Peluang Besar Pangan Organik 1
Pada 2012 penjualan produk organik di Eropa 21-miliar Euro setara Rp315-triliun

Pada 2012 penjualan produk organik di Eropa 21-miliar Euro setara Rp315-triliun

Permintaan pangan organik melambung pesat. Peluang usaha untuk memasok kebutuhan gaya hidup sehat.

Permintaan produk organik di berbagai negara kian meningkat. Menurut Direktur Pelayanan Organik GmbH (Gesellschaft mit beschränkter Haftung), Munich, Jerman, Mildred Steidle, itu menandakan kesadaran masyarakat akan bahaya pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian juga meningkat. Pertanian organik menarik perhatian produsen maupun konsumen. Kebanyakan konsumen memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

Mildred Steidle dalam presentasinya di acara pelatihan Produksi, Sertifikasi Pangan Organik, dan Akses Pasar yang diselenggarakan oleh Asian Productivity Organization bekerjasama dengan di Jakarta menuturkan bahwa penjualan produk organik di Eropa 4,5-miliar Euro setara Rp67,5-triliun pada 1997. Selang 15 tahun, angka penjualan itu meningkat amat signifikan. Pada 2012 penjualan pangan organik di benua biru menjadi 21-miliar Euro (Rp315-triliun).

Ong Kung Wai (kiri), luas lahan pertanian organik di Asia meningkat rata-rata 0,26-juta ha per tahun

Ong Kung Wai (kiri), luas lahan pertanian organik di Asia meningkat rata-rata 0,26-juta ha per tahun

Lahan organik
Permintaan produk organik di Asia pun meningkat. Menurut Ong Kung Wai, ketua perserikatan organik Malaysia, konsumsi makanan organik penduduk Cina 1,01% dari total konsumsi makanan pada 2012. Angka itu meningkat dibandingkan 2007 yang hanya 0,36%. Toshiaki Takahashi dari Asosiasi Pangan Organik dan Alami Jepang menuturkan, permintaan produk organik di negeri Matahari Terbit juga terus meningkat.

“Itu karena konsumen semakin sadar tentang keamanan pangan terutama setelah adanya kecelakaan pembangkit nuklir,” kata Takahashi. Meningkatnya permintaan produk organik mendorong perluasan lahan organik. Di Eropa lahan pertanian organik terus meningkat, 0,5-juta ha pada 1993 menjadi 11,2-juta ha pada 2012. Artinya, setiap tahun lahan organik bertambah rata-rata 0,5-juta ha.

Sementara di Asia lahan pertanian organik meningkat rata-rata 0,26-juta ha per tahun. “Pada 2000 lahan pertanian organik di Asia seluas 0,06-juta dan pada 2012 meningkat menjadi 3,22-juta ha,” kata Ong Kung Wai. Dari luasan itu, Indonesia menduduki peringkat ketiga—setelah Cina dan India—yang memiliki lahan pertanian organik terbesar di Asia. Berdasarkan survei Institut Pertanian Organik (FiBL) dan Gerakan Internasional Pertanian Organik (IFOAM) pada 2014, luas lahan pertanian organik di Indonesia 88.247 ha pada 2012.

Baca juga:  Ciherang Wangi Pandan

Menurut Agung Prawoto, direktur BIO-Cert Indonesia, pertanian organik di Indonesia memang semakin meningkat. “Kami pernah melakukan survei. Hasilnya pada 2002 konsumen mempertanyakan apa itu produk organik, pada 2005/2006 konsumen menanyakan di mana beli produk organik, dan pada 2010 mereka menanyakan apa benar ini produk organik,” katanya. Dari survei itu menandakan konsumen semakin tahu tentang produk organik dan semakin perduli mengenai kepastian atau jaminan akan produk organik.

Berdasarkan survei FiBL-IFOAM pada 2014 Indonesia menduduki peringkat ketiga negara dengan luas lahan organik terbesar di Asia

Berdasarkan survei FiBL-IFOAM pada 2014 Indonesia menduduki peringkat ketiga negara dengan luas lahan organik terbesar di Asia

Sertifikasi
Menurut Henny Mayrowani dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, produk pertanian organik utama yang dihasilkan Indonesia adalah padi, sayuran, buah-buahan, kopi, kakao, jambu mete, herbal, minyak kelapa, rempah-rempah, dan madu. Di antara komoditas itu, padi dan sayuran yang banyak diproduksi oleh petani skala kecil untuk pasar lokal.

Sebut saja Diyah Rahmawati Wicaksana di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, yang membudidayakan kailan, pakcoy, bayam, caisim, dan kangkung di lahan seluas 580 m2. Untuk memasarkan produk organiknya, Diyah bergabung dalam kelompok tani Vigur Organik yang beranggota 20 orang. Dari total luas lahan 8.000 m2, Vigur Organik rutin menuai rata-rata 7—15 kg sayuran per pekan. Produksi itu untuk memenuhi permintaan restoran berkelas dan pasar modern di Malang dan Surabaya.

Untuk menjamin kualitas produk sayuran organik, Vigur Organik pun mendaftarkan produknya ke lembaga sertifikasi. Pada November 2011, Diyah dan rekan-rekan memperoleh sertifikasi organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS), Mojokerto, Jawa Timur. “Sertifikasi dibutuhkan sebagai sarana pemasaran untuk memastikan produk itu organik. Itu karena konsumen tidak mengetahui produk organik itu berasal dari mana sehingga dibutuhkan pihak ketiga (lembaga sertifikasi)sebagai penjamin,” kata Agung.

Label organik dari lembaga sertifikasi diperlukan sebagai jaminan mutu produk

Label organik dari lembaga sertifikasi diperlukan sebagai jaminan mutu produk

Saat ini di Indonesia ada 8 lembaga sertifikasi nasional. Lembaga sertifikasi itulah yang akan memberikan pengesahan keorganikan dari suatu usahatani melalui mekanisme uji standar lapangan dan laboratorium. Jika suatu usahatani lolos uji itu maka dia boleh menggunakan label organik pada kemasan produknya. Dalam hal itu lembaga sertifikasi menjadi penjamin mutu produk. Bila produsen ingin mengekspor produknya, kebanyakan negara maju mensyaratkan adanya sertifikasi produk dari lembaga sertifikasi yang sudah mendapat akreditasi atau pengakuan di tingkat internasional.

Baca juga:  Atasi Lumpuh Otak

“Setiap negara memiliki standar sertifikasi organik berbeda,” kata Ong Kung Wai. Hal serupa disampaikan Agung. Pengomposan, misalnya, “Standar di Indonesia kompos untuk pertanian organik bisa berasal dari kotoran hewan yang difermentasi. Sementara standar di Amerika lebih khusus lagi, yaitu kotoran hewan yang dikomposkan dengan suhu 540C selama 3 hari,” kata Agung. Di luar negeri kotoran hewan bisa berasal dari apa saja, termasuk babi. Namun, di Indonesia kompos dari kotoran babi tidak diperbolehkan.

Di Kanada bila lahan organik berbatasan dengan nonorganik maka diharuskan ada area penyangga sebesar 8 m. Di tanahair tidak ada standar baku jarak daerah penyangga itu. “Standar organik di Kanada mengharuskan penggunaan benih yang juga organik,” ujar Agung. Di Indonesia masih diperbolehkan penggunaan benih nonorganik, tapi itu hal terakhir yang dilakukan jika memang tidak ada benih organik. Meski ada yang berbeda, tapi sebenarnya secara umum standar pertanian organik sama. Tujuannya adalah memberikan keamanan pangan sehingga manusia hidup sehat. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *