Pemacu Produksi Tiram 1
Trichoderma menjadi ancaman untuk produksi jamur tiram

Trichoderma menjadi ancaman untuk produksi jamur tiram

Para produsen memanfaatkan bahan nabati dan mikroorganisme untuk meningkatkan produksi jamur tiram.

Cendawan trichoderma memang momok bagi pekebun jamur tiram. Pipin Apriatna acap menemukan serangan cendawan itu ketika menyambangi pekebun jamur tiram di Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang—semuanya di provinsi Jawa Barat sejak 2002. Ayah 2 anak itu berprofesi penyuluh pertanian di Kabupaten Subang. Pipin menyaksikan banyak pekebun mengeluh karena serangan penyakit itu. Akibatnya produksi jamur tiram tidak maksimal.

“Banyak baglog jamur yang terinfeksi trichoderma tidak bisa berproduksi,” kata alumnus Universitas Al Ghifari itu. Itu yang mendorong Pipin membuat “obat” berbahan bakteri. Sayang ia enggan membeberkan bahan penunjang lain. Pipin menguji coba hormon—sebutan para pekebun—itu di berbagai kumbung. Hormon itu manjur melenyapkan trichoderma. Sayangnya setelah trichoderma mati, jamur tiram pun ikut layu kecokelatan seperti membusuk. Namun, sepekan kemudian setelah disemprot ulang dengan hormon yang sama, jamur tiram layu itu dapat tumbuh kembali.

Hormon untuk jamur mulai banyak dikenal pekebun jamur tiram

Hormon untuk jamur mulai banyak dikenal pekebun jamur tiram

Seleksi bakteri

Menurut Pipin, “Bakteri pada hormon itu bersifat membunuh trichoderma. Pada kasus tiram, karena sesama jamur, bakteri itu ternyata berefek sama.” Meski sempat kondang di kalangan pekebun pada 2009, hormon buatan Pipin itu lenyap dari pasaran. Pria 49 tahun itu berhenti berproduksi. Musababnya pekebun-pekebun jamur yang setia memakai hormonnya berhenti berproduksi. “Harga jamur tiram saat itu rendah sehingga mereka beralih ke komoditas lain,” katanya.

Masa vakum produksi hormon itu berlangsung selama satu tahun hingga awal 2011. Kemudian peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, Jawa Barat, Ir Diny Djuariah, pada medio 2011 memintanya untuk memproduksi hormon itu. Belajar dari pengalaman pertama, Pipin lebih ketat menyeleksi bakteri dari Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tanaman (BPPOPT) di Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Baca juga:  Garut Simpan Pisang Unik

“Pembuatan hormon itu mirip MOL (mikroorganisme lokal, red), tetapi media pembiakkan memakai buah dan sayuran organik berserat dan kadar gula tinggi,” ujar Andiatma Darwis Satari, putra Pipin yang kini menjadi penerus pembuatan hormon itu. Sejauh ini Darwis dan Pipin menolak membeberkan secara spesifik bakteri terseleksi pada produk hormon yang disebut Oyster Liquid Accelerator (OLA) itu. Sejak Diny meminta produksi kembali, hormon kembali beredar di pasaran.

“Hormon ini bersifat dominan, sehingga mampu menekan pertumbuhan trichoderma,” ujar Andiatna Darwis Satari

“Hormon ini bersifat dominan, sehingga mampu menekan pertumbuhan trichoderma,” ujar Andiatna Darwis Satari

Penggunaan hormon pada budidaya jamur terbilang mudah. “Hormon dapat dicampur pada media sebelum baglog disterilisasi dan atau disemprotkan setelah masa sterilisasi selesai,” ungkap Darwis. Namun, Darwis lebih menyarankan pemberian hormon hanya dilakukan pascasterilisasi. Sebab, bakteri pada hormon akan mati saat proses sterilisasi yang menggunakan panas di atas 100°C. Meski demikian pemberian hormon sebelum sterilisasi tetap penting. “Kehadiran hormon pada proses pencampuran media dapat mereduksi kebutuhan dedak,” ujar Darwis.

Dedak berperan memenuhi kebutuhan karbon, vitamin B1, dan B2 untuk pertumbuhan jamur. Kehadiran hormon yang mensubstitusi dedak dapat mengurangi risiko pertumbuhan jamur selain tiram. Pekebun mencampur 100 ml hormon dalam 30 liter air. Itu memadai untuk pembuatan 2.500 baglog. Dosis itu tentu berbeda saat hormon diberikan pascasterilisasi. Untuk menyemprot   2.500 baglog pekebun perlu 150 ml hormon dan 16 liter air.

Agar bakteri dapat bekerja maksimal, penyemprotan sebaiknya dilakukan 7 jam sebelum panen. Pemberian hormon setiap 3 hari sekali menjadi penting untuk memastikan populasi bakteri tetap tinggi sehingga mampu menekan kemunculan trichoderma. Cara kerja hormon generasi ke-2 buatan Pipin itu memang sedikit berbeda dengan hormon yang pernah ia buat pada 2009. Bakteri pada hormon itu bersifat dominan dan cepat tumbuh. Dampaknya trichoderma dan jamur lain selain tiram kalah cepat untuk tumbuh di media.

“Saya membuat hormon untuk jamur sejak 2009,” kata Pipin Apriatna

“Saya membuat hormon untuk jamur sejak 2009,” kata Pipin Apriatna

Laku keras  

Baca juga:  Kilat Kupas Kentang

Kandungan selulosa dan glukosa yang tinggi pada hormon itu menyulap serbuk gergaji pada media menjadi makanan cepat saji untuk miselium. Bakteri membantu mengurai susunan rantai karbon serbuk kayu yang masih kompleks dengan memecah dan memotong rantai itu menjadi gula rantai pendek atau monosakarida. Akibatnya jamur tiram lebih mudah memanfaatkannya untuk pertumbuhan. Hasilnya masa produksi lebih cepat sekaligus hasil meningkat.

Produsen hormon lain, PT Flamboyan Agro Makmur, memanfaatkan rumput laut Ascophyllum nodosum yang diperkaya zat perangsang tumbuh seperti sitokinin, giberelin, dan auksin. Menurut Tejo Purnomo, distributor di Surabaya, Jawa Timur, pemberian hormon dilakukan dengan menyuntikkan atau menyemprotkan di baglog. “Hasilnya jamur lebih kenyal, tebal, serta berukuran lebih lebar,” kata Tejo.

Aturan pakai untuk penyuntikan yaitu 5 cc per baglog, sedangkan penyemprotan 1 liter untuk 1.500 baglog. Menurut Tejo produksi hormon memakai nanoteknologi dengan memaksimalkan kerja hormon dalam ukuran mikron sehingga bahan dapat maksimal diserap oleh jamur. Sejauh ini hormon produksi Pipin dan Flamboyan laku keras di pasaran. Menurut Darwis saat ini permintaan hormon mencapai 300 liter per bulan.

Volume itu baru separuh dari permintaan yang masuk. Bahkan Balitsa secara rutin meminta 100 liter per bulan. “Salah satu kendala adalah keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya. Namun volume itu sudah meningkat 300% dibandingkan 2012 yang hanya 100 liter per bulan. Darwis menjelaskan untuk membuat 300 liter hormon membutuhkan waktu 4 hari dengan masa fermentasi selama 2 pekan. “Masa simpan hormon mencapai 3 bulan,” kata pria 22 tahun itu. Namun setelah 3 bulan bau hormon itu berubah seperti bau kotoran, tidak sesegar sebelum 3 bulan. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *