Kompos siap pakai hasil limbah alkohol.

Kompos siap pakai hasil limbah alkohol.

Limbah vinasse dari industri bioetanol menjadi pupuk organik cair.

Produksi padi meningkat hingga 10, 3 ton, semula hanya 6,9 ton per hektare pada satu kali musim tanam. Itu setelah tim dari Universitas Setia Budi, Surakarta, Jawa Tengah, memanfaatkan pupuk organik dari vinasse atau limbah penyulingan bioetanol. Mula-mula mereka menaburkan 1,7 ton pupuk kompos per hektare secara merata ke seluruh permukaan tanah pada 7 hari sebelum tanam. Selanjutnya mereka menyemprotkan pupuk organik cair berkonsentrasi 5%.

Sejatinya pupuk itu merupakan sisa rendaman benih sehari sebelum tanam. Penyemprotan pupuk organik untuk mengaktifkan nutrien dalam kompos. Setelah itu mereka kembali menyemprotkan 100 liter pupuk organik cair berkonsentrasi 20% ke seluruh bagian tanaman setiap pekan hingga muncul bunga. Hasilnya menggembirakan. Pupuk organik dari limbah vinasse mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan padi.

Ancaman limbah
Inovasi itu solusi bagus di lahan padi di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang mencapai 119 hektare. Dari luas areal tanam itu mampu menghasilkan 1.600 ton gabah per tahun. Namun, lahan padi di desa itu kini terancam. Di sana terdapat 29 unit industri pemrosesan molase atau limbah tetes tebu menjadi alkohol berkapasitas 300 liter per unit setiap hari.

Pupuk cair organik hasil fermentasi.

Pupuk cair organik hasil fermentasi.

Pembuangan limbah cair dari hasil distilasi alkohol atau vinasse mencemari lahan sawah di desa itu. Hasil analisis tim peneliti dari Universitas Diponegoro yang diketuai Prof. Budiyono pada 2014 menunjukkan, cairan hitam kemerahan berbau menyengat itu mengandung kadar pencemar yang tinggi. Sebelum dibuang ke lingkungan, limbah berkuantitas tiga kali lipat jumlah produksi alkohol itu pun hanya didinginkan dan dicampur dengan air buangan hasil pendinginan alat penyuling.

Baca juga:  Rp 20-juta Sebulan dari Buah Naga

Berdasarkan hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo pada 2010, tingkat keasaman (pH), kadar biological oxygen demand (BOD) 5, dan kadar chemical oxygen demand (COD) cairan hasil pengenceran dan pendinginan vinasse masing-masing 4,381 mg, 2.306 mg, dan 6.453 mg per liter. Angka itu belum memenuhi baku mutu. Akibatnya kualitas tanah sawah yang tercemar vinasse pun rendah.

Hasil analisis kandungan karbon (C) organik pada sampel tanah sawah Desa Ngombakan pada 2016 menunjukkan nilai 1,32%. Merujuk hasil penelitian Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat di Kota Bogor, Jawa Barat, angka itu 3,78 kali lebih rendah dibandingkan dengan kondisi optimum yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

572_ 122Dr. Kahar Muzakhar dan Sutoyo, M.Si. dari Universitas Jember, Jawa Timur, menyatakan, pencemaran vinasse yang berkadar pencemar tinggi dalam jangka lama menyebabkan pengerasan struktur dan penurunan porositas tanah. Limbah vinasse sejatinya berpotensi menjadi penyubur tanah. Untuk mengatasi masalah itu, tim Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) Universitas Setia Budi (USB) memanfaatkan limbah vinasse.

Tabung komposter pupuk organik cair (POC).

Tabung komposter pupuk organik cair (POC).

Perlu kapur

Kotoran sapi siap pakai untuk produksi pupuk.

Kotoran sapi siap pakai untuk produksi pupuk.

Tim terdiri atas Happy Mulyani, Ifandari, dan Rahmat Budi Nugroho, melatih para petani dan industri alkohol di Ngombakan untuk mengolah vinasse, jerami padi, dan kotoran sapi menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos berkualitas. Sebelum digunakan untuk bahan baku pupuk, vinasse melalui proses praperlakuan. Caranya, siapkan dua buah drum plastik berkapasitas 200 liter. Pasang kran di ketinggian 1/3 dari tinggi drum.

Drum pertama untuk menampung larutan kapur, sedangkan yang kedua untuk proses praperlakuan vinasse. Tempatkan drum pertama di tempat yang lebih tinggi daripada drum kedua. Selanjutnya larutkan 2 kg kapur dengan air tanah (air harus bersih dan bebas kaporit) hingga tangki pertama terisi penuh. Campurkan 6,7 liter vinasse, 56 liter air tanah, dan 3,3 liter molase secara merata dalam tangki kedua.

Baca juga:  Aral Tanam Tiram

Kemudian alirkan larutan kapur dari tangki pertama hingga tangki kedua terisi penuh, lalu aduk hingga merata. Larutan vinasse pun siap digunakan untuk memproduksi pupuk organik. Bahan baku pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang kotoran sapi yang telah dikeringkan selama 1 pekan dan jerami. Di Desa Ngombakan jerami padi tersedia melimpah.

Produksi padi naik 50% dengan pemberian pupuk dari limbah industri molase.

Produksi padi naik 50% dengan pemberian pupuk dari limbah industri molase.

Bahan organik yang kaya unsur kalium itu tersedia hingga 1.190—1.585 ton per tahun. Sebelum digunakan, cacah jerami menjadi potongan 2 cm untuk mempermudah penguraian. Pembuatan pupuk organik dilakukan dalam komposter yang terbuat dari drum plastik yang dimodifikasi (lihat ilustrasi). Fermentasikan campuran 2 liter vinasse, 1 liter molase, 17 liter air tanah, 40 liter larutan kapur 1%, 3 kg kotoran sapi, dan 2 kg jerami padi dalam drum komposter.

Lama fermentasi anaerob 15 hari yang menghasilkan 30 liter pupuk organik cair dan 4,75 kg kompos. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim IbM menunjukkan, rasio karbon dan nitrogen (C/N ratio) pupuk yang dihasilkan bernilai 25,89. Nilai itu aman bagi tanah. Proses itu juga menghasilkan kadar bahan organik, fosfor (P), dan kalium (K) POC tertinggi dan kompos yang memenuhi persyaratan teknis sesuai Peraturan Menteri Republik Indonesia Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011. (Happy Mulyani, dosen Program Studi Teknik Kimia, Universitas Setia Budi, Surakarta, Jawa Tengah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d