Pasar Memburu Minyak Asiri 1
Minyak asiri menanti peluang dan menjanjikan laba menggiurkan.

Minyak asiri menanti peluang dan menjanjikan laba menggiurkan.

Bisnis minyak asiri menjanjikan keuntungan spektakuler.

Pada 1973, Presiden Republik Indonesia kedua, H. Muhammad Soeharto, membuka lebar pintu investasi bagi investor asing. Sejak itu banyak ekspatriat berseliweran di ibukota. Begitu para londo itu minum air tanah yang direbus, perut mereka menolak. Pendiri perusahaan produsen air minum dalam kemasan pertama di Indonesia, Aqua, Tirto Utomo, menangkap peluang itu. Namun, penjualan babak belur karena Tirto hanya mengandalkan pasar ekspatriat dan perusahaan investasi asing, Saat itu masyarakat Indonesia masih mengandalkan air sumur untuk konsumsi.

Ketika itu membeli air putih untuk minum perkara aneh. Namun, pemukiman yang makin padat menurunkan mutu air sumur. Pasar akhirnya menerima Aqua. Kepala Program Studi Farmasi Politeknik Harapan Bersama, Kota Tegal, Jawa Tengah, Heru Nurcahyo S.Farm., M.Sc,Apt, ingin mengikuti jejak Tirto dalam menangkap peluang. Pria yang lahir dan besar di Pacitan, Jawa Timur, itu merasakan kearifan lokal memanfaatkan bawang merah untuk kesehatan. Meski demikian, ia tidak menemukan produk dalam negeri berbasis minyak asiri bawang merah. Padahal, produk kesehatan yang mengandung minyak bawang merah lazim dijumpai di negara maju. Harganya pun selangit (baca: Minyak Terbang Umbi Bawang hal. 18—20).

Penyuling daun cengkih memanfaatkan tanah berkontur miring untuk ketel penyulingan.

Penyuling daun cengkih memanfaatkan tanah berkontur miring untuk ketel penyulingan.

Di sisi lain, para petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kerap merugi saat harga bawang merah ambruk akibat panen raya atau saat bawang merah impor membanjiri pasar. Heru menangkap peluang itu dengan menyuling bawang merah, kemudian meracik minyak distilatnya (hasil penyulingan) dalam bentuk minyak oles. Sayangnya ia dosen dan peneliti, bukan wirausahawan.
Gaung minyak oles racikannya kalah pamor oleh produk sejenis yang rajin beriklan, yang menggunakan asiri jenis lain selain bawang merah. Industri minyak asiri belum melirik minyak asiri Allium cepa. Mereka masih fokus mengembangkan minyak asiri yang permintaannya tengah menanjak. Salah satunya minyak cengkih. Minyak asiri itu tergolong populer khasiatnya dan banyak diformulasikan dalam berbagai produk. Di daerah berkontur miring, para wirausahawan menanam ketel besar untuk menyuling daun cengkih kering. Kontur tanah miring mempermudah operasional. Pekerja di atas mengisi ketel, pekerja di bawah mengurus nyala tungku. Bahan bakar pertama adalah kayu bakar, selanjutnya memanfaatkan ampas daun kering dari penyulingan sebelumnya. Biaya operasional minimal, sementara harga minyak daun cengkih sangat menarik (baca Potret Bisnis Minyak Cengkih hal. 10—13).

Baca juga:  Membuka Pasar Organik Dunia

Peluang serupa juga terbuka untuk minyak asiri asal serai wangi. Bedanya, serai wangi lebih kontinu karena bahan baku tersedia sepanjang tahun. Kendalanya adalah luas tanam rumpun mirip ilalang itu terbatas sehingga produksi masih terseok-seok mengikuti permintaan (baca Pasar Perlu Pasokan Minyak Serai hal. 12—15). Minyak bawang merah inovasi Heru itu aneh, seperti Aqua di awal kemunculannya. Namun, tak mustahil di masa mendatang pasar bakal terbentang mengikuti jejak minyak cengkih dan serai wangi yang kini tengah menjulang. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: majalah, majalah pertanian, majalah trubus, minyak asiri, trubus, trubus majalah

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *