Penyakit Jeruk: Cepat Melacak Naga Kuning 1
Jeruk sehat, produksi tinggi, dan bebas CVPD harapan petani.

Jeruk sehat, produksi tinggi, dan bebas CVPD harapan petani.

Teknologi deteksi dini penyakit CVPD dalam 45 menit.

Kedatangan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) kerap tak terdeteksi. Harap mafhum, sepintas gejalanya mirip kekurangan unsur hara mikro, yaitu munculnya totol-totol kekuningan di permukaan daun. Akibatnya tindakan pengendalian yang tepat kerap terlambat. Awalnya serangan penyakit mematikan itu membuat buah benjol alias asimetris sehingga tidak layak jual.

Berikutnya terjadi kematian ranting atau tajuk sampai mengurangi masa produksi tanaman. Lazimnya masa produktif jeruk lebih dari 15 tahun, setelah terserang CVPD menjadi kurang dari 5 tahun. CVPD merupakan penyakit degenerasi yang menurunkan produktivitas dan kualitas. Bahkan, CVPD menyebabkan kematian tanaman jeruk di Indonesia sejak dekade 1940-an. Di dunia, penjahat itu lebih dikenal dengan nama huanglongbing.

Totol kekuningan ciri gejala serangan CVPD.

Totol kekuningan ciri gejala serangan CVPD.

Kandidat
Penyebab penyakit huanglongbing adalah bakteri gram negatif yang termasuk dalam kelompok alfa subdivisi proteobacteria.  Sampai kini bakteri belum dapat dikulturkan secara in vitro melalui media buatan. Oleh karena itu penamaan organisme dalam nomenklatur masih bersifat sementara alias candidatus. Para peneliti menemukan 3 strain bakteri penyebab CVPD yaitu candidatus Liberibacter asiaticus (CLas), Candidatus Liberibacter africanus (CLaf), dan Candidatus Liberibacter americanus (CLam).

Selain dapat menular dari tanaman sakit ke tanaman sehat melalui perbanyakan mata tempel, patogen juga terbawa oleh serangga penular atau vektor kutu loncat jeruk Diaphorina citri dan Trioza erytreae. Kedua vektor itu berperan penting menyebarkan huanglongbing ke pertanaman jeruk di seluruh dunia. Sebagai vektor CLas dan CLam, D. citri tersebar di Asia dan Amerika, sedangkan T. erytreae yang berperan sebagai vektor CLaf tersebar di Afrika.

Sampai kini belum ada bakterisida untuk mengendalikan bakteri itu. Namun pekebun dapat melakukan pengendalian dengan menggunakan bibit bebas penyakit, eliminasi tanaman sakit di lapang, dan pengendalian populasi serangga vektor. Sayangnya, penerapan lapangan ketiga komponen itu tak efektif. Sebab, proses identifikasi secara kualitatif berdasarkan gejala visual kerap meleset.

Baca juga:  Saresehan Sawit Uni Eropa

Itu karena gejala serangannya mirip dengan kekurangan unsur hara mikro. Akibatnya pengendalian huanglongbing yang dalam bahasa Tiongkok berarti penyakit naga kuning pun terlambat. Di lain pihak, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pengujian penyakit itu perlu mempertimbangkan parameter assured, kepanjangan affordable, sensitive, specific, user-friendly, robust and rapid, equipment free, and deliverable.

Perlengkapan untuk melacak CVPD secara cepat.

Perlengkapan untuk melacak CVPD secara cepat.

Pada intinya aplikasi mudah, sederhana, tidak memerlukan keterampilan khusus, dan cepat menampakkan hasil—tidak lebih dari 30 menit. Parameter assured perlu diperkenalkan di negara-negara berkembang yang endemik CVPD. Sejak 1996 sudah ada pengembangan teknik deteksi CVPD menggunakan asam nukleat (DNA) dengan target CLas yang terdeteksi melalui polymerase chain reaction (PCR).

Karena memerlukan fasilitas laboratorium dan peralatan yang relatif mahal plus teknisi yang berketerampilan tinggi, teknik itu kurang berkembang. Pada 2000, seorang peneliti asal Jepang, Tsugunori Notomi, mengembangkan teknik lain perbanyakan asam nukleat bernama Loop-mediated Isothermal Amplification (LAMP). Dengan metode itu, kaidah-kaidah assured menjadi lebih mudah.

Enam keunggulan
Metode LAMP memiliki semua karakteristik teknis seperti ketepatan waktu PCR, fitur sensitivitas dan spesifitasnya tinggi. Caranya pun sederhana, tidak memerlukan sarana dan prasarana laboratorium atau fasilitas peralatan modern. Hal itu yang mendasari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian mengembangkan teknologi LAMP.

Tujuannya membuat perangkat yang mampu mendeteksi cepat CVPD yang akurat, mudah, murah, serta praktis untuk ditenteng di lapangan. Setelah penelitian selama tiga tahun, alat itu akhirnya terwujud. Perangkat atau kit itu efektif untuk deteksi cepat CVPD jeruk di daerah endemik. Kit itu terdiri 4 komponen meliputi campuran reaksi LAMP, larutan buffer ekstraksi sampel, kantong plastik preparasi sampel, dan akuades steril.

Buah asimetris menjadi tak layak jual.

Buah asimetris menjadi tak layak jual.

Sementara prosedurnya terdiri tiga tahap yaitu ekstraksi deoxyribose-nucleic acid (DNA), perbanyakan DNA, dan pembacaan DNA hasil perbanyakan. Hasil uji coba penggunaan kit itu memiliki 6 keunggulan. Pertama prosedur LAMP berlangsung cepat. Tiap tahap berturut-turut hanya memerlukan waktu 5 menit, 30—60 menit, dan 10 menit. Sensitivitasnya pun cukup tinggi dan efektif mendeteksi DNA-CLas sampai 10 picogram.

Baca juga:  Andal Kontrol Gula Darah

Keunggulan lain, spesifik mengamplifikasi DNA-Clas, tidak terjadi reaksi silang terhadap 2 penyakit sistemik jeruk lain yaitu virus tristeza (Citrus Tristeza Virus) maupun Citrus Vein Enation Virus (CVEV). Keunggulan berikutnya, dapat mendeteksi secara cepat tanpa preparasi atau peralatan khusus. Masih ada kelebihan lain, yaitu ekonomis karena tidak memerlukan peralatan modern yang biasanya digunakan dalam uji PCR.

Pengoperasiannya juga sederhana, tidak harus dilakukan oleh teknisi berketerampilan tinggi. Kit itu membantu pekebun mendeteksi penyakit yang dilaporkan pertama kali pada 1929 di Tionghoa itu tanpa harus mengirim sampel ke laboratorium. Cara penggunaan perangkat itu juga mudah. Mula-mula ambil sampel daun jeruk yang dicurigai terserang CVPD.

Masukkan daun jeruk ke kantong plastik yang di dalamnya sudah terisi buffer. Gerus daun hingga halus. Langkah berikutnya, ambil 2—5 µl cairan itu lalu masukkan dalam tabung plastik yang sudah terisi 200—300 µl campuran larutan reaksi LAMP. Panaskan selama 45—60 menit pada suhu 650C. Lalu tingkatkan suhu menjadi 950C untuk inaktifasi enzim selama 2 menit.

Heat block tempat biasa menginkubasi sampel.

Heat block tempat biasa menginkubasi sampel.

Dari proses itu dapat diketahui apakah daun terserang CVPD atau tidak dengan mengamati warna cairan dalam tabung plastik itu. Jika warnanya hijau hingga biru laut, maka tanaman positif CVPD. Jika terang, maka negatif. Maka dari awal pengumpulan sampel hingga pengamatan, pendeteksian CVPD hanya membutuhkan tak kurang dari 1,5 jam. Dengan deteksi cepat, pengambilan keputusan tindakan pengendalian pun dapat dilakukan lebih cepat.

Pekebun mengetahui kehadiran penyakit CVPD sedini mungkin dan mengambil tindakan lebih cepat. Di tingkat yang lebih tinggi, perkembangan serangan penyakit CVPD tingkat nasional bahkan dunia dapat ditekan. Kondisi itu akan menambah panjangnya masa produktif tanaman jeruk dari kondisi saat ini yang hanya berkisar 5—7 tahun. (Nurhadi Usman dan Yunimar, peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika, Kotamadya Batu, Jawa Timur)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *