Harga mangga arumanis Lilyana Soetanto premium mencapai Rp40.000 per kg.

Harga mangga arumanis Lilyana Soetanto premium mencapai Rp40.000 per kg.

Lilyana Soetanto memproduksi mangga arumanis termahal di tanah air.

Lilyana Soetanto membanderol harga mangga arumanis grade A dari kebunnya Rp40.000 per kg. Lily—panggilan akrab Lilyana—mematok harga jual itu untuk mangga arumanis yang ia panen pada Mei—Juni. “Harga panen pada Mei—Juni lebih tinggi karena saat itu bukan puncak musim mangga sehingga jumlah pasokan relatif sedikit,” kata perempuan asal Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu. Adapun harga jual hasil panen pada musim panen raya, yakni pada Juli—Desember, Rp20.000 per kg.

Lilyana Soetanto berkebun mangga sejak 1998.

Lilyana Soetanto berkebun mangga sejak 1998.

Menurut pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, harga mangga produksi Lily di pasar swalayan Rp35.000—Rp45.000 per kg saat panen raya. “Harga itu paling tinggi untuk mangga lokal. Harga mangga sejenis biasanya berkisar Rp20.000—Rp25.000 per kg,” kata Tatang. Namun, Lily mematok harga tinggi bukan berarti semena-mena meraup laba. Harga tinggi adalah jaminan produk berkualitas tinggi.

Kualitas prima
Menurut Tatang kualitas arumanis milik Lily paling top sehingga layak berharga tinggi. Keunggulannya bercita rasa manis, legit, dan sangat padat. Lily juga mengemas mangga dari kebunnya dengan kemasan apik, yakni dalam kardus berpenyekat berkapasitas 6 kg isi 12 mangga atau berbobot rata-rata 0,3—0,5 kg per buah.

Meski berharga premium, mangga arumanis produksi Lily laris manis di pasaran. Lily mampu menjual rata-rata 600 ton mangga pada Mei—Juni saat harga paling tinggi, Rp40.000/kg. Pada musim panen raya, ia melego sekitar 4.500 ton mangga berharga Rp20.000 per kg. Lily menjual mangga ke pasar swalayan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Manado (Sulawesi Utara), dan Balikpapan (Kalimantan Timur).

Penyortiran salah satu kunci menghasilkan mangga berkualitas baik.

Penyortiran salah satu kunci menghasilkan mangga berkualitas baik.

Lily memperoleh pasokan mangga arumanis dari kebun milik sendiri seluas 8 hektare di Kecamatan Bangil. Total populasi 400 pohon yang berasal bibit hasil sambung pucuk dengan batang bawah varietas lokal. Lily mengebunkan tanaman anggota famili Anacardiaceae itu secara intensif. Sebagai sumber nutrisi, ia rutin memberikan 20 pupuk kandang kambing dan 5 kg NPK per pohon sekali setahun. Ibu 62 tahun itu memanen rata-rata 50 kg mangga dari pohon berumur 5 tahun. Hasil panen meningkat seriring bertambahnya umur pohon. “Kini produktivitas relatif stabil, yakni 150 kg per pohon per tahun,” kata pekebun mangga sejak 1998 itu.

Baca juga:  Komersialisasi Tanaman Biotek

Selain dari kebun sendiri, Lily juga bekerja sama dengan 200 pekebun mitra di Kecamatan Bangil, Pandaan, dan Rembang, semuanya di Kabupaten Pasuruan. Di Jawa Timur sejatinya terdapat sentra-sentra produksi mangga. Namun, Lily menolak bermitra dengan pekebun di luar ketiga daerah itu karena cita rasanya kurang manis. Menurut Tatang, arumanis asal Bangil memang yang terbaik dibandingkan dengan mangga sejenis dari daerah lain di Nusantara. Peneliti mangga dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Solok, Sumatera Barat, Ir. Karsinah, M.S., menduga faktor lingkungan yang menyebabkan kualitas mangga produksi Lily lebih baik daripada daerah lain.

Faktor lingkungan

Membuahkan mangga di luar musim, salah satu strategi Lilyana Soetanto memperoleh harga jual tinggi. Pengemasan menjadi nilai tambah mangga Lilyana.

Membuahkan mangga di luar musim, salah satu strategi Lilyana Soetanto memperoleh harga jual tinggi.

Itu terbukti adanya perbedaan kualitas antara arumanis yang ditanam di kebun percobaan Balitbu di Cukurgondang dengan di Kraton, meski keduanya di Pasuruan. Hasil uji kadar kemanisan arumanis dari Cukurgondang mencapai angka 16—18° briks, sedangkan dari Kraton 20° briks. Padahal, jenis mangga dan perawatan di kedua kebun itu relatif sama, yaitu pemupukan 3 kg NPK per pohon dua kali setahun pada awal dan akhir musim hujan.

Menurut Karsinah mangga dari kebun di Kraton lebih manis karena lokasi kebun relatif dekat dengan daerah Bangil yang menghasilkan arumanis terbaik. “Musim kemarau di Bangil dan Kraton mencapai 4 bulan, lebih lama daripada Cukurgondang yang hanya 3 bulan. Kondisi daerah yang kering membuat kadar air buah relatif lebih rendah sehingga rasa mangga menjadi lebih manis,” kata Karsinah.

Meski demikian, Lily tetap meminta pekebun mitra agar tetap merawat tanaman secara intensif seperti yang ia terapkan. Tujuannya agar produktivitas tanaman tinggi dan kualitas buah prima. Syarat itu memang memberatkan pekebun. Namun, para pekebun mitra tetap senang bekerja sama dengan Lily. Pasalnya, perempuan kelahiran Surabaya itu membeli dengan harga lebih tinggi, yakni Rp11.000/kg. Harga beli itu jauh lebih tinggi ketimbang harga beli dari para tengkulak yang hanya membeli dengan harga Rp6.000—Rp7.000 per kg.

Pengemasan menjadi nilai tambah mangga Lilyana.

Pengemasan menjadi nilai tambah mangga Lilyana.

Lily menyortir mangga hasil panen dari kebun sendiri dan pekebun mitra berdasarkan bobot dan penampilan fisik. Buah berbobot lebih dari 300 g per buah, berkulit mulus, dan berbentuk sempurna, masuk kategori grade A, sisanya grade B. Lily menjual buah grade B dengan harga Rp15.000 per kg. Selanjutnya ia melabeli mangga dengan merek Lily Mango, lalu mengemasnya dalam dus berpenyekat agar buah tidak saling bergesekan. Dengan begitu penampilan buah tetap mulus meski menempuh perjalanan jauh.

Baca juga:  Populasi Naik 10 Kali

Tanpa sengaja
Nenek 9 cucu itu terjun berbisnis mangga sejatinya tanpa sengaja. Awalnya ia mengirimkan sekeranjang mangga untuk kerabat di Jakarta. Lily memberikan hadiah mangga karena tinggal di Bangil yang terkenal sebagai sentra arumanis. Namun, kerabatnya itu malah mengeluh bahwa mangga yang ia kirimkan busuk. Ternyata penyebab mangga busuk akibat serangan lalat buah dan berada pada tumpukan paling bawah dalam keranjang. Lily tidak memeriksa mangga satu per satu saat membelinya di pasar karena sudah dikemas dalam keranjang.

Cara mengonsumsi mangga arumanis seperti menikmati avokad.

Cara mengonsumsi mangga arumanis seperti menikmati avokad.

Sejak itu ia pun kapok membeli mangga di pasar. Lily membeli mangga langsung ke pekebun. Di kebun itu ibu 4 anak itu bebas memilih mangga sesuai kualitas yang diinginkan. “Saya memastikan hanya mangga pilihan saya yang dikemas dan dikirim ke Jakarta,” kata perempuan berumur 62 tahun itu. “Kerabat saya pun senang karena kualitasnya lebih baik,” katanya.

Bagi Lily testimoni dari kerabat itu menggambarkan peluang. Sejak itu ia membeli mangga dari petani sekitar dan menjualnya ke Jakarta. Ia bahkan menawarkan mangganya ke pasar swalayan di Jakarta. Ibarat gayung bersambut, pasar swalayan pun menerima. “Semula saya menawarkan mangga dengan merek Best Mango, tapi tidak boleh karena merujuk ke kualitas. Saya lalu menggantinya menjadi Lily Mango,” kata perempuan kelahiran 25 November 1955 itu. Saat itu ia menjual rata-rata 2—3 keranjang setiap hari. Satu keranjang berbobot 30—40 kg mangga. Lily mendapat pasokan dari para pekebun plus pasar buah terpercaya. Ia menyortir mangga dan mengirimnya sendiri bermobil ke Jakarta.

Lilyana Soetanto bersama para karyawan.

Lilyana Soetanto bersama para karyawan.

Dari waktu ke waktu bisnis pun semakin maju. Kini Lily memasok mangga tak hanya ke ibukota, tapi juga ke berbagai daerah. Kesuksesan Lily berbisnis mangga itu buah dari ketekunannya menghadapi beragam kendala. Saat memulai usaha, pasar swalayan sempat menolak mangga yang Lily tawarkan. Padahal, ia yakin betul mangganya berkualitas prima. Mereka menolak karena tidak sepakat harga. Pasar swalayan bersedia membeli mangga asalkan harganya lebih murah Rp5.000 dari harga yang ditawarkan Lily.

Kendala lain masalah pengiriman. Ia mesti mengantongi surat izin dari karantina bila hendak mengirim mangga ke luar daerah, terutama antarpulau. “Jika tidak ada peraturan itu saya yakin makin banyak pebisnis mangga lokal yang terbantu,” tuturnya. Namun, berbagai kendala itu tak membuat Lily kendor berbisnis mangga. “Bagi saya berbinis mangga adalah passion sehingga selalu bersemangat menjalaninya,” tuturnya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments