Eka Budianta*

Eka Budianta*

Rakyat makmur berkat buah. Itulah cita-cita Budi Dharmawan. Pada usia 80 tahun, patriot angkatan laut itu naik-turun bukit merawat kebun buah. Ia bekerja keras membangun Plantera, surga buah di Jawa Tengah. “Dari pepaya saja, tiap hektare kebun bisa panen antara Rp250-juta—Rp300-juta setahun,” katanya. Hah? Kaya berkat kates (Jawa), gedang (Sunda) atau Carica papaya?

Benar! Itu papaya eksotika. Harga kualitas terbaik Rp15.000 per kilogram. Setiap tanaman rata-rata panen 100 kg per tahun. Jika populasi satu hektare 200 tanaman, bisa Rp300-juta kan? Pepaya buah meja, bisa dikonsumsi untuk sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Sepanjang tahun, setiap hari. Begitu sederhana. Namun, masih banyak yang menanam karet dengan hasil Rp20-juta atau kelapa sawit yang panen Rp30-juta tiap hektare per tahun.

Majikan pohon
Sungguh menyedihkan kalau rakyat tidak diajar memilih komoditas yang benar. “Negara harus hadir dan membantu petani menjadi kaya, makmur di tanahair sendiri,” katanya. Bantuan apa yang dapat diberikan negara? Pahlawan adalah orang yang memberi kita makan. Petani, pekebun, peternak, dan penyedia ikan. Mereka harus hidup makmur di negeri perlu embung, cadangan air. Setiap tanaman membutuhkan 10–15 liter air tiap hari.

Budi Dharmawan melengkapi kebun buahnya dengan cadangan air yang cukup. Air hujan dipanen, ditampung dalam kolam-kolam dengan geomembran yang bagus. Sebuah instalasi penampungan air hujan bisa menghabiskan biaya Rp1,5-miliar. Semestinya itulah tugas pemerintah. Setiap sentra buah perlu dilengkapi sarana produksi, laboratorium, dan sekolah-sekolah hortikultura.

Rakyat harus diberi pengetahuan dan teknologi. Contohnya adalah perkebunan pepaya itu. Bibit, konsultan, bahkan pupuknya perlu diimpor dari Malaysia. Demikian juga produk buah lain. Maka kita tidak usah heran kalau mendengar pepaya bangkok, pepaya hawaii, pepaya california, orange lady, dan seterusnya. Tentu harus diingat, pepaya california atau calina itu murni produksi dalam negeri.

Baca juga:  Pepaya Baru Habis Sekali Santap

Mengapa perlu biaya besar untuk kebun buah-buahan? “Sebab pohon adalah majikan kita,” kata pekebun yang bertelanjang kaki kalau menginjak Ibu Pertiwi itu. “Pohon memberi kita pekerjaan, makanan, dan rezeki. Harus betul-betul dimengerti dan disayangi. Kalau haus, lapar, sakit, bahkan sampai mati pun, mereka tidak mengeluh.” Di kebunnya Budi Dharmawan menanam lengkeng, buah naga, srikaya, jeruk, durian, dan pepaya yang dibanggakannya.

Saya teringat tanaman pepaya tua di desa kelahiran, Ngimbang, Jawa Timur. Tingginya sampai 10 meter, jadi buahnya sukar dipetik. Hampir tiap hari buahnya menjadi makanan burung gagak, kepodang, dan kutilang. Kalau malam, kelelawar pun berdatangan. Namun, tanaman pepaya di Kendal, Jawa Tengah, tingginya tak sampai 3 meter. Buahnya banyak, bersusun-susun. Setiap kebun pepaya yang sehat bisa dipanen 10 hari sekali.

Pasar pepaya
Tentu perlu sarana tanam, perawatan, dan panen yang baik. Ada rumah sortir, ada pengemasan, ada jaring-jaring pengaman untuk menghadapi kelelawar. Jalan bagus, alat pengangkutan, dan seterusnya. Namun, yang paling penting ada penghormatan kepada multifungsi setiap tanaman. Tidak semua tanaman pepaya dipanen buahnya. Ada panen getahnya– papain untuk bahan farmasi. Ada panen bunga dan daun untuk kuliner.

Ada juga akarnya untuk obat. Tanaman pepaya multiguna. Bahkan dari kelaminnya saja ada pepaya jantan, betina, dan banci. Perlakuan pada pepaya yang dipanen buahnya tentu berbeda dengan yang diambil bunganya untuk sayur-mayur eksotis. Beda juga yang diperlukan untuk obat-obatan. Sudah selayaknya dibuka jurusan pepayologi, untuk menghasilkan ahli-ahli pepaya, lengkap dengan laboratorium khusus.

Keruan saja ada pusat-pusat kajian dan pengembangan buah seperti yang telah terbentuk untuk durian dan pisang. Pasar ekspor papaya terbuka luas dari Tiongkok sampai Eropa dan Amerika. Bahkan pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sudah dijelaskan ekspor ke Eropa seharga 2,7 Euro dan ke Amerika 3,5 dolar tiap kilogram. Pada 2005, Direktur Tanaman Buah Sri Kuntarsih mencatat sekali ekspor 60,5 ton pepaya saja menghasilkan devisa lebih dari US$112.000.

Baca juga:  Pepaya Cerahkan Kulit

Sekarang dengan panen mendekati satu juta ton, Indonesia menduduki tempat ke-3 produsen pepaya sedunia di bawah India (5-juta ton) dan Brasil (1,5- juta ton). Padahal, pasar pepaya masih terbuka lebar, termasuk ke Tiongkok maupun ke Eropa. Yang kini diperlukan adalah standardisasi kualitas dan ukuran buah. Untuk ekspor disukai ukuran kecil, 1 kg berisi dua buah.

Padahal di waktu saya kecil, kami suka berbangga dengan kates jingga – pepaya bangkok sangat besar yang bobotnya sampai 4 kg perbuah, dengan daging kesat berwarna merah hati. Sekarang untuk ekspor justru makin kecil makin disukai. Termasuk pepaya gunung dari Wonosobo, Jawa Tengah, yang disajikan dalam bentuk manisan carica.

Enzim papain
Ilmu kesehatan mengenal 8 manfaat buah pepaya. Mulai dari melancarkan pencernakan, kaya vitamin A dan C, menangkal radikal bebas, sampai menyehatkan pertumbuhan janin. Pepaya mencegah dehidrasi, menjaga tekanan darah, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Ia juga mencegah serangan jantung. Memang kandungan proteinnya rendah, tetapi nilai gizinya tinggi.

Pepaya menyediakan kalori, fosfor, kalsium, karbohidrat, dan zat besi. Manfaat yang paling sederhana, pepaya dipercaya bisa menjaga kecantikan, karena berkhasiat pada kecerahan dan kelembaban kulit konsumen. Namun, yang umum pepaya menambah nafsu makan. Terutama kalau minum air rebusan daun papaya dicampur sedikit garam. Enzim yang terkandung dalam getah papaya – atau papain, sering dimanfaatkan sebagai pelunak daging.

Kebun pepaya memberikan omzet hingga Rp300-juta per hektare.

Kebun pepaya memberikan omzet hingga Rp300-juta per hektare.

Mungkin karena itu ibu yang mulai hamil dicegah makan rujak pepaya muda dan tumis bunga pepaya. Sebaliknya gadis-gadis yang ingin menghilangkan jerawat dan mengidap kulit pecah, justru memerlukan getah pepaya. Bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk diolesi getah yang ditoreh dari pepaya muda. Sudah bukan rahasia, harga satu kilogram getah pepaya lebih dari Rp300.000. Belum lagi kalau sudah dijadikan tepung getah pepaya.

Baca juga:  Cara Cepat Bibitkan Nanas

Industri getah papaya mencatat 9 manfaat papain. Mulai dari pelunak daging, pencuci lensa, bahan kosmetik, sampai pencegah tumor dan kanker karena tinggi kandungan asam aminonya. Perenyah kue kering pencuci gelatin, dan penggumpal susu untuk membuat keju, pasta gigi dan obat cacing pun memerlukan getah papaya. Jadi, buah yang manis dan ekspor papaya segar baru satu manfaat dari budidaya papaya.

Laboratorium
Laboratorium untuk pertanian dan perkebunan mencakup ilmu tanah, perlindungan tanaman, agroekonomi, klimatologi, dan pengujian mutu hasil pertanian. Yang terakhir ini banyak ditemukan di balai pengujian mutu hasil tanaman. Indonesia memerlukan lebih banyak laboratorium dan tenaga ahli. “Tanpa ilmu yang memadai, modal besar dan teknologi modern justru akan membebani,” kata Budi Dharmawan.

Lulusan Institut Teknologi Bandung itu bercita-cita membuat sekolah lapangan. Ia mendorong anak-anak Indonesia cinta buah lokal dan mampu menghasilkan yang terbaik untuk pasar dunia. Selain pepaya ia juga unjuk karya dengan durian, lengkeng, srikaya, dan buah naga. Tenaganya direkrut dari para petani setempat. Mereka diajar merawat pohon sepenuh hati.

Ada penggemburan tanah dengan cacing, pemilihan bibit terbaik sampai pengemasan berkelas internasional. Peranan negara diharapkan lebih besar. Kita memerlukan laboratorium teknologi benih, pemuliaan tanaman, agribisnis, maupun laboratorium organoleptik untuk pengolahan dan rekayasa pangan. Termasuk untuk buah pepaya terbaik dari Indonesia. Sungguh tantangan hortikultura itu sangat kompleks dan memerlukan penanganan superteliti. Bahkan untuk pepaya, perlu keterampilan dan kepakaran kelas dunia. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d