Ungko di penangkaran sangat jarang bernyanyi karena tidak ada perebutan teritori maupun makanan

Ungko di penangkaran sangat jarang bernyanyi karena tidak ada perebutan teritori maupun makanan

Setelah menyalakan proyektor, Anderi Satya membuka layar komputer jinjing lalu mengeklik salah satu dokumen. Awalnya hanya desis yang terdengar dari pelantang suara. Detik berikutnya, terdengar suara teriakan dengan nada yang semakin meninggi. Teriakan itu segera ditimpali teriakan lain dengan nada dan warna suara berbeda. Suasana pagi yang hening seketika pecah oleh baku teriak di kanopi. “Itu ungko. Kehadirannya bisa dikenali dari teriakannya,” kata Anderi.

Perkataan Anderi terbukti keesokan harinya. Seiring kemunculan matahari, adu teriak mengumandang dari hutan di sisi timur PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki). Dr Takeshi Nishimura dari Institut Riset Primata Universitas Kyoto, Jepang, menyebut teriakan ungko sebagai nyanyian. Penelitian Nishimura mengungkapkan bahwa gibon, termasuk ungko Hylobates agilis unko, menggunakan teknik sama dengan penyanyi sopran.

Saking rumitnya, Nishimura menjuluki gibon sebagai primate of the opera alias primata penyanyi opera. Julukan itu adalah plesetan dari novel “Phantom of the Opera” karangan novelis Perancis, Gaston Leroux, pada 1910. Namun, ia menyebutkan bahwa gibon “menyanyikan” nada-nada tinggi itu secara alami. Tidak seperti vokalis sopran yang mesti berlatih secara disiplin dan tekun untuk menguasai pembentukan kata di nada tinggi.

Untuk menghasilkan nada tinggi dan artikulasi yang tajam, penyanyi opera mesti menguasai teknik pernapasan dan vokal. Musababnya, suara mereka harus jernih terdengar hingga ke sudut gedung opera yang besar. Tantangan yang dihadapi ungko nyaris sama, yaitu menyampaikan pesan vokal di kanopi hutan lebat dengan ketertampakan minim. “Nyanyian itu menyampaikan pesan batas wilayah, mencari pasangan, menantang pesaing, atau peringatan ketika ada pemangsa mendekat,” tutur Dr Ir Entang Iskandar MS.

Menurut kepala Divisi Konservasi Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (PSSP IPB) itu, jantan dan betina yang membentuk kelompok juga saling berbalas nyanyian untuk memperkuat hubungan mereka. Teriakan tegas dan jelas menjamin pesan itu tersampaikan kepada sesama ungko atau satwa lain. Sang pemilik suara tidak perlu muncul dan bisa tetap tersembunyi di balik kelebatan kanopi.

Baca juga:  Bertahan dengan Jernang

Mula-mula Nishimura merekam 20 pola nyanyian. Ternyata pola vokal gibon tidak terbaca di instrumen akustik lantaran berjenis nada murni. Ia lantas menempatkan ungko percobaan dalam atmosfer yang mengandung gas helium. Gas itu menaikkan kecepatan suara dan resonansi frekuensi vokal sehingga menghasilkan grafik yang dapat dikenali instrumen.

Selanjutnya Nishimura merekam 37 nyanyian lalu menganalisis polanya dengan memperhatikan panjang dan tinggi nada serta durasi nyanyian. Hasil analisis itu menunjukkan bahwa gibon anggota genus Hylobates, termasuk owa sumatera, sengaja mengubah tinggi nada dan bentuk “kata” yang mereka nyanyikan. Nishimura menyebutkan bahwa suara yang dihasilkan dari getaran pita suara dimodifikasi oleh saluran khusus yang berjuluk supralaryngeal vocal tract (SVT). Itu persis dengan cara manusia membentuk kata atau aksara berbeda ketika berbicara.

Anderi Satya: Kehadiran ungko ditandai oleh teriakannya

Anderi Satya: Kehadiran ungko ditandai oleh teriakannya

Riset Claire Thompson dari Politeknik Anglia, Cambridge, Inggris, menunjukkan bahwa teriakan ungko cenderung berbeda antarkelompok dan antardaerah. Perbedaan itu karena kelompok yang tinggal berdekatan biasanya berkomunikasi dengan pola “nyanyian” yang hampir sama. Kelompok yang tinggal berdekatan biasanya berasal dari induk yang sama, mirip pola manusia yang berasal dari satu keturunan membangun desa.

Kesamaan itu menjadi pedoman bagi ungko remaja untuk mencari pasangan. Claire Thompson menyebutkan bahwa ungko secara naluri tidak tertarik kepada ungko lain dengan pola nyanyian yang ia kenali. Pemilihan itu meminimalkan peluang perkawinan sedarah. Berbeda dengan gibon lain yang bernyanyi sendiri-sendiri meski berpasangan, pasangan ungko Hylobates agilis bernyanyi secara duet. Pasangan yang baru membentuk kelompok lebih sering bernyanyi untuk saling mengenal dan memperkuat ikatan.

Ungko bernyanyi pada awal pagi dengan periode hanya 10—15 detik per nyanyian. Meski sangat singkat, Claire bisa memilah 5 fase nada: pembukaan, inflektif, klimaks, pascaklimaks, dan terminal. Nyanyian selalu dimulai oleh betina, yang lalu ditirukan oleh jantan pasangannya. Nyanyian biasanya terhenti ketika matahari mulai tinggi, ketika ungko mulai mencari makan. Namun, bisa juga berlanjut hingga siang kalau ada kelompok atau individu ungko yang memasuki teritori kelompok lain. Nyanyian induk juga ditiru oleh anak-anak mereka.

Baca juga:  Kopi dan Parkinson

Luas teritori kelompok di hutan yang sehat berkisar 16,5—43 ha, tergantung umur induk dan jumlah anggota kelompok. Teritori itu mereka lindungi, penyusup akan diteriaki oleh kedua induk dan anak ungko yang cukup besar. Namun, 64% teritori setiap kelompok beririsan dengan kelompok lain sehingga teriakan saling mengusir bisa terdengar sepanjang hari.

Kondisi itu semakin memburuk kalau terjadi perambahan hutan, penebangan ilegal, atau pembukaan kebun. Kelompok ungko yang terdesak bakal memasuki teritori kelompok lain sehingga teriakan semakin kerap terdengar. Saat itulah ungko yang semula tersembunyi di balik kanopi menjadi jelas terlihat dan mudah menjadi sasaran perburuan. Made Wedana, direktur The Aspinall Foundation Indonesia—yayasan pemerhati primata—di Ciwidey, Bandung, mencontohkan perambahan hutan di Jawa Barat bagian selatan, yang terjadi beberapa tahun belakangan.

“Luas hutan semakin menyusut sampai tinggal beberapa hektar. Minimnya luasan menjadikan owa jawa—gibon yang menghuni Jawa—sulit menyembunyikan diri. Akibatnya mereka mudah ditangkap. Sekarang di hutan itu tidak ada lagi owa jawa,” kata Made. Hal serupa juga sangat mungkin terjadi kepada ungko kalau alih fungsi hutan terus terjadi seperti sekarang. Di sisi lain, ungko juga menghadapi persaingan dari sesama gibon, siamang, atau primata lain. Mungkin suatu hari nanti, nyanyian ungko hanya bisa didengarkan melalui pelantang seperti yang dilakukan Anderi. Semoga tidak. (Argohartono Arie Raharjo)

543_ 93

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d