Power weeder, mesin penyiang gulma andalan petani padi

Power weeder, mesin penyiang gulma andalan petani padi

Hanya 7 jam dua tenaga kerja mengatasi gulma di 1 ha sawah, lazimnya 10 pekerja selama 4 hari.

Khoirul Awaludin gundah saat padi berumur 15 hari setelah tanam (hst). Petani di Desa Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu khawatir tidak mendapatkan tenaga kerja untuk menyiangi lahan. Keberadaan gulma menghambat pertumbuhan padi. Ia sulit mencari tenaga kerja sejak 2010 akibat kian sedikitnya tenaga kerja. Selain itu para petani menanam padi pada waktu bersamaan yaitu pada Desember.

Waktu penanaman yang berbarengan menyebabkan perawatan lain seperti penyiangan gulma pun serentak. Akibatnya terjadi perebutan tenaga kerja antarpetani. Petani yang lebih cepat mendapatkan tenaga kerja mampu merawat tanamannya tepat waktu. Sebaliknya pembersihan gulma terlambat jika petani telat mendapatkan tenaga kerja. Dampaknya, “Gulma semakin tinggi dan sulit dibersihkan,” kata Khoirul.

Dengan mesin penyiang petani hemat 80% biaya penyiangan

Dengan mesin penyiang petani hemat 80% biaya penyiangan

Lebih hemat
Dampak perebutan tenaga kerja, para petani berupaya memberikan upah lebih tinggi. Pada 2014 upah untuk seorang tenaga kerja Rp50.000, sebelumnya Rp40.000 per hari. Petani biasanya 2 kali menyiangi selama satu musim tanam, saat tanaman berumur 15 hari dan 25—30 hari. Para petani menyiangi gulma secara manual dengan mencabut gulma dengan tangan. Cara lain petani menggunakan alat sederhana dari kayu untuk menyiangi gulma.

Khoirul kini bebas gundah setelah menggunakan mesin penyiang padi otomatis (power weeder). Mesin penyiang gulma itu hasil rancangan Agus Prihantoro Zainudin ST di Jombang, Jawa Timur. Menurut Agus penggunaan mesin saat gulma mulai tumbuh mempercepat dan mempermudah penyiangan serta menekan pertumbuhan gulma sedini mungkin. Khoirul mengenal Agus karena keduanya tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Mesin penyiang cocok digunakan di sawah dengan pola penanaman jajar legowo

Mesin penyiang cocok digunakan di sawah dengan pola penanaman jajar legowo

Peneliti padi di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Rohmad Budiono SP menuturkan penggunaan mesin penyiang sangat dibutuhkan pada budidaya padi termasuk sistem singgang karena dapat menggemburkan tanah kembali. Cukup 1 pekerja untuk mengoperasikan mesin penyiang. Pengoperasian alat pun relatif mudah. Bahkan tenaga kerja perempuan pun bisa mengoperasikan alat ini karena berbobot ringan yaitu 12 kg.

Baca juga:  Dari Rimba ke Rumah

Khoirul hanya memerlukan 4 hari kerja masing-masing 7 jam untuk menyiangi lahan 1 ha yang menghabiskan 8 liter bahan bakar berupa premium dan 200 cc oli. “Setiap 1 liter premium dicampur 25 cc oli,” kata Agus. Ia mengelola 2 ha sehingga menghabiskan 16 liter bahan bakar dan 400 cc oli. Jika harga bensin Rp7.800 per liter, maka ia menghabiskan Rp124.800. Sementara harga oli Rp35.000 per liter sehingga Khoirul mengeluarkan biaya pembelian oli Rp7.000 per 200 cc.

Adapun upah tenaga kerja selama 4 hari Rp200.000. Jadi Khoirul menghabiskan Rp331.800 sekali penyiangan. Total jenderal biaya dua kali penyiangan dengan mesin dalam satu musim tanam di lahan 2 ha hanya Rp663.600. Bandingkan dengan penyiangan manual dengan tenaga manusia yang menghabiskan Rp8-juta. Sebelum menggunakan mesin penyiang, petani 44 tahun itu memerlukan 10 penyiang secara manual untuk 1 ha lahan. Mereka bekerja selama 4 hari.

Jajar legowo
Jika upah seorang pekerja Rp50.000 per hari, ia membayar Rp 2-juta. Artinya Khoirul menghabiskan Rp8-juta untuk biaya penyiangan 2 ha lahan selama satu musim tanam. Artinya Khoirul menghemat biaya penyiangan hingga 80%. Menurut Agus mesin itu bisa digunakan hingga minimal 100 jam pemakaian. Syaratnya petani harus mengoperasikan alat sesuai prosedur dan melakukan perawatan rutin. Misal mengisi tangki bahan bakan dengan campuran premium dan oli serta membersihkan alat jika selesai digunakan.

Perawatan rutin alat antara lain pemeriksaan busi secara berkala dan penggantian oli kotak gir setiap 21 jam kerja. Yang tidak kalah penting adalah memantau oli sebelum alat digunakan. “Tambahkan oli jika kurang dan periksa jika ada kebocoran,” kata Agus. Bukan sekadar hemat, petani yang memanfaatkan mesin penyiang bermesin 2 tak itu juga memperoleh manfaat lain, yakni pertumbuhan tanaman semakin baik. Sebab, saat bekerja mesin juga membalik tanah bagian bawah ke atas. “Tanah seperti dibajak lagi,” ucap Khoirul.

Baca juga:  30 Menit Siram 2 Ha

Menurut peneliti di BPTP Jawa Barat, Drs Muhammad Iskandar Ishaq MP, pembajakan kembali itu menggemburkan tanah sehingga akar berkembang. Kandungan oksigen dalam tanah lebih bagus sehingga penyerapan unsur hara oleh tanaman lebih mudah. Di lahan Khoirul pekerja menggunakan mesin berkapasitas 10 liter itu 28 jam selama satu musim tanam. Artinya petani padi sejak 2014 itu bisa menggunakan mesin itu selama minimal 3,5 tahun.

Meskipun sudah digunakan hingga 100 jam, petani tetap bisa menggunakan alat itu. Caranya mudah petani hanya perlu mengganti kotak gir (gear box). Agus menyediakan suku cadang itu seharga Rp1-juta per unit. Sementara suku cadang lain seperti kabel gas dan busi di toko alat pertanian. Kotak gir berfungsi menggerakkan roda sehingga alat bisa bekerja.

Agus (ketiga dari kiri) dan Sudarmono (ketiga dari kanan) beserta khoirul (bertopi) mensosialisasikan mesin penyiang di Desa Gajah

Agus (ketiga dari kiri) dan Sudarmono (ketiga dari kanan) beserta khoirul (bertopi) mensosialisasikan mesin penyiang di Desa Gajah

Menurut rekan Agus, Sudarmono SIP, alat itu diperkenalkan ke masyarakat pada Juni 2014 saat Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mesin penyiang seharga Rp6,5-juta itu berjalan mengikuti alur padi. Ketika mencapai ujung, petani memindahkan alat ke barisan berikutnya. “Mesin lebih mudah digunakan jika penanaman padi secara jajar legowo 2:1,” kata Agus. Selain itu, mesin penyiang juga berfungsi maksimal di sawah dengan kedalaman lumpur 15—20 cm.

Tanaman pinggir
Sistem jajar legowo 2:1 dikembangkan untuk mendapatkan efek tanaman pinggir. Lazimnya rumpun padi di dekat pematang memberikan hasil lebih tinggi ketimbang yang di tengah lahan. Sebab, tanaman di tepi pematang mendapat penyinaran bagus. Dampaknya, “Proses fotosintetis berlangsung sempurna dan bulir padi yang dihasilkan lebih banyak,” kata Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Subang, Jawa Barat, Dr Ir Priatna Sasmita MSi.

Dengan sistem jajar legowo petani mengondisikan rumpun tanaman berada di bagian pinggir lantaran ada jarak pemisah. Setelah barisan padi berada di antara roda, pekerja mengarahkan alat ke depan dengan menarik tuas gas di tangan kanan secara perlahan. Caranya mudah dan biaya operasional pun murah. Harga mesin Rp6,5-juta per unit lebih murah daripada biaya penyiangan di lahan 2 ha dalam sekali musim tanam. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d