Patuh Aturan Demi YUAN

Trubus Edisi Agustus 2018 Highrest.pdf

Sarang walet harus melewati pemanasan pada suhu 70o selama 3,5 detik untuk mencegah virus flu burung dan bibit penyakit.

 

Tiongkok menerapkan ekspor sarang walet dengan aturan ketat. Jaga mutu sarang agar ekspor berkelanjutan.

Kepala Bidang Karantina Produk Hewan, drh., Iswan Haryanto, M.Si.

Kepala Bidang Karantina Produk Hewan, drh., Iswan Haryanto, M.Si.

Ketua The China National Agriculture Wholesale Market Association (CAWA), Ma Zengjun, menuturkan, Tiongkok membutuhkan 800 ton sarang walet setiap tahun. Hal itu menandakan Tiongkok salah satu konsumen sarang walet terbesar di dunia. Menurut Kepala Bidang Karantina Produk Hewan, drh. Iswan Haryanto, M.Si., Tiongkok sebagai pasar terbesar karena masyarakat Negeri Tirai Bambu itu memiliki budaya mengonsumsi sarang walet.

Negara tujuan ekspor lain pun rata-rata konsumennya etnis Tionghoa. Menurut data Badan Karantina Pertanian, ekspor sarang walet asal Indonesia pada 2017 ke seluruh dunia mencapai 1.100 ton. Namun, yang masuk ke Tiongkok hanya 52 ton. Jumlah itu berarti hanya 5% dari ekspor dunia. Menurut ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata, pasar Tiongkok ibarat lokomotif ekspor.

Dua izin

Menurut Mranata pengiriman sarang walet ke negara tujuan lain hanyalah gerbong yang ditarik lokomotif. Artinya Tiongkok pasar utama yang mesti diutamakan. Iswan menuturkan, ekspor sarang walet ke Tiongkok memang relatif sulit. Musababnya, Tiongkok menentukan syarat ketat berkaitan dengan kesehatan produk bahan pangan. Apalagi setelah isu nitrit sarang walet yang mencuat pada 2010.

“Kendala lainnya bahasa dan aksara. Komunikasi menggunakan bahasa Inggris pun sulit,” kata Iswan. Aturan kerja sama dengan Tiongkok pun disepakati pada 2013. Namun, baru pada 2015 Indonesia mampu mengekspor perdana ke negara berpenduduk terbesar di dunia itu. Jika ingin mengekspor sarang walet ke Tiongkok, pengusaha wajib mendaftarkan tempat produksi ke The Certification and Accreditation of the People’s Republic of China (CNCA).

Selain itu calon eksportir juga harus mendaftarkan rumah walet ke General Administration of Custom People’s Republic of China (GACC). “Badan karantina memfasilitasi dan mendampingi untuk mengajukan pendaftaran,” kata Iswan. Artinya seorang eksportir wajib minimal memiliki tempat produksi dan rumah walet yang terdaftar di dua badan itu. Adapun pengusaha yang baru memiliki rumah walet bisa mendaftarkan dan bekerja sama dengan tempat produksi yang sudah terdaftar.

Sarang walet dalam kemasan siap kirim ke Tiongkok.

Sarang walet dalam kemasan siap kirim ke Tiongkok.

Menurut Iswan tempat produksi harus memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Eksportir harus menjamin keamanan pangan dan jaminan ketelusuran. Aspek keamanan pangan yang harus dipenuhi di antaranya pemanasan produk pada suhu 70ºC selama 3,5 detik. Tujuannya mematikan virus flu burung dan bibit penyakit. Alat pemanas pun diverifikasi dahulu di bawah pengawasan karantina.

Hal lain yang perlu diperhatikan yakni kadar nitrit produk tidak lebih dari 30 ppm. Di tempat pemrosesan mengimplementasikan proses produksi mengacu pada sistem keamanan pangan. Adapun aspek ketelusuran untuk memastikan bahwa produk sarang burung dapat ditelusur sampai ke rumah walet. Itu untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi masalah, maka Tiongkok dapat menelusuri asal-muasal sarang itu.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x