Gulma di perkebunan mangga turunkan produksi hingga 60%

Gulma di perkebunan mangga turunkan produksi hingga 60%

Tepat gunakan herbisida kunci mengendalikan gulma secara efektif.

Berapa kerugian pekebun mangga akibat kehadiran gulma? Dosen di Jurusan Agronomi, Universitas Gadjah Mada, Dody Kastono, mengungkapkan potensi kerugian pekebun akibat gulma mencapai 40—60%. Sebagai gambaran, produktivitas pohon mangga dewasa mencapai 300 kg buah per panen. Akibat gulma pekebun hanya memanen 120 kg alias rugi 180 kg. Dengan harga minimal Rp5.000 per kg, maka pekebun kecolongan Rp900.000.

Itu baru satu pohon. Jika lahan pekebun sehektar dengan populasi 100 pohon, kerugian mencapai Rp90-juta. Sebuah angka yang fantastis. Faktanya serangan gulma terhadap tanaman tahunan lebih berbahaya. Pada tanaman semusim, efek persaingan dengan gulma segera terlihat sehingga penanggulangan lebih cepat. Namun, pada tanaman tahunan seperti mangga, proses persaingan lambat dan tak kasat mata.Tahu-tahu produktivitasmelorot 60%.

Gulma bersaing dengan tanaman pokok untuk memperoleh hara dan air

Gulma bersaing dengan tanaman pokok untuk memperoleh hara dan air

Alelopati
Pekebun wajib mewaspadai kehadiran gulma. Tanaman yang tak dikehendaki keberadaannya itu bersaing dengan tanaman utama saat menyerap air, unsur hara, sinar matahari, dan tentu saja ruang tumbuh. Akibatnya biaya produksi membengkak. Dari jenisnya, gulma dibedakan menjadi gulma rumput, gulma teki, dan gulma daun lebar. Gulma mempunyai daur hidup berbeda. Ada gulma semusim atau setahun, gulma dua tahun, dan gulma yang hidup dalam siklus tahunan.

Dari bentuk daunnya, gulma dapat digolongkan menjadi dua yaitu gulma berdaun sempit seperti putri malu dan gulma berdaun lebar misalnya bandotan. Kehadiran gulma kerap diikuti serangan hama dan penyakit lantaran menjadi inang. Biji-biji gulma berpotensi mengotori hasil produk pertanian sehingga pekebun perlu biaya tambahan untuk membersihkannya.

Fakta yang masih jarang diketahui masyarakat beberapa gulma bisa menyebabkan alergi bagi manusia ketika terkena tepung sarinya. Ada pula gulma yang bersifat alelopati, yaitu menghasilkan zat yang mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Pengendalian paling sederhana dengan cara mekanis atau mencabut gulma secara langsung. Teknisnya bisa menggunakan sabit, cangkul, hingga alat berat di lahan luas.

Baca juga:  Jamur Dewa: Menanti Buyung 19 Tahun

Upaya itu untuk menggemburkan tanah sekaligus merusak vegetasi gulma di bagian atas tanah dan sistem perakaran di bagian bawah tanah. Selanjutnya, pengendalian dengan menggenangi lahan. Namun, penggenangan hanya cocok untuk tanah-tanah yang tergolong ringan atau tanah pasiran, bukan tanah berat dengan porositas buruk.

Penutup tanah atau mulsa juga lazim mencegah pertumbuhan gulma. Mulsa itu bisa berupa plastik hitam perak atau tanaman keluarga kacang-kacangan. Pemanfaatan tanaman anggota famili Fabaceae sebagai “mulsa”, pekebun mendapat manfaat lain yaitu bertambahnya pasokan nitrogen. Unsur hara itu berasal dari bakteri Rhizobium sp yang berada di bintil akar tanaman kacang-kacangan.

Pekebun kerap menempuh upaya lain yakni penggunaan bahan kimia atau herbisida. Agar hasil efektif, perlu alat penyebar yang baik dan pengetahuan tentang herbisida itu. Namun, banyaknya ragam gulma menuntut penggunaan banyak jenis herbisida sekaligus. Berdasarkan sistem kerjanya, ada dua jenis herbisida, yaitu sistemik dan kontak. Herbisida sistemik menimbulkan efek luas pada seluruh sistem tumbuhan gulma. Gejala kematian gulma akan tampak 1—2 pekan pascaaplikasi.

Tepat gunakan herbisida untuk atasi gulma

Tepat gunakan herbisida untuk atasi gulma

Efisien
Sementara herbisida kontak bersifat merusak membran sel, sehingga menimbulkan efek bakar dan akhirnya mematikan bagian-bagian gulma yang terkena herbisida secara langsung. Dari sifat kimia terdapat herbisida organik dan anorganik. Adapun jenis herbisida berdasarkan waktu aplikasi adalah pratumbuh dan purnatumbuh. Herbisida juga ada yang bersifat selektif artinya mematikan jenis gulma tertentu saja dan nonselektif yang mematikan hampir semua jenis gulma termasuk tanaman utama.

Agar penggunaan herbisida tepat sasaran pekebun juga wajib tahu bahan aktifnya. Contoh herbisida berbahan aktif triazin mengendalikan gulma dengan menghambat proses fotosintesis. Bahan aktif amitrol bersifat menghambat pernapasan atau respirasi gulma, sementara bahan aktif tiokarbonat menghambat proses perkecambahan biji tanaman pengganggu itu.

Baca juga:  Inovasi Bertanam Jamur

Penggunaan herbisida sangat menguntungkan karena hemat waktu dan biaya. Pekebun rata-rata menghabiskan herbisida 100 ml dalam sekali semprot menggunakan sprayer dengan biaya sekitar Rp6.500. Larutan itu mampu mengendalikan gulma seluas 350 m2. Ditambah biaya tenaga kerja Rp6.000 per tangki, maka total biaya Rp12.500 per 350 m2. Jika dikonversi pada lahan sehektar maka total biaya hanya Rp357.000. Bandingkan dengan cara mekanis, untuk biaya tenaga kerjanya saja sudah tinggi.

Meski efisien dan menguntungkan untuk pekebun, penggunaan herbisida harus terpadu untuk mencegah dampak residu kimia. Jika berlebihan, bahan itu bisa meracuni tanaman, memunculkan resistensi gulma tertentu, dan merusak lingkungan. Oleh karena itu, tepat memilih jenis herbisida, dosis, waktu dan cara adalah langkah bijaksana untuk meminimalisir dampak itu. (Ir Wiwik Wijayahadi, praktikus tanaman buah di Yogyakarta)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d