Pedaging Top Tanpa Tanduk

Pedaging Top Tanpa Tanduk 1

Dombos domba pedaging unggul. Bobot jantan dewasa 150 kg dengan karkas 45%.

Dombos dewasa bersosok besar dengan tubuh tertutup bulu tebal, layak sebagai domba pedaging.

Dombos dewasa bersosok besar dengan tubuh tertutup bulu tebal, layak sebagai domba pedaging.

Sosok domba itu amat khas, besar hingga berbobot 150 kg pada saat dewasa umur 2—3 tahun. Bobot itu dua kali lipat bobot domba lokal lain. Itulah sebabnya banyak peternak mengembangbiakkan dombos. Dengan karkas atau bagian yang dapat dikonsumsi 45%, maka sekor dombos menghasilkan 60,2 kg daging. Bandingkan dengan produksi domba lain, rata-rata hanya 30 kg per ekor. Dombos potensial sebagai domba pedaging.

Peternak dombos di Desa Surangede, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sugiono, mengatakan kelebihan lain dombos berbulu tebal untuk berbagai macam produk olahan. Peternak mesti mencukur bulu dombos yang tebal setiap 6 bulan sekali untuk mencegah gimbal. “Selama ini hasil bulu dombos dimanfaatkan sebagai pengisi bantal sofa pengganti dakron. Sebenarnya bulu itu dapat juga dipintal menjadi benang layaknya wol,” kata Sugiono.

Keturunan texel
Adapun kelebihan lain dombos mampu reproduksi yang cepat. “Bila domba lokal lain dapat beranak setahun sekali, dombos beranak 3 kali dalam 2 tahun,” kata Sugiono. Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Wonosobo, drh Sidik Driyono, mengatakan bahwa karakter dombos mengikuti induk tetuanya. Dombos silangan antara domba texel dengan domba lokal ekor tipis.

“Dengan performa biologis yang stabil maka dombos dapat dikategorikan sebagai galur lokal Wonosobo yang sudah mantap,” kata Sidik. Dombos sebagai pedaging unggul sejatinya warisan domba texel. Menurut Sidik pada 1954 Indonesia mendatangkan 500 domba texel dari Belanda terdiri atas100 jantan dan 400 betina. Texel menyebar ke-4 wilayah, yakni Banyumas, Karanganyar, dan Rembang (Jawa Tengah) serta Cikole, Kabupaten Bandung Barat (Jawa Barat).

Peternak dombos di Desa Surangede, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sugiono.

Peternak dombos di Desa Surangede, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sugiono.

“Setiap daerah mendapatkan 100 betina dan 25 jantan. Namun, keempat daerah itu gagal mengembangbiakkan texel karena sulit dikawinkan. Pemerintah kemudian mengirimkan 5 domba texel ke Wonosobo pada 1957. “Sejak itu domba texel disilangkan dengan domba lokal Wonosobo sampai terlahir keturunan ke-5 (F5) yang kini ditetapkan sebagai dombos,” ujar Sidik. Induk jantan berupa domba texel, sedangkan induk betina domba lokal asal Wonosobo.

Baca juga:  Rumah Tanam Mini Merebut Hati

Pakar domba dan kambing dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Dr Denie Heriyadi MS, mengatakan texel jantan bertubuh kokoh dan kuat. Sosok pejantan texel berpundak luas. Pantat berotot. Dombos jantan dapat kawin sepanjang tahun. Aroma mereka tajam untuk memikat betina. Adapun ciri khas domba lokal dari Wonosobo berciri bertanduk kecil, berbulu pendek, dan bersosok sedang, seperti domba lokal pada umumnnya. Kelebihan domba lokal itu adaptif dan pakannya mudah yaitu rumput atau hijauan lain.

Menurut Sidik kini keturunan dombos lebih dari generasi ke-7 sehingga pemerintah menetapkan galur itu karena sifatnya stabil baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengembangbiakan texel di Wonosobo berketinggian 700—1.200 meter di atas permukaan laut pun berhasil. Sebab, kondisi alam Wonosobo relatif sama dengan tempat asal texel yang beriklim sejuk. Selain itu masyarakat Wonosobo terbiasa memelihara domba.

Rawat di kandang
Pada 2008 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi nama domba itu dombos, singkatan dari domba wonosobo. Menteri Pertanian mengeluarkan keputusan Nomor: 2915/Kpts/Ot.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Domba Wonosobo. Itu berarti dombos menjadi kekayaan sumber daya genetik ternak asli Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

Kandang berbentuk panggung untuk memudahkan menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah seranganpenyakit.

Kandang berbentuk panggung untuk memudahkan menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah serangan penyakit.

Sidik mengatakan, semula sedikit daerah yang mampu memeliharanya. Akibatnya perkembangan dombos selama 6 tahun terakhir sejak 2005 relatif lambat. “Bahkan laju pertumbuhan dombos populasi di Wonosobo cenderung turun akibat permintaan dombos keluar daerah. Namun, kini dombos tersebar ke berbagai daerah dataran rendah seperti, kota-kota di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur,” ujar Sidik.

Denie Heriyadi, berpendapat dombos berpotensi besar. Semula dombos membutuhkan proses aklimatisasi yang panjang. “Dombos tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan setempat sehingga perlu waktu lama untuk menyesesuaikan diri,” kata Heriyadi. Selain faktor iklim, sosial budaya juga berpengaruh dalam keberhasilan pengembangbiakkan dombos.

Baca juga:  Kuliner dan Properti

“Kultur masyarakat Wonosobo memelihara domba itu dengan penuh kasih sayang, pakannya dipenuhi, semua dipelihara baik sehingga berhasil,” ujar Heriyadi. Peternak yang gagal memelihara dombos karena tidak telaten memelihara. Heriyadi mengatakan, pejantan dombos siap berkopulasi pada umur setahun. Satu pejantan dombos melayani maksimal 8—10 betina. Bandingkan, dengan pejantan texel dapat melayani 30—40 betina.

Sebaiknya semua pejantan dipisahkan dari betina sejak umur 3 bulan untuk mencegah perkawinan yang tidak direncanakan. Pejantan dombos produktif hingga berumur 8—9 tahun. Sugiono memelihara 25 dombos berbagai umur. Dombos mencapai dewasa kelamin pada umur 6–7 bulan. Namun, sebaiknya perkawinan setelah berumur setahun. Menurut ayah seorang anak itu, seekor pejantan dapat membuahi 13 betina untuk sekali waktu perkawinan alami.

Pakan dombos rumput hijauan. Kebutuhan pakan lebih banyak daripada pakan domba biasa untuk memenuhi perkembangannya yang pesat.

Pakan dombos rumput hijauan. Kebutuhan pakan lebih banyak daripada pakan domba biasa untuk memenuhi perkembangannya yang pesat.

Masa produktif domba khas Wonosobo itu hingga 5–6 tahun. Perkawinan dombos kebanyakan secara alami meski ada pula yang melalui inseminasi buatan. Menurut Sugiono merawat dombos relatif mudah. Di Kejajar kini hampir semua peternak dombos membudidayakan dengan pola kandang tertutup. Mereka menempatkan domba di kandang dan tidak menggembalakan di padang rumput. Itu karena lahan terbuka di Kejajar semakin terbatas.

Kandang model panggung, sehingga memudahkan dalam membersihkan kotoran dan sisa pakan. Selain itu yang paling penting adalah disiplin menjaga kebersihan kandang dan menjaga sirkulasi udara. Harap mafhum, kandang tertutup cepat lebih rentan bau. Sugi memberi pakan rumput atau hijauan dari lahan tegalan dan sawah. Penambahan dedak untuk menambah nutrisi, teritama pada pakan anakan domba.

Bobot anakan dombos 4 kg, 2 kali lipat dari domba biasa. Pada umur sebulan bobot mencapai 15—18 kg atau setara 3 kali lipat bobot domba biasa. Akibatnya porsi pakan juga lebih banyak, 2 kali domba biasa. Menurut Sugi pada umumnya kebutuhan pakan rumput untuk domba ekor tipis (domba biasa—red) 4 kg, untuk dombos 8 kg per hari. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x