Pasar Teh Kian Terbuka 1

Bisnis teh menyimpan peluang. Pasar domestik dan mancanegara terbentang.

Bisnis teh lokal menggiurkan.

Bisnis teh lokal menggiurkan.

Luki Yanto melihat arloji di pergelangan tangannya. Baru saja ia memanggang daun teh hasil panen petani mitra yang disetorkan pada pagi harinya. Ia memanggang selama 25 menit sekadar untuk melayukan daun dan menghentikan proses fermentasi. Pemanggangan singkat atau setengah matang bertujuan agar daun teh bisa disimpan tanpa rusak. Kelak ia memanggang ulang lalu menambahkan bahan rempah sebelum mengemas. Luki berjibaku mengejar stok menghadapi liburan hari Idul Fitri pada Juni 2018.

Maklum, pada musim libur panjang seperti itu, penjualan Rumah Teh Kemuning—tempat Luki memproduksi teh—meningkat 150% ketimbang hari biasa. “Penjualan sebulan ketika ada libur panjang bisa sampai 3 ton, biasanya hanya 2 ton,” kata pria berusia 32 tahun itu. Bersama kakak sepupu, Wahyono, Luki mengemas teh dalam kemasan 110 gram dengan harga Rp10.000. Jika ia menjual 2 ton sebulan, setara 18.182 kemasan, omzetnya mencapai Rp181,8 juta.

Kualitas baik

Pada musim liburan, nilai penjualan teh itu meningkat menjadi Rp272,3 juta. Jumlah luar biasa untuk bisnis yang belum genap berumur 2 tahun. Luki mengandalkan kebun seluas 3 ha miik 11 petani sebagai sumber daun teh. Lantaran umur rata-rata kurang dari 2 tahun, setiap pohon hanya menghasilkan 2—3 ons daun segar setiap bulan. Ia memproduksi 7 varian—3 single origin yaitu teh putih, teh hijau, dan teh hitam, serta 4 racikan yaitu teh jahe, melati, serai, dan mint.

Pengeringan di Rumah Teh Kemuning berbeda dengan pabrikan besar. Mereka menggunakan tungku berbahan bakar kayu yang memberikan aroma khas. Lantaran semua serba manual, Luki dan Wahyono mengandalkan pengalaman kerja mereka di sebuah pabrik teh di Jawa Barat. “Pengecekan tingkat kematangan, warna, dan aroma daun ketika pemanggangan menggunakan perasaan,” ujar Luki. Meski demikian kaum muda menggemari rasa teh buatan Rumah Teh Kemuning.

Ketika mulai berproduksi pada awal 2016, mereka mengandalkan pasokan teh dari rekan di perkebunan teh masyarakat di Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Saat itu kebun-kebun teh milik petani di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, baru mulai tanam sementara Rumah Teh Kemuning harus segera berproduksi. Mendatangkan teh dari luar daerah menjadi jalan keluar paling logis. Ketika pohon teh milik pekebun mulai berproduksi pada umur 1 tahun 8 bulan, Luki langsung membelinya.

Baca juga:  Pasar Bagus Gabus Ternak

“Kualitas teh lokal Kemuning lebih baik. Selain segar karena baru petik, lahan di Kemuning mendukung tanaman teh,” kata Luki. Saat ini, pekebun lokal banyak yang tertarik menanam teh di lahan yang tidak dimanfaatkan untuk bertani hortikultura. Luki menyatakan, mereka tertarik karena hanya dengan sekali menanam pohon teh pekebun bisa panen 15 hari sekali seumur hidup. Apalagi, pohon teh bisa tumbuh di lahan curam yang tidak bisa ditanami sayuran.

Luki mendirikan Rumah Teh Kemuning karena gemas melihat fakta bahwa Desa Kemuning sebagai sentra wisata kebun teh justru tidak memiliki teh buatan lokal. “Orang datang menikmati udara sejuk di kebun teh tapi minumnya kopi, pulangnya membawa sayuran yang sebenarnya bisa mereka beli di penjual sayur dekat rumah,” ujarnya. Sebagai putra daerah asli Kemuning, ia tergelitik menggarap peluang itu. Ia lantas menggandeng kakak sepupu, Wahyono, sesama putra daerah yang sama-sama pernah bekerja di pabrik teh.

Sebagai usaha kecil, Rumah Teh Kemuning tidak memiliki dana promosi. Mereka mengandalkan promosi via media sosial maupun rekomendasi pengunjung yang pernah berbelanja. Cara itu terbukti efektif. Luki juga menjual produknya melalui toko daring (online) untuk melayani pembeli dari luar daerah. “Penjualan terbanyak dari gerai di Kemuning,” kata alumnus SMK Jurusan Otomotif itu.

Kemas ulang

Alexander Halim mengekspor 85% produknya.

Alexander Halim mengekspor 85% produknya.

Nun di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Dr. Ing. Alexander Halim membuka 140 ha lahan untuk menanam teh. Dari luasan itu, baru 40 ha yang ditanami pohon Camellia sinensis var. sinensis itu. Bekerja sama dengan 2 rekan, alumnus Jurusan Teknik Mesin Universitas Aachen, Jerman, itu meluncurkan teh bermerek Banten Tea dengan bendera PT Harendong Green Farm. Penanaman bertahap pada 2005—2006 dan produksi mulai teratur pada 2010. Sejak awal, Alexander membudidayakan teh secara organik dengan membidik pasar ekspor.

Ia meraih sertifikat organik dari lembaga sertifikasi Ecocert di Swiss yang pada 2010. Lembaga itu mengaudit ulang setiap tahun. Dalam setahun, Alexander memanen 6—7 kali atau per 42—43 hari sebelum memangkas pohon sampai ketinggian hanya 1 m lalu mengistirahatkan selama 2 bulan. Setiap tahun ia memanen hingga 36 ton. Dari produksi itu 85% di antaranya untuk memasok pasar mancanegara. Negara tujuan Banten Tea antara lain Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Malaysia.

Baca juga:  Udang Galah Bongsor

Pasar ekspor yang terbuka pertama kali adalah Jepang, pada 2010. Saat itu Alexander mengikuti pameran produk pangan di Tokyo. “Setelah mencicipi, mereka langsung tertarik membeli. Menurut mereka, rasa dan aromanya unik dengan harga sangat terjangkau,” kata ayah 2 putri itu. Banderol yang ia tawarkan memang sangat miring, hanya US$25 per kg setara Rp345.000 dengan kurs US$1=Rp13.800. Dengan ekspor 30 ton per tahun, omzet Alexander mencapai US$750.000.

Di sana, pembeli membungkus ulang produk Harendong dengan merek mereka sendiri lalu menjual dengan harga 4—5 kali lipat, mencapai US$100—US$110 per kg. Setahun terakhir, Alexander merasakan tarikan pasar lokal menguat. Pria berusia 65 tahun itu menjual langsung kepada teman-temannya pemilik kafe atau gerai teh. “Banyak kafe yang semula mengandalkan kopi sebagai sajian utama kini menyajikan teh kelas premium,” ujar Alexander. Meski porsinya hanya 15%, pembeli lokal berani membayar 3 kali lipat harga ekspor.

Luki Yanto (tengah) melihat peluang bisnis teh lokal. Foto: Koleksi Rumah Teh Kemuning.

Luki Yanto (tengah) melihat peluang bisnis teh lokal. Foto: Koleksi Rumah Teh Kemuning.

Banyak yang mengemas ulang produk Harendong dengan menambahkan racikan ala mereka dengan merek sang pembeli. Namun, pembeli tetap mencantumkan Banten Tea sebagai bahan utama. Salah satu pembeli yang menggunakan Banten Tea sebagai bahan racikan adalah Rumah Teh Sila di Bogor, Jawa Barat. Pendiri Rumah Teh Sila, Ir. Iriana Ekasari, menambahkan berbagai bahan untuk memunculkan rasa unik yang hanya terdapat di teh Sila. Dengan demikian, rasa teh Sila berbeda dengan Banten Tea.

Iriana Ekasari (duduk) menekuni bisnis teh di hilir melalui Rumah Teh Sila.

Iriana Ekasari (duduk) menekuni bisnis teh di hilir melalui Rumah Teh Sila.

Maklum, Iriana hanya menekuni bisnis teh di hilir (baca: Teh Rempah untuk yang Muda hal. 122—123). Luki Yanto, Alexander Halim, dan Iriana Ekasari hanya 3 dari puluhan pengusaha yang menerjuni industri teh berbasis teh lokal. Secara tidak langsung mereka berhadapan dengan perkebunan besar yang memiliki lahan ribuan hektare dan produksi puluhan ton per hari. Mereka membuktikan bahwa kualitas teh tanah air mampu bersaing di pasar domestik maupun mancanegara. Ironisnya, setiap tahun impor teh terus meningkat.

Padahal, “Teh impor kerap berkualitas rendah, ditolak di pasar negara lain, lalu dijual murah ke Indonesia,” ungkap Alexander. Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2016 impor teh mencapai 18.886 ton dengan nilai US$24,7 juta. Jumlah itu hampir separuh ekspor di tahun sama, sebanyak 38.253 ton dengan nilai US$84,6 juta. Upaya yang bisa dilakukan, menurut Iriana, dengan meremajakan tanaman tua dan mencegah konversi kebun teh. (Argohartono Arie Raharjo)

Perkebunan teh menjadi tujuan wisata dan berpotensi memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Perkebunan teh menjadi tujuan wisata dan berpotensi memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *