Pasar Incar Kroton 1
Meskipun berharga rendah dan berjenis lawas, puring kirana tetap diminati

Meskipun berharga rendah dan berjenis lawas, puring kirana tetap diminati

Bisnis puring di Indonesia timur.

Galuh Fajar masih yunior dalam bisnis puring. “Saya berdagang puring belum genap dua tahun,” ujarnya. Namun, siapa sangka bila omzet pemuda 26 tahun itu minimal Rp40-juta, hasil penjualan 80 batang puring setiap bulan ke kota Sorong, Provinsi Papua. “Sebenarnya, jumlah pesanan dua kali lipat tetapi pasokan barang terbatas,” ujarnya. Puring yang dikirim seperti kipas dewa, sembodro, dan maron.

Pedagang puring di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, itu membanderol tanaman ukuran 40 cm berkondisi prima Rp500.000. Galuh tidak mengebunkan sendiri tanaman anggota keluarga Euphorbiaceae itu. “Butuh lahan dan persiapan yang matang untuk berkebun puring,” ujarnya. Ia menuturkan untuk melayani permintaan pelanggan masih mengandalkan stok dari pekebun setempat.

Puring sempat mencicipi puncak takhta tanaman hias pada 2007—2008

Puring sempat mencicipi puncak takhta tanaman hias pada 2007—2008

Geliat
Mengandalkan pasokan dari pekebun lain acap kali mengundang masalah. “Masalah muncul ketika stok puring di pekebun menipis sementara permintaan barang terus mengalir,” katanya. Akibatnya, ia hanya mampu memenuhi separuh dari total pesanan. Peluang bisnis puring memang menggiurkan, tetapi ketersediaan barang bisa menjadi kendala. Fajar tak sendirian mencecap laba bisnis Codiaeum variegatum itu.

Pemilik kios bunga Barokah di Kota Batu, Kurniawan Novarianto, menuturkan bisnis Codiaeum variegatum masih berdetak bahkan melaju kencang sejak 3 tahun belakangan. “Pasarnya sangat luas mencakup berbagai lapisan konsumen mulai dari rumah tangga, pedagang, perancang taman, hingga kolektor,” ujar Nova, sapaannya. Apalagi, harga puring sekarang terjangkau sehingga semua lapisan masyarakat bisa menikmati.

“Pemain puring kewalahan melayani permintaan sebab pasokan barang sedikit,” ujar Rahmad Prayogi (berdiri di tengah)

“Pemain puring kewalahan melayani permintaan sebab pasokan barang sedikit,” ujar Rahmad Prayogi (berdiri di tengah)

Permintaan paling deras yang menghampiri kios bunga Barokah datang dari wilayah timur seperti Makassar, Manado, dan Palu. Puring memiliki aneka bentuk, kaya warna, dan bandel sehingga konsumen dapat memanfaatkan kerabat kastuba itu sebagai koleksi eksklusif, penghias ruangan, dan elemen taman. Bahkan, puring berpotensi besar sebagai daun potong untuk kebutuhan rangkaian bunga.

Baca juga:  Kroton Elok Incaran Pehobi

Keistimewaan lain, puring terbukti sebagai antipolutan ampuh. Nova berpendapat pemain tanaman hias di wilayah timur membidik puring sebagai peluang usaha. Sebab, masyarakat di sana tetap menggemari puring meskipun dengan harga 3—5 kali lipat lebih mahal dibanding harga di Jawa. Pria berusia 31 tahun itu mengamati konsumen menyukai puring berkelir dominan merah dan kuning.

Jenis yang diminati tergolong murah seperti jet, bali, kirana, golden wings, sakura, dan jago. Rentang harga kelima puring itu hanya Rp7.000—Rp9.000 per batang berukuran 40 cm. Namun, volume pengiriman mencapai 300 batang per jenis setiap bulan. Bila dijumlahkan, total keseluruhan pengiriman sebanyak 1.800 batang. Dengan begitu, Nova mengantongi Rp12,6-juta sampai Rp16,2-juta per bulan dari puring kelas standar itu.

Koleksi puring di kediaman Rahmad Prayogi

Koleksi puring di kediaman Rahmad Prayogi

Mancanegara
Ia juga melayani permintaan puring kelas menengah seperti oscar, dasi jojon merah, dasi jojon kuning, grace pink, dan kura masing-masing sebanyak 400 batang setiap bulan. Dengan harga minimal Rp30.000 per batang untuk tanaman setinggi 40 cm, omzetnya Rp12-juta. Total jenderal Nova memperoleh pendapatan Rp24,6-juta sampai Rp28,2-juta dari penjualan puring kelas standar dan menengah.

Terpikat potensi puring banyak pemain dan pehobi bermunculan di Kota Batu. Joko Santoso, misalnya, baru menekuni bisnis puring pada 2012. Jenis-jenis yang diperjualbelikan pun biasa seperti seperti bali, kirana, jet, dan koi dengan harga Rp4.000—Rp6.000 per batang. Ia sanggup menjual 7.000 batang kroton alias puring yang memberikan omzet Rp28-juta—Rp42-juta dalam sebulan.

Lambat laun pria berusia 35 tahun itu merambah puring kelas menengah. Peralihan itu sejalan dengan permintaan konsumen yang menghendaki puring-puring berkarakter menarik. “Konsumen yang memesan puring kelas standar sudah jarang,” ujarnya. Pada 2014 omzet Joko setidaknya Rp50-juta per bulan hasil penjualan puring-puring kelas menengah seperti grace pink, kroton, kura, oscar, apel, monalisa, dasi jojon, raja, red arwana, dan magenta.

Baca juga:  Hyacinth Hiasi Halaman

Rahmad Prayogi, pehobi puring di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, menuturkan konsumen Indonesia timur memilih Kota Batu dan Malang untuk memasok kebutuhan puring sebab berlokasi strategis. Sayang, longgarnya ceruk pasar tidak diimbangi dengan persediaan barang yang mencukupi. Padahal, jenis puring yang diminta tergolong lawas. “Itu terjadi karena belum ada pemain yang mengebunkan puring secara intensif dan berskala luas,’ ujarnya.

Kura menjadi incaran pada 2007

Kura menjadi incaran pada 2007

Yogi, sapaannya, mengungkapkan puring menjamah pasar luar negeri. “Di Qatar, misalnya, puring kirana digemari sebagai materi penyusun taman,” ujarnya. Bahkan, karena jatuh cinta pada keindahan puring, relasi Yogi dari Australia, memboyong 10 jenis puring senilai ratusan juta. Sejatinya sejak 2014 pesanan ribuan batang puring dari konsumen mancanegara menghampiri nurseri Flamboyan 88 miliknya. Namun, ia belum menyanggupi sebab menunggu kesiapan barang.

Untuk mempermudah perniagaan, pria ramah itu membudidayakan puring di kebun seluas 3 ha yang terpisah di dua kabupaten. Puring yang dikebunkan adalah jenis yang banyak diminati seperti grace pink, oscar, kura, kroton, sri langka, exotica, apel, dan monalisa. Yogi juga melirik hibrida-hibrida karya penyilang lokal untuk diperbanyak. “Belakangan hibrida-hibrida baru bermunculan dengan beragam karakter dan warna unik menyemarakkan dunia puring,” ujarnya. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments