Empat jenis pelawan tumbuh di Bangka. Daun semua jenis pohon pelawan berkhasiat.

Daun semua jenis pohon pelawan berkhasiat.

Daun semua jenis pohon pelawan berkhasiat.

Ombak menyapu pantai di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Ilalang dan berbagai tumbuhan liar tumbuh tak beraturan di pantai landai berpasir putih itu. Di sela tanaman-tanaman liar itu mencuat beberapa pohon dengan daun kemerahan di ujung. Itulah pohon pelawan Tristaniopsis sp. Ahmad Jumat Suhada mendekati salah satu pohon berumur 6 bulan—3 tahun lalu menyentuh daun ke-3 dari pucuk.

Sarang madu pelawan.

Sarang madu pelawan.

“Ini pas untuk membuat teh,” kata pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung itu. Teh yang ia maksudkan adalah bahan seduhan selayaknya daun teh Camellia sinensis. Suhada menyatakan ada 4 jenis pohon pelawan yang berbeda warna batang. “Warna batang pelawan ada yang merah, kuning, merah kepuh, dan putih,” ungkap Suhada. Merah kepuh mirip pelawan merah, tetapi warnanya keruh seperti tersaput lapisan kapur.

Tanpa pupuk
Jenis pelawan batang putih sangat langka dan sulit dijumpai saat ini. Itulah sebabnya Suhada hanya membudidayakan 3 jenis. Kalau ditanam untuk budidaya, ketiganya sama-sama bisa tumbuh baik di lahan. Namun di alam, tempat tumbuh pelawan merah, kuning, dan kepuh berbeda. Pelawan merah Tristaniopsis merguensis tumbuh di lereng bukit dan menyukai tanah yang agak subur.

Sementara pelawan batang kuning T. sumatrana banyak tumbuh di sekitar badan air seperti sungai, rawa, dan lahan gambut. Jenis ketiga, kepuh T. obovata, paling tahan tanah kritis atau marjinal bekas tambang timah yang berserakan di Bangka Belitung. Ketiga jenis pelawan itu toleran salinitas tinggi tanah pantai dan mampu tumbuh subur di tepi laut. Itu sebabnya Suhada mulai menanam pelawan sebagai tanaman peneduh di pantai.

Bibit pelawan siap tanam ketika tingginya minimal 25 cm.

Bibit pelawan siap tanam ketika tingginya minimal 25 cm.

Di perbukitan, pelawan putih T. whiteana yang langka kadang tumbuh menyelip di antara pelawan merah. Suhada tidak memanfaatkan jenis itu dan membiarkannya bertambah banyak agar tidak punah. Semua jenis pelawan menghasilkan kayu unggul yang berat dan keras. “Kalau mau dibakar, sejam setelah ditebang saja sudah bisa menyala,” ujar Suhada. Kerasnya kayu menjadikan pohon pelawan relatif tidak disukai hama maupun penyakit.

Baca juga:  Daun Pelawan Untuk Diabetes

Ia tidak pernah menjumpai kutu, ulat, atau penyakit menggerogoti tanaman. Suhada memperbanyak pelawan sejak 2007 setelah mengamati sejak 1993. Saat itu hutan dan tutupan lahan di daerah yang semula bagian Provinsi Sumatera Selatan itu tercabik-cabik untuk penambangan timah. Pelawan menjadi buruan lantaran kayunya berkualitas tinggi dan awet. “Tanpa pelestarian, lama-lama bisa habis,” ujar jebolan Teknik Mesin sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung itu.

Anwar membibitkan pelawan tanpa pupuk.

Anwar membibitkan pelawan tanpa pupuk.

Suhada lantas mengumpulkan biji pelawan yang ia jumpai dan mulai membibitkan. Menurut Anwar, pembibit pelawan di Merawang, Kabupaten Bangka, biji berkecambah 5—7 hari pascasemai. Ia menyemai di media pasir. Setelah kecambah tumbuh setinggi 5—10 cm, Anwar memindahkan ke polibag berukuran 15 cm x 15 cm. Bibit-bibit belia itu ia pelihara 3—4 bulan sampai setinggi 25 cm lalu ia tanam di lahan.

Tidak seperti tanaman perkebunan atau kehutanan lain yang menuntut adanya lubang tanam berkedalaman tertentu, penanaman pelawan sangat simpel. Anwar hanya menggali tanah sedalam 15 cm—sesuai ukuran polibag—mengoyak polibag, memasukkan bibit, lalu menguruk kembali. “Pastikan menanam setelah memasuki musim hujan, minimal sebulan setelah hujan pertama turun,” kata pria berusia 59 tahun itu.

Tujannya meningkatkan kelulusan hidup bibit. Satu hal yang perlu dicatat, Anwar sama sekali tidak memupuk sejak persemaian. Media semai hanya pasir kasar, demikian pula media tanam dalam polibag. Menurut ahli silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Irdika Mansur MforSc, tanaman mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tertentu.

Pelawan merah banyak tumbuh di bukit.

Pelawan merah banyak tumbuh di bukit.

Irdika menduga akar pelawan mudah bersimbiosis dengan mikrob tanah lokal Bangka Belitung. Mikrob itulah yang membantu tanaman memperoleh hara makro dan mikro untuk pertumbuhan. “Kecambah dari biji kemungkinan memperoleh mikrob itu dari media tanam,” kata Irdika. Kebetulan Anwar menggunakan pasir dari sekitar kediamannya, tidak mendatangkan dari daerah lain.

Baca juga:  Tingkatkan Produksi Sarang

Pestisida
Dengan cara “minimalis” itu pun kelulusan hidup bibit sangat tinggi, lebih dari 90%. “Kuncinya pemilihan biji,” ujar Suhada. Ia mensyaratkan biji harus utuh dan berasal dari buah yang benar-benar masak, sehat, dan tumbuh sempurna. Biji itu bisa langsung semai, tetapi kalau akan disimpan harus dicuci bersih dan dikering angin sampai benar-benar kering. Semakin lama simpan, daya perkecambahan biji akan berkurang.

Daun tanaman asal biji bisa mulai panen sejak umur 6—8 bulan, tapi Suhada menganjurkan untuk menunda panen sampai tanaman berumur setahun. Tujuannya agar pertumbuhan tidak terganggu, terutama kalau bibit agak ternaungi tanaman lain. Tanaman yang tumbuh normal mulai berbunga umur 2 tahun. Bunga itu bakal mengundang lebah hutan Apis dorsata untuk datang dan memproduksi madu.

Di umur 3—4 tahun, jamur pelawan yang gurih dengan kelezatan menyerupai daging (baca “Lahir Setelah Petir”, Trubus Juni 2011) tumbuh di sekitar perakaran pohon. Di pembibitan milik H Anwar terdapat ribuan bibit pelawan merah asal biji dan cabutan tunas dari biji yang tumbuh alami di sekitar pohon dewasa. Bibit dari alam tampak bersosok lebih bongsor ketimbang bibit asal biji semai.

Pelawan toleran salinitas tanah pantai.

Pelawan toleran salinitas tanah pantai.

Pekebun lada dan pembibit tanaman sejak 1980-an itu memperbanyak pelawan baru sejak awal 2016, setelah mendapat penjelasan dari Suhada. Anwar tertarik kepada khasiat dan manfaat lingkungan dari pohon pelawan. Pembibit tanaman kehutanan itu sendiri rutin mengonsumsi teh pelawan untuk relaksasi sepulang dari kebun. Selain bermanfaat bagi manusia, pohon pelawan juga menyehatkan tanaman lain.

Baca juga:  Menjemput Khasiat Pelawan

Getah pohon anggota famili Myrtaceae itu bersifat repelan dan racun kontak bagi berbagai kutu. Suhada pernah mencoba menoreh batang dan menampung getah yang menetes. Getah itu ia tambah dengan 9 bagian air (diencerkan 10 kali) lalu ia semprotkan ke cabai yang berdaun keriting akibat terserang kutu putih. Serangga perusak itu beterbangan dan enyah, beberapa langsung mati akibat terkena semprotan.

Itu sebabnya Suhada gencar memperkenalkan potensi pohon pelawan sebagai sumber hasil hutan nonkayu (HHBK). “Pohon pelawan bisa menghasilkan daun untuk teh, madu, jamur, sampai getah. Itu semua bisa diperoleh tanpa perlu menebang pohon,” kata ayah satu anak itu. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d