Rumah makan di berbagai kota menyajikan puyuh sebagai menu utama.

Rumah makan di berbagai kota menyajikan puyuh sebagai menu utama.

Peluang membesarkan puyuh jantan untuk memasok restoran. Selama ini pejantan terbuang.

“Citarasannya enak dan bertekstur lembut,” kata Doddy Koesharsanto saat menyantap puyuh goreng. Itu kali pertama Doddy mencicipi daging Coturnix coturnix japonica selezat itu. Sebelumnya ia kerap mencicipi olahan puyuh di warung pinggir jalan atau rumah makan. Pada Desember 2015 itu Pemimpin Kantor Cabang Sukabumi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk itu berkunjung ke Slamet Quail Farm (SQF) di Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Pemilik SQF, Slamet Wuryadi, menyajikan menu puyuh renyah. Hidangan itu memang spesial karena menggunakan puyuh jantan muda yang telah dipisahkan dari puyuh betina saat masuk fase layer. Oleh karena itu tekstur daging lembut dan empuk. Lazimnya masyarakat memanfaatkan daging puyuh dari betina apkir yang tidak produktif. Sajian puyuh itu hanya untuk tamu yang datang ke peternakan Slamet.

Restoran memanfaatkan puyuh jantan untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Restoran memanfaatkan puyuh jantan untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Semua untung
Slamet Wuryadi menggemukkan puyuh Coturnix coutrnix japonica jantan hingga berumur 30—40 hari. Saat itu bobot puyuh berkisar 100—200 g per ekor. Slamet mendapatkan puyuh jantan dari peternakan sendiri. Dalam sebulan ia menghasilkan 20.000 puyuh. Slamet melego puyuh berbobot 100 g seharga Rp4.500 per ekor dan puyuh berbobot 200 g dibanderol Rp9.000. Artinya omzet minimal Slamet mencapai Rp90-juta per bulan.

Setelah dikurangi ongkos produksi, Ketua Umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) itu mendapat laba Rp30-juta. Slamet menjual puyuh ke beberapa rumah makan di berbagai daerah seperti di Sukabumi (Jawa Barat), Yogyakarta, dan Surabaya (Jawa Timur). Lebih lanjut ia mengatakan daging puyuh dijajakan mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran.

Warung Sangrai pun mendulang laba dari daging burung anggota famili Phasianidae itu. Rumah makan yang beroperasi sejak 2011 itu mendapat omzet Rp223-juta per bulan. Itu hasil penjualan 10.000 puyuh lokal dan puyuh perancis dari seluruh cabang di Bandung (2 gerai) dan Jakarta (5 gerai). Rinciannya 7.000 menu puyuh lokal seharga Rp19.000 per porsi dan 3.000 olahan puyuh perancis yang dibanderol Rp30.000 per porsi.

Permintaan puyuh pedaging di Pulau Jawa mencapai 1-juta ekor per bulan.

Permintaan puyuh pedaging di Pulau Jawa mencapai 1-juta ekor per bulan.

Puyuh lokal berbobot 250—300 g, sedangkan bobot puyuh perancis 400—500 g. Pasokan berasal dari peternak di Yogyakarta. Puyuh yang digunakan bukan apkir. Memang puyuh pedaging. Semula rumah makan di Bandung, Jawa Barat, itu, mengunggulkan masakan khas nusantara. Pada 2013 rumah makan yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat itu menambahkan puyuh rawit dan puyuh endeus sebagai menu utama.

Menguntungkan
Menurut Chef Corporate Warung Sangrai, Cepi Priatna Kurnia, “Pemilihan puyuh karena unggas itu dipercaya rendah kolesterol.” Respons masyarakat luar biasa dengan menu baru itu. Buktinya pada 2015 cabang Warung Sangrai bertambah menjadi 7 buah, semula 1 gerai pada 2011. Menurut Cepi pasokan saat ini belum memenuhi permintaan konsumen.

Slamet Wuryadi meraih laba minimal Rp30-juta per bulan dari puyuh pedaging.

Slamet Wuryadi meraih laba minimal Rp30-juta per bulan dari puyuh pedaging.

“Total semua gerai memerlukan 20.000 puyuh tiap bulan,” kata pria kelahiran Bandung, 25 Mei 1982 itu. Sayangnya Cepi tidak menerima puyuh dari tempat lain untuk menambal kekurangan pasokan. Padahal, kapasitas peternak mitra saat ini 10.000 ekor per bulan. Penyebabnya Warung Sangrai sudah menjalin kontrak dengan peternak.

Baca juga:  Ferdinand Cheng: Cetak Lovebird Jawara

Tidak hanya rumah makan yang mendapat keuntungan dari daging puyuh. Peternak pemasok pun mendapat rupiah dari penggemukan puyuh. Sukma Ardiansah dan Imam Samsudin misalnya. Kedua peternak di Kediri, Jawa Timur, itu, memasok kebutuhan rumah makan di bilangan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sukma mendapat untung Rp1-juta per bulan dari perniagaan 2.000 daging puyuh per bulan.

Sementara Imam mampu menyuplai 6.000 daging burung bersosok imut itu saban bulan seharga Rp4.500/ekor. Total jenderal Imam memperoleh omzet Rp27-juta. “Saya mengutip laba Rp500—Rp700/ekor,” kata peternak berusia 49 tahun itu. Artinya Imam meraih keuntungan bersih minimal Rp3-juta/bulan. Daging puyuh yang dikirim ke Ibukota sudah disembelih dan dibekukan.

Masyarakat mengenal puyuh sebagai penghasil telur.

Masyarakat mengenal puyuh sebagai penghasil telur.

Prospek bagus
Lalu mana yang lebih menguntungkan antara beternak puyuh petelur atau puyuh pedaging? Sukma dan Imam sepakat beternak puyuh jantan lebih menguntungkan. Sebab waktu pemeliharaan relatif singkat. Peternak memanen puyuh saat berumur 35—40 hari. Di umur yang sama puyuh petelur juga belajar bertelur. Selain itu, “Harga bibit puyuh jantan lebih murah daripada puyuh petelur,” kata Imam yang beternak puyuh jantan sejak 2000.

Ia merogoh kocek Rp80 per ekor untuk mendapatkan puyuh jantan. Bandingkan dengan harga bibit petelur yang mencapai Rp6.000 per ekor. Bahkan pada 2005 Sukma mendapatkan puyuh jantan gratis. Harap mafhum di Kediri, Jawa Timur, puyuh jantan lazim menjadi pakan lele. Sepengamatan Imam harga telur puyuh juga tidak stabil karena sering turun. “Pedaging mesti untung sedikit, yang penting rutin, dan tidak sampai rugi,” kata Imam.

Puyuh perancis disebut manuk londo alias malon berbobot besar cocok untuk puyuh pedaging.

Puyuh perancis disebut manuk londo alias malon berbobot besar cocok untuk puyuh pedaging.

Peternak mesti melewati jalan berliku sebelum sukses mendapat laba puyuh pedaging. Sukma menyarankan agar peternak memiliki pasar dahulu sebelum budidaya puyuh pedaging. Dengan begitu peternak tidak perlu bingung menjual hasil panen. Mayoritas peternak seperti Imam dan Sukma telah menjalin kerjasama dengan rumah makan atau pemasok. Kendala lain permintaan daging puyuh menurun.

Baca juga:  Burung Cerdas Asal Argentina

Pada 2005 Sukma rutin memasok 1.000—2.000 puyuh pedaging, kini ia hanya memasok 500 ekor per pekan. Menurut permintaan paling tinggi terjadi pada 2007—2008. “Saat itu kami mengirim 4.000 ekor per pekan dengan 2 kali pengiriman,” kata pria berumur 29 tahun itu. Imam pun mengeluhkan hal serupa. Pada 2011 pasar menyerap berapa pun hasil panen pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, itu.

Peternak di Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Kusmono dan Mujiyono malah berencana berhenti memelihara puyuh pedaging pada 2016. Semula Mujiyono dan Kusmono rutin mengirim 3.000 ekor per pekan ke tempat Slamet. Namun, sejak awal 2015 hampir tidak ada permintaan lagi. Kusmono mengatakan sebetulnya beternak puyuh pedaging menguntungkan. Syaratnya peternak mesti bisa memasarkan sendiri produknya.

Di Kediri puyuh pejantan menjadi limbah.

Di Kediri puyuh pejantan menjadi limbah.

Kusmono, Mujiyono, dan Puji Astuti (dari kiri) tertarik beternak puyuh pedaging karena ada permintaan.

Kusmono, Mujiyono, dan Puji Astuti (dari kiri) tertarik beternak puyuh pedaging karena ada permintaan.

Jemput konsumen
Menurut Slamet sebetulnya permintaan puyuh pedaging relatif tinggi. Hitungan Slamet kebutuhan puyuh pedaging di Pulau Jawa mencapai 1-juta ekor per bulan. Permintaan puyuh pedaging tidak hanya dari dalam negeri. “Bahrain, dan Dubai meminta pasokan 1-juta daging puyuh per bulan,” ucap pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah, itu.
Ternyata tidak selamanya beternak puyuh pedaging mesti membentuk pasar dahulu. Buktinya Faisal Idris SFarm.

Penggemukan puyuh yang ia lakukan terus berkembang meski saat itu pasar belum terbentuk. Pada awalnya Faisal mendapat omzet Rp112.500 dari penjualan 25 puyuh pedaging seharga Rp4.500. Ia mengutip laba Rp500 per ekor sehingga mendapat untung Rp12.500.

Chef Corporate Warung Sangrai, Cepi Priatna Kurnia.

Chef Corporate Warung Sangrai, Cepi Priatna Kurnia.

Kini Faisal memperoleh omzet Rp 500.000. Itu hasil perniagaan 50 puyuh pedaging seharga Rp10.000 per ekor saban bulan. Omzet masih relatif kecil karena pembesaran puyuh usaha sampingan Faisal. Faisal beternak puyuh pedaging sejak 2013. Ia belum pernah sekali pun berternak puyuh sebelumnya. Informasi seputar budidaya ia dapatkan dari dunia maya. “Awalnya saya tertarik budidaya puyuh karena hobi,” kata peternak di Parung, Bogor, Jawa Barat, itu.

Menurut Faisal beternak puyuh pedaging relatif mudah. Ia membeli anakan puyuh berusia 1 pekan seharga Rp7.500 per ekor. Setiap hari ia memberikan pakan berupa dedak, bekatul, dan beberapa viatamin. Pemberian pakan 2 kali sehari. Rata-rata waktu pemeliharaan 30—45 hari. Ia menghabiskan 30 kg pakan untuk kandang berpopulasi 100—200 ekor dalam satu siklus.

Faisal budidaya puyuh pedaging sebagai usaha sampingan

Faisal budidaya puyuh pedaging sebagai usaha sampingan

Pria kelahiran Jakarta itu panen tiap bulan jika puyuh pedaging berbobot 150 g. Ia lalu menyembelih dan mengeluarkan isi perut sehingga bobot burung itu menjadi 100 g per ekor. Pemasaran melalui dunia maya. Konsumen datang langsung ke rumah. Agar penjualan maksimal ia pun kerap menawarkan rumah makan agar menyediakan puyuh dalam menu.

“Kuncinya harus cari pelanggan, jangan hanya menunggu,” kata alumnus Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor itu. Menurut Faisal permintaan puyuh pedaging tinggi. Ia berencana menambah populasi menjadi 1.000 ekor karena ada permintaan sekitar 300 puyuh pedaging per pekan dari pabrik dan restoran di Jakarta. Tertarik beternak puyuh pedaging? (Riefza Vebriansyah/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Gizi Puyuh

Gizi Puyuh

Wajib Baca: Analisis Usaha Beternak Puyuh Pedaging

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d