“Pekerjaan merupakan suatu amanah jika dilakukan dengan rasa ikhlas dan menganggapnya sebagai ibadah, maka seberat apa pun pekerjaan tersebut akan terasa ringan menjalaninya,” ujar penyuluh pertanian, Rela Setia Nita.

Rela Setia Nita merupakan penyuluh pertanian di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Ia lahir 14 Mei 1979 di Desa Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung. Di tengah masa kecilnya yang akrab dengan lahan pertanian dan petani, ia selalu menjalani profesinya sampai sekarang dengan ikhlas dan senang hati.

Berkat keikhlasannya itulah, putri pertama dari empat saudara itu dapat menjalankan tugasnya dengan lancar tanpa kesulitan yang berarti.

Dalam melakukan pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian, Rela memiliki prinsip lain yang ia pegang teguh, yakni mengenali potensi diri agar bisa berkarya maksimal. Menurutnya, seorang perempuan dapat berperan dalam bidang apa pun dengan luar biasa, sehingga hidup pun terasa lebih bermakna.

Saat ditugaskan sebagai penyuluh pertanian di Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Sitiung, Rela dipercaya membina wilayah Lubuk Aur Nagari Gunung Medan sejak 2009 hingga kini. Wilayah binaannya tersebut merupakan salah satu pusat usaha pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang berpeluang besar dalam pengembangan dunia pertanian.

Terlebih lagi, masyarakat Jorong Lubuk Aur didominasi suku Jawa yang merupakan transmigran, sehingga kultur pekerja keras senantiasa dilakukan dalam mengembangkan usaha tani.

Wilayan binaan Rela Setia itu sendiri terdiri dari 1 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), 9 kelompok tani, 1 Kelompok Wanita Tani (KWT), 2 kelompok P3A (Perkumpulan Petani Pengguna Air), 1 Posluhtan (Pos Penyuluhan Pertanian), dan 1 Posko Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Dengan luas sawah mencapai 68 hektar, perkebunan 15,2 hektar, perkarangan 58,8 hektar dan tegalan 18 hektar, potensi tersebut menjadi tanggung jawab pembinaan bagi Rela Setia.

Inovasi dan Penerapan Teknologi
Untuk menerapkan teknologi dan inovasi baru pada petani tentunya harus berdasar kebutuhan. Sebelum menyebarluaskan informasi atau materi, harus digali terlebih dahulu kebutuhan petani beserta permasalahan yang dihadapinya.

Dengan demikian, diharapkan tujuan penyuluhan pertanian dapat mengubah sikap, pengetahuan, dan keterampilan petani. Menyadari itu, Rela Setia juga senantiasa memfasilitasi petani dalam penerapan teknologi dan inovasi terbaru saat ini.

Di antaranya Demfarm dan Demplot SRI/PTS (Padi Tanam Sabatang), pembuatan kompos dengan memanfaatkan jerami, padi sistem tanam legowo, penerapan teknologi LADO-21 (Lingkungan Akar Dioksidasi 21 hari), pembuatan MOL dan pestisida nabati.

Kegiatan Pendampingan
Selain melakukan pembinaan rutin sebagai penyuluh, Rela Setia yang merupakan ibu dari dua putri itu juga selalu menyusun program penyuluhan pertanian nagari (desa) dan kecamatan.

Selain itu, ia juga terkenal sering memotivasi dan mengembangkan kemandirian petani beserta keluarganya. Fasilitas kemudahan bagi para petani untuk mendapat sarana produksi, teknologi, pemodalan dan informasi pasar pun selalu dihadirkan oleh Rela Setia.

Atas berbagai kegiatan positifnya di bidang pertanian, tak heran berbagai prestasi telah diraih Rela Setia. Tercatat produksi padi mengalami peningkatan dari 3,5 ton di tahun 2009 menjadi 8,8 ton di tahun 2013.

Selain itu, Rela Setia juga berhasil memfasilitasi kerja sama kelompok tani dengan pihak ketiga, seperti PT Pertani, Sayang Sri (Padi Sawah), PT CNM yang bergerak di komoditi jagung, serta Petrokimia Kayaku yang yang mengembangkan aplikasi pupuk organik.

Gubernur Sumatera Barat pun mengapresiasi kerja keras dan prinsip yang dipegang Rela Setia. Apresiasi gubernur tersebut disampaikan karena Rela Setia dinilai berhasil menggerakkan KWT dalam kegiatan pemanfaatan perkarangan.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m