Pasar Mancanegara Incar Moringa

Tepung daun moringa produksi Ir. Ai Dudi Krisnadi diminati pasar mancanegara karena organik dan bernutrisi tinggi.

Tepung daun moringa produksi Ir. Ai Dudi Krisnadi diminati pasar mancanegara karena organik dan bernutrisi tinggi.

Para pekebun kewalahan melayani permintaan serbuk daun moringa dari pasar mancanegara. Pasar dalam negeri pun kini mulai terbuka.

 

Felix Bram Samora mengebunkan moringa di lahan 3 hektare secara organik.

Felix Bram Samora mengebunkan moringa di lahan 3 hektare secara organik.

Kebun moringa seluas 3 hektare itu tidak pernah senyap. Felix Bram Samora memanen daun moringa 2 hari sekali, meski pada hari libur sekalipun. Pekebun di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu memperoleh 4 ton daun segar dari lahan 1 hektare per bulan. Ia lantas mengeringkan dan menggiling daun moringa hingga memperoleh serbuk berukuran 80 mesh. Dari 4 ton daun segar itu Bram menghasilkan 600 kg serbuk daun moringa atau rendemen 15%.

 

Itulah sumber pendapatan Bram saban bulan. Ia memperoleh harga Rp 75.000 per kg serbuk daun. Produsen produk berbahan moringa di Kabupaten Blora, Ir. Ai Dudi Krisnadi, lalu mengolah ulang serbuk itu menjadi tepung yang lebih halus menggunakan mesin khusus hasil rancangannya sendiri. Alat itu mampu menghasilkan tepung daun dengan tingkat kehalusan 200 mesh dan 500 mesh.

Kebun moringa milik Felix Bram Samora. Dari sehektare lahan menghasilkan 4 ton daun kelor segar. Dari jumlah panen itu menghasilkan 500—600 kg tepung daun kelor.

Kebun moringa milik Felix Bram Samora. Dari sehektare lahan menghasilkan 4 ton daun kelor segar. Dari jumlah panen itu menghasilkan 500—600 kg tepung daun kelor.

Permintaan tinggi

Ir. Ai Dudi Krisnadi, memproduksi tepung daun kelor organik untuk ekspor.

Ir. Ai Dudi Krisnadi, memproduksi tepung daun kelor organik untuk ekspor.

Dudi menghasilkan rata-rata 2 ton tepung daun moringa per bulan. Dari jumlah produksi itu 80% di antaranya untuk memasok pasar ekspor ke berbagai negara di Benua Asia, Eropa, dan Afrika. Ia menjual tepung daun moringa berukuran 200 mesh Rp150.000 per kg dan 500 mesh Rp250.000 per kg. Omzet pria 49 tahun pun ratusan juta rupiah per bulan. Menurut Dudi kapasitas produksi 2 ton tepung daun per bulan itu belum mampu memenuhi permintaan pasar.

“Permintaan pasar luar negeri bisa mencapai 200 ton per bulan,” ujar alumnus Universitas Siliwangi itu. Dudi bukannya tidak mau menambah kapasitas produksi atau bermitra dengan pekebun lain untuk meningkatkan jumlah pasokan. Sebab, syarat kualitas tepung daun moringa untuk ekspor sangat ketat sehingga ia tidak bisa sembarangan menjalin kerja sama. Kalau pun ingin bermitra sang pekebun mitra harus mengikut standar operasional prosedur (SOP).

Standar itu mulai dari budidaya hingga pengolahan. Dengan begitu kualitas tepung moringa yang dihasilkan juga berkualitas tinggi. Selama ini masyarakat tidak melirik moringa sebagai komoditas potensial. Sebutan moringa mengacu pada nama genus, Moringa oleifera pinjaman dari bahasa Tamil, yakni murungai bermakna polong bengkok. Sebutan itu mengacu pada limaran alias buah moringa ketika masih muda. Masyarakat Indonesia menyebutnya kelor.

Kelor identik dengan daun untuk menghilangkan ilmu kekebalan. Padahal, di balik itu semua pohon anggota famili Moringaceae itu multifaedah. Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) menggadang-gadang moringa sebagai pangan super lantaran kandungan nutrisinya yang luar biasa.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x