Pelet Untuk Kelinci

Pelet Untuk Kelinci 1
Kelinci ras new zealand white milik Achmad Taif Umar jawara kontes meski hanya mengonsumsi pelet.

Kelinci ras new zealand white milik Achmad Taif Umar jawara kontes meski hanya mengonsumsi pelet.

Praktis dan bergizi lengkap keunggulan pelet untuk pakan kelinci.

Pehobi kelinci hias di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Achmad Taif Umar, tidak risau jika kesulitan mendapatkan hijauan untuk pakan kelinci. Alasannya sejak 2013 Taif mengandalkan pelet sebagai pakan kelinci. Meski hanya mengonsumsi pelet, pertumbuhan kelinci Taif optimal. Buktinya beberapa kali kelinci koleksi pemilik Rajawali Farm itu menjuarai kontes kelinci nasional. Salah satu prestasi kelinci tangkaran Taif yaitu meraih gelar best in show pada gelaran Indo Rabbit Fest di Yogyakarta pada 12—13 Mei 2017.

Pemberian pakan mesti menyesuaikan jenis kelamin dan kondisi kelinci. Ia memberikan 150 g pelet per hari untuk kelinci jantan dewasa, 200 g pelet/hari untuk kelinci betina, dan 300 g pelet saban hari untuk betina menyusui. Kelinci mulai mengonsumsi pakan pada umur 3 pekan dan makan normal ketika berumur 40 hari. Taif mengatakan penggunaan pelet lebih ekonomis ketimbang hay.

Praktis

Achmad Taif Umar mengandalkan pelet untuk kelinci sejak 2013.

Achmad Taif Umar mengandalkan pelet untuk kelinci sejak 2013.

Harga pelet rata-rata Rp175.000 per 25 kilogram, sedangkan hay alias rumput kering Rp400.000 per 12 kilogram. Artinya harga hay lebih tinggi 4—5 kali lipat dibandingkan pelet jika kebutuhan pakan sama. “Jika hanya untuk produksi anakan, pelet lebih praktis dan ekonomis,” kata peternak kelinci sejak 2011 itu. Menurut peternak kelinci di Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, Jejen Sujana, penggunaan pelet praktis.

Jejen memberikan pelet 2 kali sehari pada pagi dan sore. Pehobi lain di Sumedang, Jawa Barat, Suprayogi, mengatakan kelinci yang terbiasa diberi pelet lebih tahan dehidrasi dibandingkan yang lazim diberi sayuran. Juri berlisensi American Rabbit Breeders Association (ARBA) di Bekasi, Jawa Barat, Agustina Arie Wardhani, mengatakan pelet lebih praktis terutama untuk pehobi di perkotaan.

Pehobi kelinci di Sumedang, Jawa Barat, Jejen Sujana, mengandalkan pelet untuk kelinci pedaging.

Pehobi kelinci di Sumedang, Jawa Barat, Jejen Sujana, mengandalkan pelet untuk kelinci pedaging.

Namun Arie kerap memberikan hijauan sebagai pakan selingan atau tambahan sekali setiap pekan. Pilihan hijauan beragam seperti kemangi, oregano, Trichantera sp., dan murbei. Hijauan dikeringanginkan sehari sebelum pemberian pakan. Menurut Suprayogi sejatinya kombinasi pelet dan rumput kering (hay) menjadikan pertumbuhan kelinci lebih optimal. Ia memanfaatkan pakan berupa 70% pelet dan 30% hay untuk kelinci hias kualitas kontes yang akan berlomba.

Baca juga:  Setulus Kelinci

Untuk pakan harian ia menggunakan 140 g pelet per kelinci dengan 2 kali pemberian pada pagi dan sore. Jejen juga menambahkan hay pada pakan kelinci hias. Sementara kelinci pedaging hanya diberi pelet. Menurut produsen pakan kelinci Indofeed, Indra Siregar, kebutuhan pakan kelinci hias dan pedaging berbeda.

Pelet untuk kelinci hias mesti mengandung banyak vitamin dan protein untuk mendukung pertumbuhan fisik sempurna seperti postur dan warna bulu. Makin tinggi protein semakin bagus kualitas pelet. Konsekuensinya harga pelet lebih tinggi. Indra menjual pelet berprotein 18% seharga Rp11.000 per kg, mengandung protein 16% (Rp9.000/kg), dan berisi protein 14% (Rp7.000/kg).

Menjanjikan
Adapun pakan kelinci pedaging lebih mengutamakan karbohidrat dan bahan baku yang mempercepat pertumbuhan atau penggemukan. “Harga pakan kelinci potong Rp6.000 per kg,” kata warga Bogor, Jawa Barat itu. Kini ragam pelet kelinci beredar di pasaran. Pilihlah pelet berkualitas yang cirinya berukuran seragam, kering, tidak lembek, mengilap, dan tidak banyak mengandung tepung.

Pakan kreasi Indofeed berwarna cokelat untuk kelinci pedaging.

Pakan kreasi Indofeed berwarna cokelat untuk kelinci pedaging.

Salah satu produk bikinan Indra berwarna hijau alami, bukan dari pewarna buatan. Warna hijau muncul lantaran kandungan rumput dalam pelet tinggi. Taif mengatakan pelet aman dikonsumsi karena berbahan dasar dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa sawit, pollard (dedak gandum), onggok, dan premix. Hanya komposisi dan tambahan bahan tertentu yang membedakan produk pelet setiap produsen.

Trichantera sp. pakan tambahan yang digemari kelinci.

Trichantera sp. pakan tambahan yang digemari kelinci.

Menurut pria kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan, itu peluang bisnis produsen pelet kelinci menjanjikan. Pasalnya pehobi kelinci di tanahair makin banyak bahkan hingga pelosok negeri. Sebut saja Bikeru di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang juga beternak kelinci sejak 2015. Makin banyak peternak semakin tinggi pula kebutuhan pakan. “Di Jawa Barat kebutuhan pakan kelinci tinggi. Sebanyak 20 ton pelet per bulan pun terserap,” kata pria berumur 24 tahun itu. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Baca juga:  Lomba Buah Unggul Nusantara 2016

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x