Pasar Cari Kirana 1
Pisang mas kirana kebanggaan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Pisang mas kirana kebanggaan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Rudy Purwadi menanam 15 hektar kirana. Ia baru sanggup memenuhi 5% permintaan pasar.

Rudy menanam pisang kirana di Desa Sodonghilir, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu mulai menanam pada 2011 di lahan seluas 15 ha. Jarak tanam pisang 3 m x 3 m sehingga populasi per ha mencapai 1.100 tanaman.

Pada 2012 tanaman mulai belajar berbuah. Rudy memanen kirana pada tahun sama. Setiap tanaman menghasilkan 8—11 kg sehingga total panen sebanyak 132 ton. Rudy tak perlu repot-repot memasarkan hasil panen karena dua perusahaan pemasok buah sudah siap menampung. Pemasok membaginya menjadi dua kelompok, grade A dengan bobot minimal 900 g per sisir berkulit buah mulus tanpa cacat dan grade B dengan bobot 700—900 g dengan kulit buah bersih juga. Di sentra kirana di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, sekilo kirana grade A dibanderol Rp5.700. Grade B Rp3.000. Rudy mengebunkan pisang kirana 801 km dari sentra di Lumajang lantaran permintaan yang tinggi dan pesaingnya masih sedikit. “Sentra pisang kirana baru di Lumajang sehingga peluang pasarnya masih besar,” kata Rudy.

Kebun pisang mas kirana di Desa Kampung Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Kebun pisang mas kirana di Desa Kampung Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Meluas

Rudy tak sendiri kepincut menanam kirana. Nun di Kecamatan Tirtoyudho, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Muhammad Alianto mengebunkan hingga 800 tanaman kirana. Dari jumlah itu Ali memanen 150—an kg buah per minggu. Menurut Ali jumlah itu masih jauh dari kebutuhan pasar. “Pengepul minta sebanyak-banyaknya, saya hanya mampu memenuhi sedikit saja,” kata ayah 3 putra itu.

Harap mafhum pisang kirana kini memang tengah menjadi incaran pasar. Herdiyanto, petugas pembelanjaan buah lokal PT Sentra Mulya, perusahaan pemasok buah-buahan di Semarang, Jawa Tengah, menuturkan, per pekan kebutuhan pisang mas kirana mencapai  650—700 kardus atau 7,7 ton (1 kardus = 11 kg). “Kebutuhan itu baru tercukupi 75% ketika musim kemarau,” ujarnya. PT Sentra Mulya hanya menerima pisang yang masuk grade A dengan syarat bobot minimal 900 g per sisir, kulit buah mulus tanpa cacat atau luka. “Harga per kardus Rp75.000—Rp77.500,” katanya.

Baca juga:  Mendulang Laba Kroto

Kebutuhan pasar itu berimbas pada permintaan kepada pekebun. Tengok saja Shohibul Fatah. Pekebun pisang mas kirana di Desa Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tak sanggup memenuhi permintaan pengepul pisang di desanya. Pengepul meminta sekitar 5 ton per pekan, sementara Shohib baru bisa mencukupi 1,5 ton per minggu. Untuk memenuhi permintaan itu ia mengumpulkan buah dari petani di sekitar rumah.

Ayah 1 anak itu menanam 620 tanaman pisang mas kirana berdampingan dengan kopi dan rumput gajah di lahan seluas 3, 25 hektar. Ia menanam sejak 2005. Menurut Shohib biaya produksi per tanaman per tahun mencapai Rp15.000—Rp20.000.  Biaya itu sudah termasuk, bibit, pupuk dan tenaga kerja, tanpa sewa lahan. Pada tahun kedua, ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk pembelian bibit karena mengandalkan anakan. Satu tanaman rata-rata memiliki 3 anakan. Biaya produksi mencapai Rp3.500 per tanaman.

Pengemasan pisang mas kirana dalam kardus untuk menjaga kualitas buah

Pengemasan pisang mas kirana dalam kardus untuk menjaga kualitas buah

Sentra besar

Menurut Shohib dengan total 620 tanaman, ia bisa memanen 20 tandan dari 20 tanaman atau 100 kg per minggu karena bobot per tandan mencapai 5—6 kg. Dengan harga di kisaran Rp5.000 per kg maka penghasilan Shohib bisa mencapai Rp500.000 per minggu. Omzet lebih besar diperoleh dari perniagaan kirana dengan mengumpulkan buah dari pekebun yang mencapai 1,4 ton per pekan. Di desa Shohib terdapat 50-an petani pisang kirana.

Harap mafhum Lumajang memang sentra terbesar penanaman kirana. Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Pelatihan Pertanian, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, Ir Mukrib Achponi, penanaman pisang mas kirana di Lumajang saat ini  mencapai 450 hektar dan terus bertambah dari tahun ke tahun. “Peningkatannya mencapai 10—15% per tahun,” kata Mukrib.

Tingginya permintaan pasar menyebabkan penanaman meluas ke daerah lain. Menurut peneliti buah dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Sobir MS, pisang mas kirana memang dapat dikembangkan di luar Kabupaten Lumajang. “Syaratnya di dataran menengah ke atas 400—700 meter di atas permukaan laut,” kata Sobir. Namun, untuk menghasilkan buah yang berkualitas bagus, tanaman itu harus dirawat secara intensif terutama soal pemupukan.

Baca juga:  Luka Cangkok

Ali menyampaikan hal senada. “Tanpa budidaya yang intensif, kualitas pisang mas kirana kurang bagus,” ujarnya. Hal itu terlihat dari jumlah buah yang masuk grade A, yaitu yang mulus dengan tingkat kematangan 60% dan berbobot di atas 800 g per sisir. “Jika perawatan intensif, 90% bisa masuk grade A,” kata Ali. Sebaliknya jika perawatan kurang intensif terutama soal pemupukan, bobot pisang bisa di bawah 800 g sehingga tak masuk grade A.

Nasib Setiyawan, pemasok pisang mas kirana di Lumajang, Jawa Timur, membagi pisang mas kirana menjadi 3 kelompok. Grade A dengan bobot minimal 800 g per sisir harga Rp5.700 per kg, grade B bobot minimal 700 g dengan harga Rp3.000 per kg, sementara grade C di bawah 700 g dengan harga Rp1.500—2.000 per kg.

Dari kiri: Mukrib Achponi, Ahmad Nurcholis, dan Shohibul Fatah bekerja sama mengembangkan pisang mas kirana di Kabupaten Lumajang

Dari kiri: Mukrib Achponi, Ahmad Nurcholis, dan Shohibul Fatah bekerja sama mengembangkan pisang mas kirana di Kabupaten Lumajang

Pasar luar

Menurut petugas penyuluh lapangan Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Lili SP MMA, budidaya pisang mas kirana juga dihadang kendala. Misal hama ulat penggulung daun Erionata thrax. “Kerugian serangan ulat penggulung daun bisa mencapai 70%,” kata Lili. Oleh karena itu pengontrolan kebun menjadi penting, jika didapati ulat tersebut harus segera dimusnahkan.

Batu sandungan itu perlu segera diatasi. Sebab pasar kirana kian terbuka. Nasib Setiyawan baru sanggup memenuhi 40% dari total permintaan 75 ton per pekan. Pasarnya Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Itu belum menghitung permintaan luar Jawa (Sumbawa) dan mancanegara seperti Malaysia. “Malaysia minta 20 ton per minggu,” kata Nasib.

Menurut Ahmad Nurcholis, ketua kelompok tani pisang Raja Mas di Desa Kampung Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, permintaan yang datang ke kelompok taninya mencapai 250 ton per bulan. Beranggotakan 50 orang dengan lahan 0,5 hektar per anggota, kelompok tani tersebut baru bisa mencukupi 50%-nya saja atau 125 ton per bulan. Permintaan pasar luar negeri seperti Swiss, Australia, Malaysia dengan jumlah permintaan mencapai 30 ton per bulan untuk sementara diabaikan. “Permintaan dalam negeri saja belum bisa kami cukupi, apalagi luar negeri,” kata Nurcholis. Pasar kini memang tengah mencari kirana. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments