Pencuri Hati dari Taolanaro 1
Euphorbia francoisii digemari lantaran keindahan daunnya

Euphorbia francoisii digemari lantaran keindahan daunnya

Semakin dipuja karena kecantikan daunnya.

Francoisii bagai magnet yang menarik hati puluhan penggemar. Begitu melihat sosok Euphorbia francoisii—nama lengkap tanaman hias itu—di sebuah situs, Syawaluddin langsung jatuh hati. Ia terpesona pada sosok tanaman sukulen asal Taolanaro, Madagaskar selatan, itu. “Bonggol tanaman bulat mirip adenium dengan tajuk yang rimbun dan kompak,” ujar pehobi di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, itu. Bentuk daunnya lanset bergerigi di pinggir dan tebal.

Ciri khas lain francoisii permukaan bagian atas daun berwarna hijau, sedangkan bagian bawahnya kemerahan. Tampilannya semakin cantik dengan bunga-bunga kecil berwarna hijau yang menyembul di antara dedaunan. Jika bunga belum mekar pun, francoisii tetap elok. Syawaluddin bergegas membeli tanaman kerabat karet itu. Sayang ia merahasiakan harga beli. Sesampainya di kediamannya, ia menanam francoisii pada pot berisi media tanam porous terdiri atas sekam bakar, sekam mentah, pasir malang, dan pupuk kandang.

Euphorbia francoisii var. crassicaulis memiliki urat daun tegas

Euphorbia francoisii var. crassicaulis memiliki urat daun tegas

Aneka corak

Agar tanaman tidak stres, Syawaluddin meletakkan francoisii di tempat teduh selama 2 pekan. Ketika masa adaptasi usai, ia meletakkan tanaman di tempat dengan sinar matahari penuh. Menurut pehobi berusia 37 tahun itu perawatan francoisii tergolong mudah. Penyiraman hanya perlu sesekali saja sebab eupohorbia tidak butuh banyak air. Sosok tanaman yang menarik apalagi perawatan yang mudah membuatnya semakin jatuh hati.

Harap mafhum tanaman yang diidentifikasi oleh ahli Botani asal Perancis, Jacques Desire Leandri, pada 1946 itu memiliki aneka corak dan warna daun yang menawan. Itu pula yang membuat Fernando Manik, pehobi di Jakarta Pusat, getol mengoleksi francoisii sejak 2010. Belasan pot francoisii berjejer rapi menghuni balkon rumahnya. Salah satu klangenannya yakni francoisii berdaun oval dengan ujung runcing dan tepi bergelombang.

E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia

E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia

Urat tegas berwarna putih menghiasi daun berwarna hijau terang itu. Sepot francoisii dengan bentuk daun yang nyaris sama pun tak kalah elok. Bedanya warna dasar daun berwarna hitam dengan urat tegas berwarna merah tua. Ia juga mengoleksi sepot francoisii berwarna hijau keperakan. Bentuk daun lanset dengan pinggir bergerigi. Setiap helai daun tersusun rapi dan rimbun. Warna perak muncul dari pangkal daun dan semakin ke ujung semakin tegas.

Baca juga:  Menakar Peluang Pamelo Merah

Menurut Eko Wahyudi, pehobi euphorbia di Cianjur, Jawa Barat, para penggemar francoisii memang menggemari kecantikan daun tanaman hias itu. “Setiap francoisii memiliki karakter yang berbeda,” katanya. Ada francoisii berdaun lanset, hati, persegi, dan bulat panjang. Sementara warna daun beragam seperti hijau gelap, hijau keabuan, merah terang, dan merah kecokelatan. Struktur tulang daunnya pun banyak rupa.

“Tanaman kerabat jarak itu tergolong bandel, tahan hujan, dan panas,” katanya.Selain itu, francoisii berdaun sepanjang musim dan tidak mengenal masa dormansi atau istirahat. Lazimnya, euphorbia berkaudeks mengalami 1—2 kali masa dormansi dalam setahun ditandai dengan rontoknya daun. “Selain francoisii terdapat spesies euphorbia yang juga berdaun cantik seperti E. cremesii dan E. labatii. Namun, keduanya menggugurkan daun ketika musim kemarau,” ujar Eko Wahyudi.

Bentuk daun lanset dengan warna dasar hitam dan urat daun tegas berwarna merah membuat francoisii hibrida ini tampil menarik

Bentuk daun lanset dengan warna dasar hitam dan urat daun tegas berwarna merah membuat francoisii hibrida ini tampil menarik

Dominan

Eko menuturkan beberapa pehobi kerap menggunakan francoisii sebagai induk dalam persilangan. Tujuannya untuk mendapatkan tanaman baru dengan bentuk dan corak daun yang lebih bagus. “Francoisii mempunyai karakter dominan dalam persilangan,” ujarnya. Ia telah menyilangkan francoisii dengan spesies euphorbia lain seperti E. parvicyatophora dan E. tulearensis. Anakan yang diperoleh cenderung mengikuti gen francoisii.

Hendick Purwanto, penangkar di Bojonegoro, Jawa Timur, menuturkan ada dua jenis francoisii yakni E. francoisii var. francoisii dan E. francoisii var. crassicaulis. “Varian crassicaulis lebih mudah bercabang, mempunyai tulang daun jelas dan dominan dibanding francoisii biasa,” katanya. Dari jenis crassicaulis itu muncul E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia yang memiliki warna dan tulang daun merah.

Urat daun tegas berwarna putih selaras dengan warna dasar daun yang hijau

Urat daun tegas berwarna putih selaras dengan warna dasar daun yang hijau

Namun, terkadang juga ditemukan beberapa E. francoisii var. crassicaulis yang memiliki tulang daun halus. “Biasanya itu adalah tanaman hasil persilangan dari banyak klon francoisii maupun crassicaulis yang berbeda-beda warna dan corak daunnya,” katanya. Hendick menyilangkan E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia dengan E. ambovombensis. Ketika tanaman masih berdaun di bawah 8 helai, karakternya menunjukkan kombinasi kedua induk.

Baca juga:  Teman Sempurna Pencinta Satwa

“Sosok, corak, dan warna daun turunan francoisii, sedangkan bentuk, tebal, dan tulang daun warisan ambovombensis, ujarnya. Namun, ketika berumur setahun, karakter franco mendominasi. “Seperti yang dijelaskan oleh Eko Wahyudi, francoisii itu sulit disilangkan dengan spesies lain sebab anakan yang dihasilkan cenderung mengikuti karakter francoisii,” ujar Hendick. Meski begitu, Bagi Hendick dan Eko menyilangkan francoisii merupakan sebuah tantangan. (Andari Titisari)

Hasil silangan E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia dengan E. ambovombensis milik Hendick Purwanto

Hasil silangan E. francoisii var. crassicaulis f. rubrifolia dengan E. ambovombensis milik Hendick Purwanto

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *