Dendrobium kelamense berbunga pada April—Mei.

Dendrobium kelamense berbunga pada April—Mei.

Lima spesies baru anggrek dari berbagai rimba di Indonesia.

Seratus tahun lamanya para periset mencari keberadaan anggrek Dendrobium kelamense di rimba Kalimantan. Mereka berupaya menemukan tumbuhan kebanggaan Indonesia itu. Lokasi perburuan di sebuah hutan yang memiliki tingkat endemisitas yang tinggi. Upaya itu berhasil. Ketika melakukan eksplorasi, periset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala, S.P., M.Sc. menemukan Dendrobium kelamense pada salah satu batang pohon di hutan Kalimantan.

Anggrek itu amat khas, warna bunga kuning cerah dan mengilap. Di bagian mahkota dan kelopak Dendrobium kelamense terdapat bercak paralel memanjang berwarna merah marun. Ciri khas kelamense terdapat kalus berbentuk huruf ”U” di antara lobus samping dan tepi lobus tengah. Panjang batang dewasa anggrek itu 60—110 cm. Bunga muncul pada April—Mei.

Bunga wanua

D. floresianum merupakan dendrobium asal Flores dan Kalimantan.

D. floresianum merupakan dendrobium asal Flores dan Kalimantan.

Letak bunga Dendrobium kelamense menggantung dekat ujung batang. Panjang tangkai bunga 5—8,5 cm. Setiap tangkai terdiri atas 5—12 kuntum berukuran 2 cm dan panjang 3—3,5 cm. Spesies baru lainnya Dendrobium flos-wanua yang berarti “bunga wanua”. Nama itu bentuk penghargaan kepada Vincent Wanua, pehobi anggrek di Malang, Provinsi Jawa Timur. Bunga flos-wanua berwarna hijau kekuningan dan mengilap. Lebar 2,1—2,2 cm.

Ciri khas anggrek itu terdapat tonjolan kalus berbentuk huruf “U” yang melintang di bibir bunga. Sepal dan petal membuka lebar. Bagian cuping tengah bibir bunganya berbentuk segi empat dan berbelah dangkal di bagian ujung. Dalam satu dompol terdapat 2—8 kuntum bunga yang mekar bersamaan. Waktu berbunga anggrek eksotis itu pada April, Juni, dan November.

Melalui serangkaian proses penelitian, penulis berhasil mengidentifikasi beragam spesies anggrek baru genus dendrobium dari pedalaman hutan di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Bersama Peter O’Byrne, praktikus anggrek di Singapura dan J.J.Wood, peneliti di Kebun Raya Kew, Inggris, penulis berhasil mendeskripsikan lima spesies dendrobium anyar pada 2006.

D. mucrovagunatum.  Kata mucrovaginatum diambil dari karakter unik di ujung pelepah daunnya yang memiliki tonjolan sempit memanjang berujung runcing.

D. mucrovagunatum. Kata mucrovaginatum diambil dari karakter unik di ujung pelepah daunnya yang memiliki tonjolan sempit memanjang berujung runcing.

Mereka meneliti dan eksplorasi untuk menemukan spesies anggrek baru hingga kawasan timur Indonesia. Di Papua, saya bersama tim eksplorasi menemukan Dipodium brevilabium. Genus itu memiliki 25 spesies yang tersebar dari Indocina, kawasan Malesia, hingga Australia dan kepulauan Pasifik Barat.

Baca juga:  Rangkaian Unik Terbaik

Bentuk D. brevilabium bulat seperti telur terbalik berujung tumpul. Bibir bunga pendek dan lobus tengahnya membulat. Tugu bunga berukuran panjang 7—8 mm dan lebar 4—4,5 mm. Berbentuk silindris, tetapi lebar di bagian ujung. Ukuran mahkota dan kelopaknya relatif sama yaitu panjang 19—20 cm dan lebar 8—9 cm. Para taksonom dunia menganggap anggrek dipodium genus paling sulit untuk diidentifikasi sebab bentuk dan strukur bibir bunga mirip.

Endemik Papua
Dipodium termasuk salah satu jenis anggrek hyacinthus. D. brevilabium berbunga antara Juli—Agustus. Tipe pertumbuhan tanaman itu merambat pada batang pohon besar. Tangkai bunga brevilabium sekitar 27— 40 cm terdiri atas 35 kuntum. Setiap bunga berdiameter 3,3—3,7 cm dan berwarna dasar kuning dengan totol berwarna merah marun. Brevilabium adaptif di ketinggian 200—700 m di atas permukaan laut.

D. dianae berbunga sepanjang tahun dan memiliki lebar bunga 1,6—1,8 cm.

D. dianae berbunga sepanjang tahun dan memiliki lebar bunga 1,6—1,8 cm.

Anggrek itu membutuhkan intensitas sinar matahari 50—70%. Anggrek itu diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di Papua karena belum ada laporan penemuan spesies itu oleh taksonom di Papuanugini. Oleh karena itu, langkah-langkah konservasi seperti perbanyakan harus segera dilakukan. Sosok perawakan tanaman yang menarik serta bunganya berwarna mencolok sehinga berpotensi sebagai tanaman hias.

Penulis juga menemukan Dendrobium dianae yang istimewa karena berbunga sepanjang tahun. Lebar bunga 1,6—1,8 cm. Pada permukaan cuping tengah bibir bunga terdapat dua kalus sejajar yang memanjang dan membujur. Perbungaan dendrobium asal Kalimantan itu menggantung. Terdapat 4—12 kuntum yang menggerombol. Variasi warna dianae sangat beragam.

Di Kalimantan pula, penelis menemukan D. mucrovaginatum. Kata mucrovaginatum diambil dari karakter unik di ujung pelepah daunnya yang memiliki tonjolan sempit memanjang berujung runcing. Mucrovaginatum tumbuh merumpun sepanjang 30 cm. Batang bagian atas berdiameter 1 mm dan menggembung di bagian pangkal bawah sebagai tempat cadangan makanan.

D. flos-wuan, ciri khas anggrek itu terdapat pada tonjolan kalus berbentuk huruf “U” yang melintang di bibir bunga. Sepal dan petalnya membuka lebar.

D. flos-wuan, ciri khas anggrek itu terdapat pada tonjolan kalus berbentuk huruf “U” yang melintang di bibir bunga. Sepal dan petalnya membuka lebar.

Bunganya berwarna putih mungil. Lebar bunga hanya 0,8—1 cm dan panjang 1,2—1,5 cm. Kelopak bunga membuka lebar dengan proporsi bibir bunga yang cukup besar dan terdapat rambut halus di permukaan bagian depan. Di bagian pangkal kelopak samping dan bibir bunganya membentuk tabung memanjang yang berisi cairan nektar. Bentuk itu memudahkan serangga penyerbuk untuk mengisap nektar sehingga terjadi penyerbukan.

Baca juga:  Edelweis Turun Gunung

Pada rumpun tanaman dewasa, mucrovaginatum berbunga susul-menyusul sepanjang tahun. Dendrobium spesies baru itu menjadi sumber genetik yang penting. Penemuan spesies-spesies baru yang muncul hampir setiap tahun semakin membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang belum tergali secara maksimal dan masih menyimpan banyak misteri pengetahuan.

Karena Indonesia memiliki tingkat biodiversitas sangat tinggi serta bentang geografis yang unik sudah seharusnya pemerintah memberi perhatian besar terhadap sektor penelitian di bidang biodiversitas dan konservasi. Kegiatan pemanfaatan keragaman hayati Indonesia dapat bergerak lebih cepat. Bukan pihak asing yang terlalu banyak mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan biodiversitas Indonesia. (Destario Metusala S.P., M.Sc., peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, LIPI, Jawa Timur)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d