Peluang Bisnis Besarkan Nila

Peluang Bisnis Besarkan Nila 1
Permintaan nila tinggi di dalam dan luar negeri.

Permintaan nila tinggi di dalam dan luar negeri.

 

Pasar dalam dan luar negeri mencari nila.

Pandu Sujatmiko kewalahan memenuhi permintaan nila.

Pandu Sujatmiko kewalahan memenuhi permintaan nila.

Pekerjaan sampingan Pandu Sujatmiko S.E. semula membudidayakan ikan nila. Saat itu pendapatan Pandu Rp1 juta per bulan dari hasil beternak nila dan serabutan seperti menjadi petani padi. Kini membesarkan Oreochromis niloticus menjadi sumber penghasilan utama Pandu. Pada pengujung Mei 2018 ia mengantongi omzet Rp70 juta dari hasil penjualan 2,5 ton nila merah.

Peternak di Desa Nganjat, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu mengeluarkan biaya produksi Rp48,5 juta sehingga menuai laba Rp21,5 juta per 2 pekan. Menurut Pandu biaya itu sebagian besar atau 60—65% untuk pakan. Rasio konversi pakan atau Feed Conversition Ratio (FCR) nila mencapai 1,4—1,5. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging nila, peternak membutuhkan 1,4—1,5 kg pakan.

Hari raya

Sebelumnya profit Pandu mencapai Rp15 juta dari hasil perniagaan 2 ton nila merah. Total jenderal rekening tabungan Pandu bertambah Rp36,5 juta pada Mei 2018. Ia memanen nila dua kali sebulan. Penghasilan Pandu itu lebih besar dibandingkan dengan pendapatan pada bulan lainnya karena harga jual nila lebih tinggi, yakni Rp28.000 per kg. Harga normal Rp24.000—Rp25.000 per kg.

Harga jual ikan anggota famili Cichlidae itu cenderung melonjak menjelang Idul Fitri lantaran permintaan relatif banyak, tapi pasokan sedikit. Meski begitu saat harga nila normal pun pendapatan Pandu menggiurkan, yakni Rp20 juta—Rp30 juta sebulan dari dua kali panen. Ia mengelola 12 kolam pembesaran masing-masing berukuran 100 m2. Agar mampu panen berkesinambungan, Pandu menebar 3—4 kuintal benih per kolam setiap sebulan sekali.

Pandu membesarkan 3—4 kuintal tilápia atau nila berukuran 2 jari di kolam berukuran 100 m². Berselang 3,5—4 bulan ia memanen 2—3 ton nila dari satu kolam. Ia menjual hasil panen ke pengepul yang menghendaki 1 kg berisi 3—5 ekor.

Baca juga:  Adu Cantik Kelinci

Pandu memasarkan sendiri ikan konsumsi itu yang tidak memenuhi spesifikasi pengepul. “Saat ini saya menjual sendiri nila yang berisi 6—7 ekor per kilogram ke sebuah yayasan,” kata pria berumur 47 tahun itu. Ia melakukannya sejak 2013 agar semua hasil panen terjual.

Tantangan beternak nila antara lain menurunnya kualitas air dan harga pakan yang cenderung meningkat.

Tantangan beternak nila antara lain menurunnya kualitas air dan harga pakan yang cenderung meningkat.

Kapasitas produksi Pandu 3—4 ton per bulan. Bandingkan dengan permintaan yang mencapai 8 ton per bulan. Artinya ceruk pasar tersedia sekitar 4 ton per bulan. Permintaan tinggi itulah yang mendorong Pandu membudidayakan ikan introduksi dari Afrika itu.

Pandu pun yakin masa depan bisnis nila cerah. “Musababnya permintaan nila tinggi,” kata pria kelahiran 17 Juli 1971 itu. Buktinya bisnis Pandu berkembang. Pada 2005 ia hanya memiliki 2 kolam pembesaran berkapasitas 1,5 ton per 3 bulan. Kini Pandu mempunyai 12 kolam pembesaran berkapasitas 3—4 ton per bulan. Indikator bagusnya bisnis nila juga tercermin dari permintaan benih ikan itu.

Benih nila

Nun di Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Wahyu Setiawan, juga kewalahan memenuhi permintaan benih nila. Pembenih nila sejak 2014 itu mengatakan permintaan yang datang mencapai 3 juta benih setiap bulan. Padahal, Wahyu hanya memproduksi 1 juta benih saban bulan. Jumlah permintaan itu hanya untuk melayani peternak di Tasikmalaya.

Filet nila salah satu andalan ekspor Indonesia.

Koleksi Philips Foods Inc,  Filet nila salah satu andalan ekspor Indonesia.

Sebetulnya permintaan benih juga datang dari Jambi, Pekanbaru (Riau), dan Papua yang mencapai sekitar 2—3 juta per bulan. “Permintaan itu belum terlayani,” kata peternak nila sejak 2009 itu. Wahyu memasarkan bibit aneka ukuran yaitu sejempol, satu jari, dua jari, dan tiga jari. Ia menjual bibit berumur minimal 50 hari itu Rp25.000—Rp30.000 per kilogram. Kini ia memiliki lebih dari 900 indukan terdiri atas 400 jantan dan 500 betina. Induk nila siap berpijah pada umur 6 bulan.

Baca juga:  Omzet Besar Jambu Kristal

Menurut Wahyu prospek bisnis nila di Indonesia sangat bagus. Apalagi kini muncul teknologi baru, yakni budidaya nila berteknologi bioflok. Peternak dapat meningkatkan padat tebar hingga minimal 1.000%. Jika semula peternak hanya menebar 10 ekor benih per m2, kini dengan bioflok padat tebar mencapai 100—150 ekor per m³ (baca: Nila: Kian Padat, Laba Berlipat halaman 50—53).

Keunggulan nila antara lain mudah dibudidayakan, mengandung omega 3 dan 6, serta bercita rasa lezat. Lebih lanjut ia mengatakan nila berbobot 300—400 gram dan berumur 5 bulan ideal untuk dikonsumsi. Nila ukuran konsumsi menjadi rebutan di Tasikmalaya. Wahyu tidak mengetahui pasti kebutuhan nila di Tasikmalaya. Ia menduga jika ada panen 6—10 ton pun sehari pun pasti ludes.

Peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Bogor, Jawa Barat, Otong Zaenal Arifin, S.Pi., M.Si., pun menuturkan prospek pasar nila masih bagus. Kebutuhan dalam negeri sebagai ikan konsumsi dan ekspor tinggi. Data dari Laporan Kinerja Kementerian Keluatan dan Perikanan 2015 menunjukkan Indonesia mengekspor 14.735 ton nila senilai US$89.817.

Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan ekspor pada 2012 yang termaktub dalam Statistik Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditi, Provinsi dan Pelabuhan Asal Ekspor yakni 13.239 ton yang bernilai US$77.272. Salah satu produk nila yang diminati pasar mancanegara yakni filet.

Menurut Pandu produsen menghendaki ikan berbobot lebih dari 5 ons untuk pembuatan filet nila. Otong juga mengatakan keunggulan nila dibandingkan dengan ikan konsumsi lain yakni bertekstur daging lebih kompak seperti gurami dan mudah dibudidayakan. Meski begitu menurunnya kualitas air dan meningkatnya pakan menjadi aral. Jika bisa mengatasinya, maka peternak meraih keuntungan. (Riefza Vebriasnyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x