Pembuat Cantik Alami

Pembuat Cantik Alami 1
Nadya Saib dan Yasmin Indriasti (kanan) mengembangkan produk kecantikan natural.

Nadya Saib dan Yasmin Indriasti (kanan) mengembangkan produk kecantikan natural.

Ketika ahli farmasi dan manajemen bersatu, jadilah mereka sukses berbisnis kosmetik berbahan alami.

Produk kosmetik di pasaran rata-rata tahan simpan 3 tahun lebih. Tidak demikian dengan kosmetik kreasi Nadya Saib dan Yasmin Indriasti. Semata berbahan alami tanpa bahan kimia tambahan, masa pakai produk mereka hanya 1,5—2 tahun setelah kemasan dibuka. Meski masa pakai singkat, produk mereka relatif aman. Bahan baku andalan mereka antara lain air, ekstrak mawar, ekstrak apel, minyak zaitun, teh hijau, atau kunyit. “Sebisa mungkin kami menggunakan bahan baku lokal,” kata perempuan berumur 30 tahun itu.

Bahan-bahan yang tidak tumbuh di tanah air seperti zaitun, lavender, dan almon menjadi pengecualian. Meski cepat rusak, konsumen menggemari produk Nadya dan Yasmin. Ide mendirikan usaha di bidang kecantikan itu terbersit di benak Nadya pada 2008, ketika ia masih kuliah di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. “Sebenarnya keinginan memiliki usaha di bidang kecantikan muncul sejak SMA,” ujarnya. Sebagai langkah awal, ia membuat gel antibakteri jerawat dari bahan teh hijau untuk tugas akhir.

Calir atau lotion berbahan baku ekstrak air mawar.

Calir atau lotion berbahan baku ekstrak air mawar.

Bahan bermanfaat
Selepas kuliah, tugas akhir itu ia dalami. Bersama 2 rekan, Nadya memulai serius berbisnis. Nadya menginginkan produk yang berbeda dengan produk di pasaran. Secara tak sengaja ia menemukan produk sabun natural berbahan apel. Ketika ia melihat komposisinya, apel justru sama sekali absen. “Sabun natural apel tetapi tidak mengandung apel?” ujarnya. Pelabelan itu ternyata memang belum ada aturan jelas. Nadya lantas menyurvei ratusan responden tentang persepsi kata natural.

Kebanyakan responden berpendapat bahwa produk natural identik dengan baik untuk tubuh dan kulit serta aman bagi lingkungan. Responden lain menganggap natural itu tidak mengandung bahan kimia sama sekali. “Padahal itu juga tidak tepat, kita tidak mungkin hidup tanpa bahan kimia,” ujarnya. Celakanya, kebanyakan responden kadung percaya klaim natural di label tanpa mencermati komposisi bahan baku. Survei itu menjadi dasar Nadya mengusung konsep natural 100% nirbahan kimia berbahaya.

Nadya Saib memperoleh penghargaan dari British Council.

Nadya Saib memperoleh penghargaan dari British Council.

Cara pemilihannya ada dua. Pertama ketika dimasukkan dalam produk bahan kimia itu ada manfaatnya. Misalnya saja bahan pewarna. Pewarna calir sama sekali tidak bermanfaat sehingga ia tidak menambahkannya dalam produk. Itu sebabnya warna calir buatan Nadya cenderung monoton. Kedua, jika suatu bahan memiliki potensi berbahaya bagi tubuh, Nadya tidak akan menggunakannya. Pengawet golongan paraben salah satu contoh. Meski demikian, ia tetap menambahkan pengawet. “Tanpa pengawet produk cepat rusak,” ujar alumnus Sekolah Farmasi Institus Teknologi Bandung itu.

Bedanya, Nadya menggunakan pengawet berbahan alami sehingga aman bagi tubuh. Konsekuensinya, daya pengawet alami itu lebih lemah, mengakibatkan masa pakai produk mereka relatif singkat. Nadya dan Yasmin mengusung label Wangsa Jelita. Kedua kata itu berasal dari bahasa Sansekerta. Nadya menginginkan bisnis yang ia kembangkan mangandung unsur Indonesia. Sebab itulah ia mengambil nama dari Bahasa Sansekerta. Wangsa bermakna dinasti, sedangkan jelita berarti cantik.

Anda, salah satu petani mawar  mitra Wangsa Jelita.

Anda, salah satu petani mawar mitra Wangsa Jelita.

“Kami menginginkan memiliki usaha besar dan bertahan lama, seperti dinasti, yang bergerak di bidang kecantikan,” kata Nadya. Dalam perkembangannya, Nadya tidak sekadar berbisnis. Ia juga mengusung misi sosial. Bukan hanya berbisnis produk kecantikan, tetapi cara yang ia gunakan juga cantik. Yakni adanya hubungan dengan komunitas petani lokal dan pemberdayaan perempuan.

Baca juga:  Antibiotik Dari Alam

Mawar
Produk perdana Nadya adalah sabun apel. “Sabun adalah produk kecantikan yang dipakai setiap hari dan cepat habis,” tuturnya. Sebagai bahan baku ia menggunakan ekstrak apel, minyak biji apel, dan pembangkit aroma apel. Produk lain, sabun zaitun berbahan 100% minyak zaitun. Menurut Yasmin sampai saat ini total ada 10 kategori produk. Beberapa di antaranya 5 varian sabun, 2 varian calir, 3 varian scrub, 2 varian body butter, 6 varian beauty oil, minyak antinyamuk, pelembap, krim tangan, dan pembersih.

Kegiatan Wangsa Jelita Class lebih memberdayakan perempuan.

Kegiatan Wangsa Jelita Class lebih memberdayakan perempuan.

Varian yang ditawarkan berupa mawar, teh hijau, dan zaitun. Dari berbagai produk itu, beauty oil merupakan produk unggulan. Fungsi utamanya melembapkan kulit, membersihkan sisa riasan, minyak pijat, atau sekadar wangi-wangian. Selain memproduksi sendiri, Nadya juga bekerja sama dengan petani untuk menghasilkan sabun sereh, madu, dan kopi. Segmen yang mereka tuju adalah orang-orang yang tertarik dengan bahan natural atau organik. Selain itu, mereka juga menyasar ibu-ibu muda.

Sebab itulah pada 2015 Wangsa Jelita mengembangkan produk menyasar ibu hamil seperti minyak pijat dan antikerutan berbahan zaitun. Meski demikian, produk itu juga bisa digunakan perempuan yang tidak hamil. Merintis bisnis dari nol bukan hal mudah. Pada 2008, Nadya bersama 2 rekan membuat sabun lalu memakai sendiri. Setelah yakin, barulah ia membagikan sabun itu kepada keluarga, teman, dan orang-orang di dekatnya. Perlahan pelanggan mulai datang. “Yang merasa cocok tertarik dan mulai membeli,” ungkapnya mengenang.

Pengemasan Wangsa Jelita sebagai hadiah.

Pengemasan Wangsa Jelita sebagai hadiah.

Mengusung Wangsa Jelita, Nadya beberapa kali menjuarai kompetisi business plan. Dari kompetisi itu ia menjalin jaringan dengan beberapa pelaku bisnis lain sekaligus membuka akses pasar. Buktinya, berkat mengikuti kompetisi itu ia bisa mengekspor produk ke Singapura. “Itu pertama kali kami menjual produk ke luar negeri,” ujarnya. Nadya juga kerap mengikuti pameran untuk memperkenalkan produknya. Media sosial juga ia jadikan sarana promosi.

Penjualan langsung
Pada 2009, muncul ide membuat sabun khas Bandung. “Awalnya ingin membuat sabun stroberi,” ujarnya. Nadya secara kebetulan bertemu dengan kelompok tani mawar di Lembang, Bandung Barat. Ketika ia membandingkan, ternyata petani mawar dan petani stroberi berbeda jauh. Penjualan buah stroberi relatif mudah. Permintaan stabil, tren bagus, kafe pun banyak. Sebaliknya, bunga mawar hanya laku pada waktu-waktu tertentu seperti hari Valentine, wisuda, ataupun pada bulan-bulan ketika banyak orang menikah.

Baca juga:  Menjala Berkah Laut

Toh, khasiat untuk kecantikan tetap menjadi pertimbangan utama. Pada 2010 Nadya mengusung konsep bisnis sosial bekerja sama dengan kelompok tani. Bisnis Nadya mulai berkembang. Dari semula hanya bertiga, kini ia mempekerjakan 10 orang. “Kapasitas produksi minimal 35 kg per produksi,” kata Yasmin. Pada 2012 Nadya dan Yasmin mengubah pola penjualan. “Sebelumnya kami menjual produk ke perusahaan sebagai corporate gift,” ujarnya. Mereka lalu melakukan evaluasi dan mengubah sistem penjualan.

Nadya ingin memperkenalkan konsep natural yang sebenarnya. Ia pun membidik orang-orang yang benar-benar menggunakannya. Itu sebabnya ia langsung menjual kepada konsumen akhir. Nadya dan Yasmin pun menyiapkan ritel untuk memasarkan produknya dan sejak 2014 mereka menjual secara daring (online). Dengan cara itu, pemasaran mencapai seluruh Indonesia. Ia juga menjual produk melalui beberapa outlet di Jakarta dan Bandung. Tidak hanya pasar domestik, Nadya juga beberapa kali mengirim produk ke Singapura dan Malaysia.

Beragam produk Wangsa Jelita.

Beragam produk Wangsa Jelita.

Dalam menjalani bisnisnya Nadya dan Yasmin bekerja sama dengan komunitas petani lokal. Misalnya saja kelompok tani mawar di Lembang atau petani di Sarongge, Cianjur, Jawa Barat. Petani menjual mawar berkualitas bagus kepada pengepul. Adapun mawar berkualitas C—tangkai pendek tetapi petal sehat—mereka jual kepada Nadya. Baginya itu tidak masalah untuk mengambil ekstraknya. Petani sereh di Sarongge meringankan kerja Nadya. Mereka mampu menyuling minyak sereh berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan Nadya sebanyak 2—3 liter per bulan. Petani di Sarongge juga mampu membuat sabun sereh sehingga ia tinggal menjualkan.

Prospek cerah
Yasmin yakin bahwa bisnis kosmetik berbahan natural berprospek cerah. “Kesadaran masyarakat meningkat, orang yang peduli dengan bahan natural semakin banyak,” jelasnya. Pengalamannya selama beberapa tahun mengikuti pameran, penjual produk natural dan pengunjung semakin bertambah. Apalagi saat ini apresiasi masyarakat terhadap produk lokal meningkat. “Dulu dianggap nomor dua, produk lokal justru dicari,” katanya. Efeknya penjualan produk Wangsa Jelita juga cukup bagus.

“Pada 2015—2016, penjualan naik 100% lebih,” tutur Yasmin. Namun, Nadya melihat tren pasar produk kecantikan berfluktuasi. Penjualan tinggi pada Januari—Februari lalu menurun pada Maret hingga hari raya Idul Fitri. Setelah itu biasanya penjualan kembali naik. Nadya menjelaskan, “Tantangan bagi kami saat ini menyediakan produk sesuai kebutuhan konsumen dan cocok untuk berbagai aktivitas,” ungkapnya. Saat ini ia sedang mempromosikan beauty oil yang multifungsi. Pembelian cukup satu tetapi memberikan banyak manfaat.

Nadya tidak hanya sekadar menjual produk kecantikan. Ia juga kerap memberikan edukasi melalui wadah belajar bersama yang ia namai Wangsa Jelita Class. Tema yang diusung di setiap kegiatan beragam, antara lain manajemen keuangan keluarga dan keseimbangan tanggung jawab di dalam dan luar rumah. Ia mentargetkan perempuan 25—35 tahun dan memilih hidup sehat. “Wangsa Jelita Class meningkatkan keberdayaan perempuan. Itu yang membedakan kami dengan produsen lain,” kata Nadya.

Berbagai upaya itu membuat Wangsa jelita meraih berbagai penghargaan. Nadya menjadi finalis pada Ernst and Young Social Entrepreneur 2012. Setahun sebelumnya, ia masuk 10 besar Project 5 Minutes to Change the World dari UN Women and Master Card. ia juga memenangkan penghargaan komunitas British Council Community Entrepreneur Challenge pada 2010. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x