Ukuran buah pepaya-pepaya baru itu kecil, hanya 500 gram dan rasanya sangat manis.

Pepaya cikita berwarna jingga cerah, rasa sangat manis hingga 16° briks.

Pepaya cikita berwarna jingga cerah, rasa sangat manis hingga 16° briks.

Sosok pepaya cikita amat kecil, hanya berbobot 500 g. Sekali makan, pepaya itu tak tersisa. Apalagi rasanya sangat manis. Seolah daging buah bertabur gula pasir. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan, tingkat kemanisan cikita 16° briks. Tingkat kemanisan pepaya pada umumnya hanya 8—12° briks. Daging buah cikita berwarna jingga terang amat menarik.

Tekstur daging buah amat lembut sehingga mudah dikunyah. Trubus mencicipi cikita langsung di kebun produksi PT Tunas Agro Persada di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Cikita hasil pemuliaan produsen benih itu. Potongan dadu daging buah cikita habis dalam sekejap pada siang terik itu. Sebelum irisan daging masuk ke mulut, aroma pepaya mulai tercium.

Pengganti exotica

Pepaya cikita hasil pemuliaan PT Tunas Agro Persada untuk mengganti pepaya exotica.

Pepaya cikita hasil pemuliaan PT Tunas Agro Persada untuk mengganti pepaya exotica.

Direktur pemasaran PT Tunas Agro Persada, Dr Ir Cipto Legowo, mengharapkan cikita dapat menggantikan exotica, pepaya kecil asal mancanegara. Konsumen di Indonesia menggemari pepaya itu karena bersosok kecil dan sangat manis. Dengan sekali makan, buah itu habis. Bentuk buah pun menarik, yakni bulat oval. Pekebun menemui kendala menanamnya karena ketersediaan benih terbatas.

Selain itu, daya kecambah benih sangat rendah, di bawah 50%. Artinya jika petani menyemai 100 biji, kurang dari 50% yang berkecambah. Seorang pekebun buah di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menantang Cipto Legowo untuk menghasilkan benih serupa exotica dengan kualitas lebih baik. Dengan demikian, benihnya lebih mudah diperoleh. Tantangan itu yang mendorong lahirnya cikita.

Baca juga:  Kontes Durian Jawara dari Narmada

Direktur Riset dan Pengembangan PT Tunas Agro Persada, Dwi Kartika, memanfaatkan benih pepaya exotica sebagai calon indukan. Ia pun mencari indukan lain, yaitu pepaya lokal di Boyolali. Dwi Kartika kemudian menanam benih-benih exotika dan pepaya lokal itu di kebun PT Tunas Agro. Setelah benih berkecambah dan tumbuh membentuk beberapa daun, segera ditanam di kebun.

Sosok tanaman pepaya cikita mirip exotica.

Sosok tanaman pepaya cikita mirip exotica.

Dalam 4 bulan, pepaya mulai berbunga. Dwi segera menyilangkan kedua pepaya itu dan memberi label pada calon buah. Ada exotica sebagai induk betina dan ada sebagai pejantan. Demikian pula dengan pepaya lokal dari Boyolali. Periset itu kemudian menyeleksi pada buah matang yang telah disilang-silang dengan memilih yang terbaik. Karena fokus memproduksi buah kecil, berukuran 500—800 gram, sehingga ia mengabaikan buah besar.

Dwi Kartika mengambil benih pada buah yang matang untuk disemai. Dari 300—400 biji, ia mengambil secara acak 100 benih dan kemudian menyemai dan menanamnya. Hasilnya 20 tanaman terbaik yang tumbuh hingga berbuah. Setelah berbunga, atau 4—5 bulan kemudian, Dwi menyeleksi bunga untuk kembali disilangkan. Penyilangan itu hingga generasi F5 yang menghabiskan waktu 3 tahun.

Pepaya Taiwan
Menurut Dwi dari pengalaman, penyilangan hingga fase F5, biasanya hasil sudah bagus dan sifat pun stabil. Namun, bila ingin menyempurnakan, maka persilangan bisa dilanjutkan dengan memanfaatkan cikita sebagai induk. Sebagian sifat exotica ditemukan dalam diri cikita, terutama dalam hal bentuk buah dan kemanisannya. Indukan papaya lokal mewariskan aroma tajam dan daya tahan lama.

Dwi Kartika, pemulia pepaya cikita.

Dwi Kartika, pemulia pepaya cikita.

Sebenarnya pepaya exotica juga beraroma kuat sehingga dengan disilang dengan pepaya lokal, aromanya semakin tajam. Kini PT Tunas Agro menanam benih F5 yang disebut cikita itu untuk uji pasar dan mengetahui respons konsumen. Produsen benih itu menjual buahnya di toko buah. Pekebun di Ungaran yang menantang untuk menghasilkan benih pengganti exotica, sudah menanam benih cikita. Namun, ia belum panen.

Baca juga:  Lezatnya Keripik Sehat

Pekebun buah di Tangerang, Provinsi Banten, Tatang Halim, juga menanam pepaya tainung. Pepaya introduksi dari Taiwan itu juga bersosok kecil, bobot buah 300 gram. Sosok tainung lebih ramping dan ujung buah runcing. Warna daging buah pun jingga dengan tingkat kemanisan 14° briks. Tekstur tainung lebih alot, terutama saat buah mengkal. Namun, tekstur daging berubah menjadi lembut setelah daging buah berwarna kuning.

Dari segi kandungan air, tainung lebih kering. Menurut Tatang harga pepaya sekarang surut karena rasanya tidak manis. Padahal, soal rasa nomor satu bagi konsumen. Banyak pekebun menjadikan cuaca yang kerap hujan sebagai biang keladi tawarnya rasa pepaya. Padahal, dengan budidaya yang baik, terutama pemupukan yang tepat, rasa pepaya dapat ditingkatkan. Untuk itulah ia memberikan cukup nutrisi terutama kalsium dan boron bagi pepaya.

Ujung lonjong, daging jingga, dan sangat manis ciri khas pepaya tainung.

Ujung lonjong, daging jingga, dan sangat manis ciri khas pepaya tainung.

Namun, secara keseluruhan Tatang memberikan semua unsur pupuk, baik makro dan mikro secara rutin, termasuk pupuk kandang dan pupuk hayati. Pemupukan sesuai dengan kondisi cuaca. Untuk memaniskan buah, ia memberikan unsur kalium berupa kalium nitrat (KNO3) untuk memperkuat lapisan dinding kulit buah supaya isi buah terlindungi karena tekstur daging tainung agak lembek dibanding dengan pepaya kalifornia.

Menurut guru besar Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Prof Sobir PhD, boron tidak berperan memaniskan buah secara langsung. Unsur boron meningkatkan serapan unsur lain yang memperbaiki kualitas buah. Adapun unsur kalsium (Ca) memperbaiki tekstur dan meratakan kematangan buah sehingga tingkat kemanisan meningkat seiring akumulasi sel buah yang mengalami kematangan.

Baca juga:  Atasi Virus Cincin Pepaya

Kekurangan unsur boron menyebabkan serapan Ca turun. Jadi unsur boron berperan sebagai katalis. Kekurangan unsur boron menyebabkan bercak hitam seperti pada mangga. Dengan tingkat kemanisan yang cukup tinggi, Tatang Halim menjual pepayanya pada kisaran Rp7.000—Rp10.000 per kg. Itu dua kali lebih tinggi dari pada harga pepaya kalifornia yang anjlok Rp2.000—Rp3.000 per kg. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d