B. persephone koleksi Hermanus J Haryanto didapatkan dari Ayerhitam, Johor, Malaysia

B. persephone koleksi Hermanus J Haryanto didapatkan dari Ayerhitam, Johor, Malaysia

Hermanus J Haryanto sukses menangkarkan 60 spesies cupang alam.

Sosok Betta simplex memang elok, paduan cokelat dan biru di sirip. Begitu juga tiga cupang alam lain, B. spilotogena, B. miniopinna, dan B. persephone tak kalah elok. Sayang, keelokannya mengancam keberadaannya. Data badan konservasi International Union for Nature and Natural Resources (IUCN) menetapkan 4 spesies itu berstatus critically endangered atau terancam punah.

Upaya penyelamatan spesies eksotis itu antara lain dengan penangkaran seperti ditempuh Hermanus J Haryanto, penangkar cupang alam di Tomang, Jakarta Barat. Juri di berbagai kontes cupang internasional itu berhasil menangkarkan 60-an spesies cupang alam. Hermanus menangkarkan wild betta—sebutan cupang alam—bukan hanya sekadar hobi. “Saya ingin wild betta dari Indonesia sohor di kalangan pehobi cupang internasional,” ujar Hermanus.

Betta api-api salah satu cupang alam yang dimiliki Hermanus dan belum memiliki nama ilmiah

Betta api-api salah satu cupang alam yang dimiliki Hermanus dan belum memiliki nama ilmiah

Daun ketapang
Menurut Hermanus menangkarkan cupang alam bukan perkara mudah. Banyak penangkar patah arang karena cupang alam enggan berkembang biak. “Kunci utama penangkaran cupang alam adalah mengatur kondisi akuarium agar menyerupai habitat aslinya,” katanya. Ia menaruh bata berlubang atau potongan pipa polivinil klorida (PVC) di akuarium. Kedua perlengkapan itu berfungsi sebagai tempat bersembunyi.

“Di habitat aslinya mereka senang bersembunyi di celah-celah batu sungai,” ujar ayah 4 anak itu. Untuk menambah kesan habitat asli, ia juga menempatkan tanaman air atau ranting-ranting kayu di dalam akuarium. Menurut Hermanus hal terpenting lain dalam menangkarkan cupang alam adalah menjaga kestabilan suhu air akuarium dan ruangan. “Beda spesies dan lokasi penemuan, beda pula suhu yang diinginkan. Secara umum suhu ideal 24—280C,” katanya.

Hermanus J Haryanto mulai menangkarkan cupang alam sejak 2007. Saat ini 60 jenis cupang alam berhasil ditangkarkannya

Hermanus J Haryanto mulai menangkarkan cupang alam sejak 2007. Saat ini 60 jenis cupang alam berhasil ditangkarkannya

Untuk menjaga kestabilan suhu, penangkar cupang alam sejak 2007 itu menggunakan pendingin ruangan di lokasi budidaya. Agar pH air stabil, Hermanus menggunakan daun ketapang Terminalia cattapa. “Kandungan tanin pada daun ketapang juga bersifat antibakteri sehingga sangat baik untuk kesehatan dan kondisi cupang,” tuturnya. Air yang digunakan tidak mesti selalu jernih. Di akuarium penangkaran milik Hermanus, air akuarium cenderung berwarna kecokelatan.

Baca juga:  Adi Pramudya: Rupiah Asal Rempah

Kunci keberhasilan Hermanus juga pada pH air. Derajat keasaman yang dikehendaki cupang alam adalah 5—6,5. Ia mengganti air setiap 5 hari dengan membuang 80—90% dari volume akuarium, lalu menambahkan air baru. Pakan juga tak kalah penting. “Pada dasarnya cupang alam dapat bertahan selama 2 bulan tanpa asupan pakan,” kata Hermanus. Nafsu makan cupang sangat rendah dan berakibat sulit kawin bila hidup soliter atau menyendiri.

Oleh sebab itu, Hermanus merawat cupang sejenis secara berkelompok dalam 1 akuarium. “Dengan begitu cupang akan terpacu untuk bersaing mendapatkan makanan,” ujarnya. Jenis pakan tak boleh sembarangan. Alumnus Universitas Bina Nusantara, Jakarta, itu memberikan pelet berkadar protein 48% yang biasanya digunakan untuk pakan siklid, sekali sehari.

Takaran pelet secukupnya sampai cupang kenyang. Cirinya cupang tidak bereaksi saat tangan menghampiri akuarium. “Selama responsnya masih tinggi terhadap gerakan tangan, berarti cupang masih lapar,” katanya. Selain pelet, Hermanus juga memberikan pakan hidup seperti rebon, kroto, cacing beku, ulat hongkong, atau jangkrik, setiap pekan sekali secara bergantian.

B. simplex merupakan salah satu jenis cupang alam yang masuk redlist IUCN dengan status critically endangered

B. simplex merupakan salah satu jenis cupang alam yang masuk redlist IUCN dengan status critically endangered

Merayu betina
Pria 50 tahun itu memberikan pakan berupa kutu air untuk burayak. “Kandungan protein kutu air lebih tinggi dibandingkan dengan artemia atau baby brine shrimp (bbs). Kutu air juga mudah dicerna sehingga tidak meninggalkan endapan di air,” katanya. Hermanus menuturkan akuarium cupang alam harus tertutup bagian atasnya. Itu karena cupang memiliki daya loncat yang tinggi sehingga kerap kali dijuluki peloncat andal.

Ia menyarankan penangkar sebaiknya menggunakan penutup berupa kawat nyamuk agar cupang tidak memar saat loncat dan menabrak penutup akuarium. Ia juga mempertahankan ketinggian air minimal 5 cm dari bibir akuarium. Jika syarat perawatan tersebut terpenuhi, cupang alam pun hidup nyaman dan berkembang biak. Namun, proses mengawinkan juga sulit.

Mengawinkan cupang sangat tergantung pada spesies. Contohnya B. macrostoma. Sang pejantan biasanya “menari-nari” untuk menggoda betina di permukaan air. Proses merayu itu biasanya berlangsung 3 jam. Berbeda dengan B. ocellata dan B. unimaculata yang justru lebih senang melakukan “ritual” perkawinan di dekat dasar air. Prosesnya pun lebih cepat, kurang dari 2 jam.

Baca juga:  Ikan Cupang Berkelir Koi

Macrostoma baru dapat dikawinkan pada umur 1,5 tahun. Sementara jenis lain dapat dipijahkan pada umur 9—12 bulan. Setelah kawin, sang jantan akan mengerami telur di bagian mulut selama 21 hari. Sekali bertelur cupang betina mengeluarkan 40—50 telur. Dari jumlah itu yang bertahan hidup mencapai 90%. “Namun, itu sangat bergantung dari perawatan. Perawatan yang salah bisa menyebabkan telur invertil (tidak dapat dibuahi, red) atau perbandingan jumlah antara anakan berkelamin jantan dan betina terpaut jauh,” ujarnya.

Jantan betina
Menurut Hermanus, perbandingan jumlah anakan betina dan jantan, menjadi salah satu indikator keberhasilan penangkaran cupang alam. Musababnya, cupang alam harus dijual berpasangan. Jadi, meski tingkat kelulusan hidup tinggi, tetapi jumlah anakan betina dan jantan tidak seimbang, maka anakan tidak bisa dijual. “Ketidakseimbangan itu biasanya disebabkan kualitas air yang tidak memadai,” kata pemilik farm cupang Betta4ever itu.

Daun ketapang berfungsi untuk menjaga suhu air agar tetap dingin dan pH stabil

Daun ketapang berfungsi untuk menjaga suhu air agar tetap dingin dan pH stabil

Hermanus mengatakan pada dasarnya semua jenis cupang alam dapat ditangkarkan. Namun, tingkat kesulitannya beragam. Saat ini dari 60-an jenis yang dimiliki Hermanus, 10 di antaranya merupakan cupang alam yang masuk daftar merah IUCN. Bahkan beberapa jenis belum memiliki nama ilmiah karena baru ditemukan. Dengan ditangkarkan cupang justru tidak perlu khawatir terhadap kekurangan makanan ataupun gangguan predator sehingga mereka dapat nyaman berkembang biak.

Menurut Jesda Attahcivit, penangkar cupang di Thailand, cupang alam Indonesia memiliki banyak penggemar fanatik. “Indonesia masih menjadi produsen utama cupang alam hasil tangkaran,” ujar Jesda. Jesda menuturkan saat ini cupang alam hasil tangkaran lebih diminati pehobi terutama yang di luar Indonesia lantaran lebih adaptif dan memiliki warna yang lebih mencolok ketimbang cupang hasil tangkapan alam.

Dengan begitu dapat menekan angka penjualan cupang tangkapan alam. Sayang, di Indonesia masih sedikit yang mengikuti jejak Hermanus melestarikan cupang alam. Penjual cupang alam lebih memilih menangkap dari habitatnya dengan alasan lebih murah dan mudah daripada berupaya menangkarkannya. Keprihatinan Hermanus terhadap menurunnya populasi cupang alam di tanahair ditunjukkanya dengan sesekali melepaskan cupang alam hasil tangkaran ke habitat aslinya. Hermanus selalu menyimpan stok indukan maupun anakan dari setiap jenis yang ia miliki. “Tujuannya agar penangkaran terus berlanjut,” katanya. (Rizky Fadhilah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d