Sentra walet harus dikelola dengan baik agar produksi berkelanjutan.

Sentra walet harus dikelola dengan baik agar produksi berkelanjutan.

Pasar sarang walet kembali bergairah. Tiongkok tetap menyerap terbesar sarang walet di dunia.

Sebanyak 740 ton sarang walet asal tanah air terserap habis oleh pasar Tiongkok pada 2016. Menurut ketua bidang perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Dr. Boedi Mranata, Tiongkok tetap pasar nomor satu. Harap mafhum, masyarakat negeri Tirai Bambu itu memiliki budaya konsumsi sarang walet sejak era kekaisaran sehingga trennya tidak pernah padam.

“Di Tiongkok, sentra walet yang terkenal adalah pulau Hainan. Namun, produksinya terbatas dan tidak mampu memenuhi permintaan,” kata Boedi. Saat itulah Tiongkok mencari sarang walet asal Indonesia. Menurut Boedi pasar walet sekarang sangat bagus, membaik setelah 5 tahun tiarap akibat isu nitrit. Saat itu ekspor sarang walet turun drastis dan harganya anjlok hingga 70% (Baca Sarang Tersandung Nitrit, Trubus Maret 2012).

Mutu prima
Perlu perjuangan lama sekitar 5 tahun agar Indonesia bisa ekspor sarang walet langsung ke Tiongkok. Baru sejak awal 2015 keran ekspor ke Tiongkok terbuka lebar. Kenaikan permintaan beberapa tahun belakangan dipicu keyakinan pasar terhadap kualitas sarang produksi tanahair. Menurut Boedi pemerintah Tiongkok juga memberi sinyal positif dengan adanya izin langsung ekspor sarang walet dari tanahair. “Dulu hanya orang kaya yang mampu mengonsumsi sarang walet, kini semua orang bisa beli,” katanya.

Setiap kemasan sarang walet terdapat kode QR untuk menjamin kualitas.

Setiap kemasan sarang walet terdapat kode QR untuk menjamin kualitas.

Tren sarang walet sebagai makanan sehat pun makin memasyarakat sehingga mendongkrak permintaan. Menurut praktikus walet di Jakarta Barat, Eddy Wijaya, tren konsumsi walet di Tiongkok makin meningkat. “Dahulu di Tiongkok konsumsi walet hanya sebatas hadiah. Kini trennya berubah untuk konsumsi sendiri,” katanya. Eddy mengatakan kini tren walet juga merebak pada generasi muda.
Menurut Boedi meski keran ekspor kembali terbuka, produsen di tanah air harus memperhatikan parameter mutu sarang sesuai standar ekspor. Salah satunya adalah kandungan nitrit maksimal 30 part per million (ppm).

Baca juga:  Tiga Cabai Unggul

Harap mafhum, regulasi yang ketat juga sesuai dengan harga pasaran kini yang menembus rata-rata Rp15 juta per kg sarang yang masih berbulu dan belum dibersihkan. Boedi menambahkan, syarat lain adalah kode Quick Response (QR) di setiap sarang yang di ekspor ke Tiongkok. “Pembeli tinggal memindai QR code dengan kamera ponsel pintar mereka untuk mengetahui data-data dasar seperti asal rumah walet, tanggal panen, tanggal diproses, bobot sarang, perusahaan pengekspor hingga importir di Tiongkok,” kata Si Raja Walet Indonesia itu.

Ketua bidang perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSW), Dr. Boedi Mranata.

Ketua bidang perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSW), Dr. Boedi Mranata.

Keterbukaan informasi itu menuntut pembudidaya sarang memperbaiki standar produksi mereka. Kebersihan rumah burung, proses pencucian, dan pengemasan sarang wajib diperhatikan. “Persyaratan karantina dan persyaratan layak ekspor pun harus lengkap,” ujar Boedi. Menurut Boedi indikator sarang kurang baik adalah perubahan warna sarang walet pascasimpan.

“Sarang yang terlalu lama dalam rumah walet dan tidak segera dipanen mengakibatkan kandungan nitrit meningkat,” kata Boedi. Tingginya kandungan nitrit itu lantaran sarang terpapar kotoran burung berlebihan dalam rumah walet sehingga warnanya berubah. Sarang yang putih bersih diyakini berkualitas tinggi karena rendah kandungan nitrit.

Produksi turun
Boedi memperkirakan tren harga tinggi itu akan bertahan lama. Musababnya, kapasitas produksi walet di tanah air tidak meningkat bahkan cenderung turun. Ketika permintaan meningkat, harga bertahan tinggi. Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu mengatakan, budidaya sarang walet sangat tergantung kondisi alam. Terutama ketersediaan serangga yang menjadi pakan walet di suatu daerah.

Dr. Boedi Mranata membawa rombongan 15 perusahaan calon eksportir walet baru Indonesia bertemu Direktur CNCA dan CAIQ di Beijing, 21 Juli 2017.

Dr. Boedi Mranata membawa rombongan 15 perusahaan calon eksportir walet baru Indonesia bertemu Direktur CNCA dan CAIQ di Beijing, 21 Juli 2017.

Saat paceklik pakan, walet akan mencari sumber lain. Kalau sumber pakan baru itu terlalu jauh dari rumah, dia akan mencari rumah baru yang lebih dekat. Itulah yang terjadi terhadap rumah-rumah walet di Serpong dan Tangerang, keduanya di Provinsi Banten. Ketika sawah di sekitar area itu menghilang berganti perumahan, burung walet pun lenyap. Selanjutnya rumah-rumah walet baru banyak berdiri di Karawang, Serang, atau Indramayu.

Baca juga:  Oranda Jumbo Jawara

Populasi walet di ketiga area itu tinggi karena mendekati sumber pakan. Tren produsen di tanah air yang kerap ikut-ikutan mendorong cepat ambruknya sentra walet di satu wilayah. “Ambruk bukan berarti hilang total, tetapi produksinya anjlok tinggal 10—30%,” katanya. Boedi mencontohkan sentra di Pulau Jawa yang dulu bisa memproduksi sarang hingga 100 ton kini tinggal sekitar 20 ton.

Kalimantan yang dulu bisa memproduksi sarang 200 ton kini sudah ada gejala penurunan produksi. Hal sedikit berbeda diungkapkan manajer dari PT Energitama Multiguna Solusi, Peter John. Ia justru meyakini beberapa daerah baru di Kalimantan dan Sulawesi adalah sentra baru yang kini mulai tumbuh. Indikatornya adalah kenaikan permintaan alat sarana penunjang walet dari daerah itu.

Sarang putih rendah nitrit maksimal 30 ppm diminati pasar ekspor.

Sarang putih rendah nitrit maksimal 30 ppm diminati pasar ekspor.

Menurut Boedi sentra anyar pun akan mengalami penurunan jika tidak dikelola secara tepat. “Perlu dilakukan regulasi dari pemerintah untuk membatasi jumlah gedung walet agar produksi di suatu daerah bisa berkelanjutan,” katanya. Adapun untuk ekspor, menurut Boedi kini setidaknya ada 8 perusahan Indonesia yang mengekspor langsung ke Tiongkok.

Negara tetangga Malaysia ada 19 perusahaan. “Meski jumlah perusahaan lebih sedikit, kapasitas ekspor Indonesia lebih besar daripada Malaysia,” kata Boedi. Negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Kamboja kapasitas ekspornya masih jauh lebih kecil daripada Indonesia. Dengan kondisi yang bagus seperti sekarang, Boedi selaku ketua bidang perdagangan APPSWI berupaya untuk menambah jumlah perusahaan eksportir liur emas itu. Tidak kalah penting, menjaga kualitas produk dan keberlanjutan pasokan dari sentra produksi. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d