Alat perisai hujan (warna merah muda) dipasang 10—15  cm di atas bidang sadap

Alat perisai hujan (warna merah muda) dipasang 10—15 cm di atas bidang sadap

Hujan mengurangi produksi karet hingga 30%.  Perisai hujan menjadi solusi. 

Musim hujan momok bagi pekebun karet. Air yang mengalir di batang menyulitkan proses penyadapan Hevea brasiliensis. Bahkan ketika hujan turun di malam hari, keesokan harinya pekerja masih sulit menyadap karet. Sebab hingga 6—7 jam pascahujan mengguyur bidang sadap masih basah. Akibatnya, penyadapan pun tertunda. Kalaupun bisa menyadap, “Produksi lateks turun 25—30%,” ujar Asdi Kennedi Purba, karyawan perkebunan karet di Jember, Jawa Timur.

Produksi lateks—getah kental mirip susu hasil sadapan pohon karet, turun menjadi 24 gram per pohon, biasanya 32 gram per pohon. Curah hujan Jember berkisar 1.969 sampai 3.394 mm per tahun. Itu termasuk curah hujan ringan. Kehilangan hasil semakin besar di wilayah bercurah hujan tinggi. Produksi lateks di kebun Ir H Sairin Saad di Palembang bahkan turun hingga 60%. “Bisa-bisa malah gagal total, tidak bisa nyadap sama sekali. Kalau tetap nyadap hasilnya paling banyak 30%,” ujar pria berusia 58 tahun itu.

Selain produksi turun, “Kualitas karet yang dihasilkan turun,” kata Asdi. Lateks yang tercampur air menghasilkan karet kering bermutu rendah. Saat kemarau, kadar mutu karet kering 28—30%. Namun, karena tercampur air hujan kadar mutu kering yang dihasilkan menjadi 19—20%. “Penyadapan di musim hujan juga menyebabkan penyakit bidang sadap seperti mouldy rot, black strip, dan lump canker,” tutur Sairin.

Dr Ir Thomas Wijaya MAgr Sc, peneliti perisai hujan

Dr Ir Thomas Wijaya MAgr Sc, peneliti perisai hujan

Pasang perisai

Untuk mengatasi turunnya produksi lateks saat musim hujan, Asdi dan Sairin menggunakan rain guard alias perisai hujan. Asdi memasang perisai hujan pada sekitar 1.350 tanaman karet. Rain guard alias perisai hujan itu berupa potongan bonnet berbentuk bulan sabit.

Baca juga:  Pasar Besar Kopi

Ia memasang alat berdiameter 70 cm dan lebar sekitar 4 cm itu 10—15 cm di atas alur sadap. “Pemasangan lebih dari 15 cm menyebabkan bidang sadap masih terkena air hujan. Sementara pemasangan terlalu rendah (kurang dari 10 cm) menyulitkan penyadapan,” ujarnya. Asdi memasang perisai hujan dari kiri atas ke kanan bawah lalu merekatkan ke pohon dengan lem formula khusus. Hasilnya, kehilangan lateks pascahujan 8 gram per pohon pun tercegah.

Sairin menggunakan perisai hujan sejak Januari 2011. Ia memasang perisai hujan pada tanaman karet di lahan seluas 2 ha. Dengan jarak tanam 6 m x 5,3 m populasi tanaman sekitar 1.200 pohon. “Setelah pemasangan perisai hujan, 1—2 jam pascahujan bidang sadap sudah kering,” ujar Sairin.

Rain guard merupakan hasil inovasi Dr Ir Thomas Wijaya MAgrSc dan rekan di Pusat Penelitian Karet, Bogor, Jawa Barat. Alat itu membelokkan aliran air hujan melalui batang sehingga tidak memasuki mangkuk sadap. Panel sadap tetap kering setelah hujan. Saat berdinas di Balai Penelitian Sembawa, Palembang, Thomas mengamati pekerja tidak bisa menyadap karet karena hujan. Setiap kali hujan turun, “Selama dua hari karet tidak disadap,” ujar peneliti kelahiran Jepara, Jawa Tengah, itu.

Hujan turunkan produksi dan mutu karet

Hujan turunkan produksi dan mutu karet

Saat hujan berhenti, air masih menetes dari tajuk tanaman dan mengalir ke bidang sadap. Jika tetap disadap, lateks bakal berceceran sehingga sulit ditampung. Riset Thomas pada 2010 menggunakan 1.500 pohon karet, menunjukkan kehilangan akibat hujan rata-rata 4 kg per hari sadap di lahan. Dengan harga karet di tingkat pekebun Rp20.000—25.000 per kg, potensi kehilangan hasil pekebun mencapai Rp80.000—Rp100.000 per hari. Pekebun 1 ha akan kehilangan Rp3—juta pe bulan.

Unggul

Thomas menjelaskan, selain mengurangi penurunan produksi lateks akibat hujan, penggunaan rain guard juga melindungi stimulan dari guyuran hujan. Untuk menyadap karet biasanya pekebun menggunakan stimulan berupa zat berbahan aktif etephon. Dengan adanya perisai hujan stimulan tidak hilang.

Baca juga:  Air Menjadi Kefir

Thomas mengembangkan perisai hujan berbahan bonnet. Bonnet ialah bahan yang biasa digunakan sebagai karpet talang. Berdasar risetnya, bonnet memiliki sifat paling baik dibanding plastik dan fiber.  “Bonnet bersifat lentur dan mudah dipasang. Sementara plastik dan fiber lebih kaku,” ungkapnya. Bonnet tahan hingga 2 tahun. Setelah itu perlu diganti karena perisai hujan bercendawan.

Pemakaian rain guard menyelamatkan kehilangan 8 gram lateks per pohon

Pemakaian rain guard menyelamatkan kehilangan 8 gram lateks per pohon

Doktor bidang crop science dari Queensland University itu menjelaskan  perisai hujan sebenarnya bukan barang baru. Di India dan Vietnam rain guard lazim digunakan. Namun, di Indonesia belum banyak pekebun yang menggunakannya. Periset berusia 53 tahun itu pada awalnya mengembangkan lem berbahan damar sebagai perekat perisai hujan. Lalu Henry Prastanto dan Suherman Agung Wibowo mengembangkan lem perisai hujan berbahan kompon lateks.

Pekerja perlu rutin mengecek kondisi perisai hujan.  Jika bocor,  tambal dengan menambahkan lem saja. Meski harga pemasangan perisai hujan, termasuk lem, Rp3.000 per pohon, harga itu masih ekonomis. Sebab harga itu tertutup dari 2 kali penyadapan karet. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d