Pasar Kopi Organik

Konsumen mancanegara menggandrungi kopi organik asal Indonesia.

Terik matahari tidak menyurutkan semangat pekebun kopi di Desa Tebesluwes, Kecamatan Bias, Kabupaten Aceh Tengah, Muhtar. Di depan tamu yang “mengepung” kebunnya sejak pukul 10.00, Muhtar menunjukkan cara memilih buah siap panen, memangkas tanaman, atau membersihkan gulma. Hari itu, kebun Muhtar seluas 0,5 hektare kedatangan perwakilan pembeli kopi dari Amerika Serikat.

Mereka antara lain Dana Foster (perwakilan Atlas Coffee di Seattle, Washington) dan Steve Kirbach (Stumptown Coffee Roasters, Portland, Oregon). Para tamu itu jauh-jauh mendatangi kebun di Tebesluwes karena Muhtar menanam kopi organik. Alih-alih pupuk atau pestisida kimia, Muhtar memberikan kulit buah kopi, berbagai sampah dapur, dan menyiramkan larutan mikroorganisme lokal (MOL) buatannya sendiri sebagai sumber nutrisi tanaman.

Lebih mahal

Dosis kulit kopi dan sampah dapur tidak pasti, bervariasi 1—3 kg per pohon. Frekuensinya pun tidak menentu, antara 2—3 kali setiap 2 bulan sesuai ketersediaan bahan. Pekebun berusia 42 tahun itu menyiramkan larutan MOL berbahan air cucian beras, gula merah, dan buah sebulan sekali. Permukaan tanah pun memperoleh perhatian Muhtar. Ia menanam herbal rimpang seperti kunyit atau jahe dengan tujuan, “Ketika panen sekaligus menggemburkan tanah,” ujarnya.

Muhtar petani kopi organik di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Larutan mol plus tanah gembur efektif mengundang cacing sekaligus pemangsanya. Kawanan babi hutan kerap menyambangi kebun di samping kediaman Muhtar, membongkar tanah untuk mencari cacing. Baginya, itu menjadi berkah lantaran tak payah mencangkul. Ia sengaja menanam singkong di sela pohon kopi untuk mengundang kawanan babi hutan. Nyatanya, babi hutan tidak merusak pohon kopi milik Muhtar yang berjumlah 800 tanaman.

Justru cara itu menghasilkan buah berkualitas. Total volume panen mencapai, “Sekaleng (satuan ukuran wadah kopi berkapasitas setara 20 liter air, red.) gabah kopi organik berkadar air 14% bobotnya 5,4—5,6 kg,” ungkap anak bungsu dari 10 bersaudara itu. Ia mengatakan, hasil budidaya konvensional paling banyak 4,8 kg. Harga jual per kilogram kopi organik itu Rp4.000—Rp5.000 lebih mahal ketimbang kopi nonorganik.
Masa panen mencapai 6 bulan, 2—3 bulan lebih lama daripada pohon kopi nonorganik. Dalam 6 bulan itu, Muhtar panen 2 kali. Panen raya pada Juli—September menghasilkan 1,2—1,4 kg kopi gabah. Berikutnya pada November—Desember, ia memperoleh lagi 0,6—0,7 kg. Itu menjadikan produksi per pohon 1,8—2,1 kg kopi gabah per tahun. “Waktu belum berorganik, menghasilkan 1 kg per pohon per tahun saja sudah bagus,” kata Muhtar.

Dengan populasi 800 pohon dan harga minimal kopi gabah Rp40.000 per kg di tingkat pengepul, omzet Muhtar sedikitnya Rp60,8 juta setiap tahun. Sejak beralih membudidaya secara organik pada 2010, ia tidak lagi harus sering menyulam pohon. Sebelumnya, dengan pola budidaya nonorganik sejak 2002, setiap tahun ada saja pohon yang mati. Setelah beralih ke budidaya organik, pertumbuhan pohon lebih baik dan tampak lebih sehat.

Sejak menanam kopi organik, “Setelah panen pohon tetap segar, langsung menumbuhkan tunas baru,” kata Muhtar. Ia rutin memangkas tunas-tunas air Coffea arabica itu. Itu Muhtar rutin melakukan pemangkasan kecil sembari panen atau sekadar mengontrol kebun. Pemangkasan besar, yaitu memangkas cabang dan ranting sembari merapikan bentuk tajuk, setahun 2 kali. Begitu pula pohon peneduh berupa petai cina, avokad, dan nangka, pun rutin dipangkas.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x