Gresik Cat Lover

Komunitas Gresik Cat Lover rutin mengajak masyarakat Gresik untuk mencintai kucing.

Komunitas Gresik Cat Lover rutin mengajak masyarakat Gresik untuk mencintai kucing.

Gresik Cat Lover (GCL) komunitas peduli kucing di Gresik, Jawa Timur.

Banyak kucing mengunjungi bundaran Gresik Kota Baru (GKB), Kabupaten Gresik, Jawa Timur sejak Mei 2014. Satwa anggota famili Felidae itu berkeliaran di bundaran GKB dua kali sebulan. Kucing-kucing itu bukan hewan liar, tetapi klangenan anggota komunitas kucing bernama Gresik Cat Lover (GCL). Menurut koordinator GCL, Retno Widyowati, acara itu disebut gathering dan salah satu agenda rutin komunitas yang terbentuk pada 11 Mei 2014 itu.

“Lokasi pertemuan kami tidak hanya di bundaran GKB, tapi juga tempat lain sembari mengopi agar suasana kekeluargaan semakin kuat,” kata Retno. Pada acara itu anggota komunitas membahas permasalahan kucing dan agenda komunitas lain. Topik pebincangan meliputi cara benar merawat, menggemukkan, dan mencegah atau mengatasi penyakit kucing. Beberapa anggota GCL menguasai setiap materi. Jadi satu tema diskusi digawangi satu orang.

Kontes
Misalnya Muhammad Farikhin yang siap memberikan solusi mengatasi penyakit kucing. Menurut Farikhin 50—60% penyakit yang menyerang kucing di negara tropis seperti Indonesia adalah cendawan pada kulit. Serangan penyakit itu menyebabkan penampilan satwa kerabat harimau itu tak cantik lagi. “Kucing berbulu panjang rentan terserang penyakit itu,” kata pria kelahiran Gresik, 11 Juni 1994, itu.

Kucing domestik hasil penyelamatan anggota GCL.

Kucing domestik hasil penyelamatan anggota GCL.

Untuk mencegah serangan cendawan, mandikan kucing sekali sepekan dan sering sisir bulunya. Jika terlanjur bercendawan, oleskan salep yang beredar di pasaran pada bagian terserang. Kegiatan lain yang GCL rutin lakukan yakni street feeding. Pada acara itu mereka memberi pakan kucing-kucing malnutrisi di jalan. Beberapa anggota juga merawat kucing domestik yang sakit dari jalanan (rescue).

Baca juga:  Pakan Kering Terbaik

Selain agenda rutin, komunitas itu juga mengadakan agenda lain yang tak kalah menarik seperti kontes kucing tingkat nasional dan sosialisasi kucing ke taman kanak-kanak (TK). Pada 14 Agustus 2016 GCL menghelat cat show and cat fun. Acara itu berlangsung sukses dan meriah karena menghadirkan 170 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Malang, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, dan Surabaya.

GCL dua kali menyelenggarakan kontes kucing dan pada 2016 3 kali mengadakan sosialisasi kucing ke TK. Farikhin mengatakan anggota aktif GCL 25 orang, semula 7 orang. “Saat itu pemilik kucing banyak, tapi belum ada komunitas. Jadi kami berinisiatif membentuk GCL,” kata Farikhin. Menurut Retno 70% anggota GCL memelihara kucing berjenis persia medium dan flat. Sisanya memiliki kucing domestik dan ras lain seperti bengal, munchkin, british short hair, dan maine coon.

Suasana cat show and cat fun besutan GCL pada 14 Agustus 2016.

Suasana cat show and cat fun besutan GCL pada 14 Agustus 2016.

Lebih lanjut ia menuturkan kucing favorit setiap anggota berbeda. “Saya menyukai menyukai kucing berbulu panjang atau long hair seperti persia karena cantik,” kata perempuan pemelihara 6 kucing itu. Sementara Farikhin lebih suka kucing berbulu pendek atau short hair karena perawatan lebih mudah. Menurut Retno tidak perlu mendaftar untuk menjadi anggota GCL.

Buwuhan
“Silakan datang di acara kami dan sering kumpul bareng,” ujar perempuan kelahiran 29 November 1984 itu. Selain itu tidak harus memiliki kucing jika ingin bergabung. Yang penting harus cinta kucing. Komunitas pecinta kucing di Gresik itu juga tidak menarik uang kas. Mereka hanya mengedarkan kaleng dan anggota memberikan uang seikhlasnya.

Penggemar persia flat dan medium lebih banyak dibandingkan dengan kucing jenis lain.

Penggemar persia flat dan medium lebih banyak dibandingkan dengan kucing jenis lain.

Juri kucing nasional, Cacang Effendi, mengatakan, pencinta kucing di Jawa Timur luar biasa kompak. Ketika suatu komunitas menggelar kontes, komunitas di kota-kota lain berpartisipasi. Begitu pun sebaliknya. “Kami menyebutnya buwuhan,” kata Retno. Sejatinya buwuhan merujuk pada kegiatan menghadiri hajatan besar teman atau saudara seperti sunatan dan pernikahan.

Baca juga:  Cara Menurunkan Berat Badan Kucing Yang Berlebihan

Agar suasana kontes bernuansa seperti itu Retno dan rekan menyebutnya buwuhan juga. Contohnya ketika GCL menghelat kontes, banyak peserta yang hadir. Sebagai gantinya GCL pun terlibat pada kontes kreasi komunitas lain. Pada 2016 GCL mengikuti kontes di Pasuruan, Jawa Timur, dan meraih gelar The Best Community. Alasannya peserta kucing dari komunitas GCL terbanyak, anggota aktif, dan lokasinya paling jauh dari Pasuruan.

Lebih lanjut Cacang mengatakan kontes bagi anggota komunitas kucing di Jawa Timur bukan hanya ajang bagus-bagusan kucing, tapi juga tempat menjalin persahabatan. “Artinya sportivitas tinggi, kalah dan menang urusan belakangan,” kata orang Indonesia pertama yang meraih Service Award 2014—2015 dari Cat Fancier Association (CFA) Amerika Serikat itu. Kekompakan komunitas-komunitas kucing itu meningkatkan tren kucing di masyarakat. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d