.

Baca juga:  Cara Agar Tanaman Buah Melon Bebas Fusarium

Di Thailand, jumlah penduduk hanya 60 juta jiwa, sedangkan luas kebun durian mencapai 150 ribu hektare dan berskala perkebunan. Pantas bila Negeri Gajah Putih merajai pasar durian dunia.

Lokasi untuk berburu durian lezat di sumatera barat

Jika ingin berburu durian lezat di Sumatera Barat, dapat juga berkunjung ke Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam. Informasi itu diperoleh dari Anto saat bertemu di sebuah kedai kopi. Ia mengabarkan di daerahnya banyak sekali pohon durian.

panen dan menikmati durian jatuhan
Panen dan menikmati durian jatuhan

“Setiap hari sekitar 3.000 durian dipanen dari kampung saya,” kata Anto. Ia lalu mengajak penulis ke salah satu parak atau kebun durian menggunakan sepeda motor.

Selama perjalanan mudah sekali menjumpai pohon durian berukuran besar dengan tinggi hingga 30 m dan berdiameter batang dua pelukan orang dewasa.

“Satu pohon itu bisa menghasilkan sekitar 2.500 buah,” ujar Anto. Sesampainya di kebun, tiba-tiba terdengar suara “buk”. Tanpa menghiraukan berada di bawah ratusan buah durian yang bisa jatuh kapan saja, saya pun berlari menuju sumber suara.

Di sana tergeletak buah durian berkulit cokelat berbalut serasah daun yang menempel akibat tertimpa buah. Anto lalu membawa durian jatuhan itu ke gubuk, lalu membelahnya.

Begitu terbelah tampak daging buah berwarna kuning langsat. Saat disantap daging buah terasa seperti lumer di mulut. Tekstur daging buah terasa pulen dengan rasa manis kombinasi pahit. Rasanya yang lezat membuat ketiga juring durian jatuhan itu langsung tandas dalam lima menit.

Berburu durian lezat pada dini hari

Anto pun mengajak saya berburu durian ke parak pada dini hari. Namun, kali ini yang menemani saudaranya, yaitu Saleh.

Baca juga:  Beginilah 7 Tahap Cara Menanam Cabe Hidroponik

Kami berangkat ke parak pada pukul 02.30. Kondisi di kampung sangat sepi. Namun, begitu memasuki kebun, tanda-tanda kehidupan justru terlihat.

Api unggun yang menyala di beberapa gubuk penunggu durian tampak seperti kunang-kunang dalam gelap. Satu per satu gubuk durian kami lewati. Dalam satu gubuk terlihat 2—3 orang sedang duduk santai.

Di samping mereka tampak tumpukan durian yang menggunung. Kami pun akhirnya singgah di sebuah gubuk. Di sana menunggu seorang perempuan paruh baya. Di dalam gubuk, durian sudah menumpuk.

Jumlah buah durian yang dihasilkan

Musim kali ini berkah bagi sebagian besar warga Koto Malintang. Mereka rata-rata memiliki lahan 2—3 hektare dengan populasi seratusan pohon per ha. Sebuah pohon rata-rata menghasilkan 200 buah.

Pantas bila pengepul seperti perempuan itu bisa mengumpulkan 400—1.000 buah dari beberapa pohon dalam semalam. Jika harga jual Rp5.000 per buah, maka omzet sang pengumpul bisa mencapai Rp2 juta—Rp5 juta per malam.

Tradisi malangge

Aktivitas menunggu durian jatuh itu hanya berlangsung hingga pukul 06.00. Selepas itu jika ada durian jatuh, maka menjadi milik sang penemu. Mereka menyebut tradisi itu malangge. Pada pagi hari kampung Koto Malintang seperti pasar durian.

Di sana para pengumpul menyortir buah durian yang jatuh semalam. Anto membeli durian dari para pengumpul lalu mengangkutnya dengan dua mobil bak terbuka. Durian itu ia jual ke kota-kota di Sumatera Barat hingga Riau. Dalam sehari Anto setidaknya menjual 2.000 buah durian.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts