Pelorik Berlidah Tiga 1
Nopon salah satu jenis anggrek pelorik

Nopon salah satu jenis anggrek pelorik

Anggrek lazim berlidah tunggal, tipe pelorik justru berlidah tiga.

Satu wajah Dewa Janus menghadap ke depan, sebuah wajah lagi menghadap ke belakang. Dewa yang namanya diabadikan untuk menyebut bulan Januari itu memang berwajah dan berlidah ganda. Dunia anggrek juga mengenal anggrek berlidah tiga yang langka. Itulah anggrek dendrobium jenis pelorik. Lazimnya anggrek dendrobium hanya berlidah satu.
Pelorik juga untuk menyebut dendrobium tanpa lidah—akibat labelum berubah bentuk mirip petal. Karena langka harga dendrobium pelorik melambung hingga tiga kali lipat. Wajar bila Sari Wahyuni masygul ketika anggrek peloriknya raib dari raknya. Pemilik kavling 37 di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan, itu menanyakan keberadaan anggrek itu ke pekerja kebun.

Rupanya karyawannya menjual anggrek itu tanpa sepengetahuan Sari. Dengan segera, Sari Wahyuni menghubungi dan meminta pelanggan itu untuk mengembalikan dendrobium pelorik. “Kembalikan ya anggrek itu, nanti saya ganti dengan 3—4 pot anggrek noporn,” kata Sari Wahyuni kepada pelanggannya. Sang pelanggan telanjur menyukai dan menolak tawaran Sari.

Nopon red

Nopon red

Impor
Sari Wahyuni kerap menyertakan beberapa pelorik saat mendatangkan anggrek dari Thailand. Ia memilih sendiri jenis pelorik, ada pula yang terselip di antara ribuan bibit impor. Untuk anggrek pelorik yang tidak terduga, Sari tidak menjualnya. Ia memisahkan untuk dinikmati sendiri keindahannya. Saat Trubus berkunjung, di kavlingnya ada beberapa anggrek pelorik, di antaranya noporn yellow, noporn star red, dan sirin beauty.

“Penampilan anggrek-anggrek itu berbeda 85—90% dari anggrek aslinya,” ujar mantan karyawan perusahaan kosmetik selama 11 tahun itu. Ia pertama kali mendatangkan sirin beauty pada 2009. Sepal dan petalnya menarik, paduan warna putih dan jingga. Yang menarik, tepi petal itu bergelombang, ukurannya pun lebih lebar sehingga mirip labelum atau bibir bunga. Selain itu, Sari mengoleksi noporn star ‘red’ warna putih dengan tepi merah.

sirin beauty

D. sirin beauty

Selain Sari Wahyuni, Philly Orchid, juga mengoleksi noporn pelorik. Bedanya dengan noporn sebelumnya, labelum itu lebar, mirip lidah bunga cattleya. Bentuk petalnya lebih sempit, meski tepinya tetap bergelombang. Jumlah bunga per tangkai 5—7 kuntum. Sayang, susunan bunga tidak beraturan.

Baca juga:  SMAN 1 Cikarang Barat Berhidroponik

Sudah lama
Tipe pelorik lainnya ialah tanpa lidah. Itu karena lidah dan kedua petal mempunyai bentuk yang persis sama sehingga seperti memiliki 3 petal. Contohnya, kuranda klasik dan dendrobium phalaenopsis. Bentuk lidah yang biasanya cekung, berubah datar mengikuti bentuk dan ukuran petal. Sosoknya berbeda dari dendrobium. Bunganya malah mirip dengan bunga pansi Viola tricolor sehingga digelari anggrek pansi.

Phalaenopsis pelorik, salah satu dari sedikit anggrek bulan pelorik

Phalaenopsis pelorik, salah satu dari sedikit anggrek bulan pelorik

Adanya kantong tepungsari di bagian tengah yang menandakan ia masih bunga anggrek, selain susunan batang dan daun. Anggrek pelorik tidak hanya terjadi pada dendrobium, tetapi juga pada phalaenoposis, cattleya, dan vanda. Phalaenopsis pelorik koleksi Rizal Djaafarer, terlihat lebih indah daripada anggrek aslinya. Penganggrek di Bandung Barat, Jawa Barat, itu mengatakan anggrek itu amat elok karena di tepi kedua petalnya terdapat semburat atau garis keunguan yang tidak terdapat di anggrek aslinya.

Selain itu, adanya totol-totol di petal menambah keindahan phalaenopsis. Wajar, bila Rizal menjadikan anggrek itu sebagai koleksi pribadi. “Bagi saya anggrek mutasi ini lebih kepada kebanggaan pribadi karena bisa memilikinya,” tutur pemilik nurseri Rumah Anggrek Rizal di Lembang, Bandung Barat, itu. Namun, karena tidak tahan rayuan pelanggan, terpaksa ia melepasnya. Itu pun karena dibayar dengan harga khusus, beberapa kali lipat dari harga phalaenopsis orisinalnya.

Dendrobium lady charm x king dragon

Dendrobium lady charm x king dragon

Sejatinya anggrek pelorik bukan barang baru. Trubus menemukan dragon king di sebuah nurseri di Jakarta pada 2005 atau 10 tahun silam. Sosok bunganya besar, 8—10 cm dengan kedua tepi petalnya keriting dan warnanya mirip labelum. Sayang jumlah bunga per tangkai sedikit, hanya 1—3 kuntum. Ada pula sonia bom bom dan emma white yang berlidah cantik. Seiring waktu, anggrek pelorik kini juga lebih berkembang. “Ukuran bunga tetap lebar, tetapi jumlah kuntum bunga lebih banyak,” ungkap Sari.

Baca juga:  Desa & Sumber Pangan

Mutasi
Menurut penganggrek di Kotamadya Batu, Jawa Timur, Dedek Setia Nugroho, banyak faktor penyebab anggrek mutasi seperti pengaruh hormon atau paparan sinar ultra violet. Penyebab lain, saat perbanyakan secara generatif, anggrek mengalami pembelahan sel sehingga sel tidak stabil. Dampaknya anggrek mutasi atau pelorik. Kadang-kadang ada yang genetiknya stabil dan ada yang tidak stabil.

Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, “Mutasi terjadi pada bunga apa pun, hanya peluang untuk terjadi mutasi itu yang berbeda-beda. Pada anggrek, mutasi lebih besar peluangnya karena teknik perbanyakannya banyak yang melalui kultur jaringan. Pada kultur jaringan dengan proses regenerasi sel yang sangat cepat dan dalam jumlah sangat banyak, sering kali terjadi salah cetak dalam gennya, termasuk gen yang berkaitan dengan pembungaan,” ujar kandidat doktor itu.

Edhi mengatakan untuk mempercepat proses pembungaan, pemberian hormon giberelin dalam jumlah tinggi juga memicu mutasi pada level sel atau jaringan yang pembelahannya sedang terjadi dalam kecepatan tinggi. “Peluang terjadinya mutasi pembungaan menjadi lebih besar dibandingkan dengan tanaman yang perbanyakannya tidak dengan kultur jaringan dan tidak dirangsang dengan hormon giberelin dalam dosis tinggi,” ujar master Biologi alumnus Institut Pertanian Bogor.

Emma white, bisa sebagai bunga potong

Emma white, bisa sebagai bunga potong

Menurut Dedek, secara umum anggrek pelorik tidak bisa disilangkan. Namun, bila diperbanyak secara generatif hasilnya akan sama dengan induknya, kecuali jika mengalami mutasi kembali. Namun, “Dari pengalaman saya hampir tidak ada hasil silangan pelorik yang mengalami mutasi. Sebab, saya menggunakan media yang sesuai dengan takaran dan tidak terlalu banyak melakukan pembelahan,” ungkap pemilik Nurseri DD di Batu itu.
Dari pengalaman Dedek, penyilangan induk mutasi dan anggrek normal, peluang terjadinya mutasi tetap ada. Anaknya sebagian mengalami mutasi dan sebagian tumbuh normal.

Pada phalaenopsis, perbanyakan pelorik masih sulit. Menurut Rizal Djaafarer menyilangkan bunga phalaenopsis masih sulit. Hasil yang diperoleh tidak sama dengan induknya yang pelorik. Yang juga menjadi masalah ialah phalaenopis masih sulit diperbanyak secara kultur jaringan. Oleh karena itulah, hingga kini phalaenopis berlidah tiga belum bisa dinikmati penggemar secara luas. (Syah Angkasa)
FOTO:

^
V D.
>
>
>

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *