Permintaan tinggi gula semut di pasar mancanegara mendongkrak kesejahteraan produsen, pengepul, dan penyadap.

Aroma khas nira kelapa menguar dari sebuah bangunan rapi dan resik berdinding campuran bata merah ekspos dan anyaman bambu. Di tempat itulah Suparyono memproduksi sedikitnya 50 ton gula semut organik setiap bulan.

Produsen di Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, itu memasarkannya ke eksportir di Badung, Provinsi Bali.

Suparyono menangguk pendapatan menggiurkan. Dengan margin Rp1.000—Rp1.500 per kg, Suparyono mendulang omzet bulanan sedikitnya Rp50-juta. “Laba di bisnis ini tidak besar, itu sebabnya kami mengandalkan volume,” kata ayah 2 anak itu.

Bermitra

Pria kelahiran 14 Juli 1969 itu memilih gula kelapa berdasarkan pengalaman menjadi penyadap yang mampu memanen nira dari 35 pohon sehari. Pada 2004 ia menangkap peluang besar perniagaan gula semut. “Permintaan besar, pasokan tersedia, tetapi keduanya tidak terhubung,” kata Suparyono.

Suparyono produsen gula semut di desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, KulonProgo.
Suparyono produsen gula semut di desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, KulonProgo.

Gula semut merupakan gula merah versi bubuk yang sering disebut pula gula kristal. Bahan dasarnya nira asal kelapa atau aren. Agar produksi berkesinambungan Suparyono bermitra dengan 50 penyadap dan 30 pengepul. Penyadap menyetorkan nira cair, sementara pengepul menyetor gula blok—masyarakat lazim menyebutnya sebagai gula merah atau gula jawa. Nira adalah cairan yang keluar dari manggar alias tandan bunga kelapa.

Dari 30 pengepul itu, 5 di antaranya memroses gula blok menjadi gula semut. Suparynono menyebut pengepul yang membuat gula semut itu sebagai CPU, Centralized Processing Unit alias bagian pengolahan terpusat. Ia mengeringkan ulang gula semut kiriman CPU dengan oven untuk mencapai kadar air sesuai syarat.

Adapun nira dari penyadap ia langsung mengolahnya menjadi gula semut. Ia memroses ulang gula jawa dari pengepul mitra. Menurut Suparyono hanya 70% nira maupun gula blok yang bisa dibuat menjadi gula semut.

Gula semut mempunyai beragam kelebihan dibandingkan gula blok. Penyajiannya praktis dan instan dengan dosis yang mudah ditakar menggunakan sendok. Bentuknya kering. Proses produksi berstandar tinggi memastikan tanpa mikrob patogen.

Gula semut dapat disimpan selama 2 tahun tanpa mengalami perubahan setelah dikeringkan dan dibungkus rapat.

Mencari manfaat

Ben Ripple, direktur Big Tree Farm, eksportir gula semut di Badung, Bali, menyatakan, “Pasar dunia untuk gula semut tidak terbatas.” Pada 2014 Ben mengirim 361 ton gula semut yang diperoleh dari mitra di Kabupaten Kulonprogo untuk memenuhi permintaan pasar langganannya.

Ben Ripple, Pasar dunia untuk gula semut besar.
Ben Ripple, Pasar dunia untuk gula semut besar.

Ben memasok ke toko-toko kecil dan komunitas hidup sehat di Amerika Serikat. Jumlah itu naik 3 kali lipat dibanding 2010 yang hanya 184 ton per tahun. Itu pun belum semua pasar di Amerika Serikat tersentuh. Ben belum serius menggarap pasar ritel dengan cabang banyak. Pasar lain yang juga belum memperoleh cukup pasokan adalah Kanada, Australia, dan Eropa.

Menurut Ben pelanggan membeli gula semut lantaran mereka mengharapkan manfaat lain daripada sekadar konsumsi pemanis. Mengutip riset Trinidad PhD dan rekan-rekan dari Institut Penelitian Nutrisi dan Makanan di Manila, Filipina, Ben menyatakan bahwa indeks glisemik gula semut hanya 35 sehingga aman bagi penderita diabetes.

“Konsumen juga mendapat bukti mereka mengonsumsi gula semut yang diproduksi secara organik sehingga aman dari residu zat beracun,” ujar alumnus Jurusan Pertanian Universitas Negara Bagian Washington itu.

Baca juga:  Mulsa Meningkatkan Produksi Bawang Putih

Ayah 2 anak itu melengkapi semua kelebihan itu dengan kemasan yang menarik sehingga memikat konsumen. Pembeli berdatangan dan menjadi pelanggan tetap meskipun harga gula semut hampir 3 kali lipat gula tebu.

Menurut Ben pola pikir konsumen di Amerika Serikat bergeser sejak bangkrutnya firma keuangan Lehman yang menyeret negara adidaya itu dalam krisis moneter.

indeks glikemik gula semut hanya 35 sehingga aman bagi penderita diabetes.
indeks glikemik gula semut hanya 35 sehingga aman bagi penderita diabetes.

“Kejadian itu menyadarkan sebagian masyarakat bahwa uang yang ditumpuk bisa kehilangan nilai hanya dalam semalam. Mereka lantas tidak menjadikan harga sebagai standar tunggal ketika berbelanja, tetapi mencari manfaat lebih dari barang yang mereka beli meskipun harganya lebih mahal,” tutur pria kelahiran Georgia, Amerika Serikat itu.

Ben mulai berkongsi dengan Suparyono pada 2008 dan langsung harus menyerap gula semut sebanyak 12 ton setiap bulan.

Melalui etalase di dunia maya dan berbagai pameran, hanya dalam 6 bulan pasokan dari Suparyono ludes terserap pasar negeri Abang Sam itu. Pada 2010 pasokan Suparyono kepada Ben menjadi 184 ton setahun. Pada 2014 angkanya meningkat hampir 3 kali lipat menjadi 361 ton.

Pasar ekspor juga terbuka melalui eksportir lain, Bjorn Hartke. Pria asal Jerman itu membutuhkan pasokan untuk melayani pasar Amerika, Kanada, Belanda, Perancis, Singapura, Malaysia, dan Israel. Pasokan antara lain didapat dari Sutriyana yang memasok 40 ton per bulan.

Menyejahterakan

Sejak pasar mancanegara terbuka, bisnis gula semut di Kecamatan Kokap bagai bola salju. Harga di penyadap dan pengepul ikut terkerek. Bagi Tugiyo, penyadap nira di Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, “Harga disebut bagus kalau sekilogram gula setara sekilogram beras.

Tiga tahun terakhir, harga gula melebihi beras sehingga penyadap bisa hidup tenang,” kata penyadap nira sejak 1978 itu. Setiap hari Tugiyo mengantongi Rp46.000.

Gula semut produksi petani di kokap, kabupaten kulonprogo, yogyakarta, untuk memasok pasar mancanegara.
Gula semut produksi petani di kokap, kab. kulonprogo, yogyakarta, untuk memasok pasar mancanegara.

Daya tarik ekonomi itu juga memikat Jawadi yang semula tinggal di Kotamadya Cimahi, Jawa Barat, untuk pulang kampung ke Kokap demi menjadi pengepul dan mengolah nira. Pendapatan bersih Jawadi mencapai Rp276.250 per hari alias Rp8-juta sebulan.

Produksi gula semut tidak mengenal hari libur selain untuk arisan atau kerja bakti lantaran penyadap juga bekerja setiap hari.

Para penyedapan nira di Kokap kian sejahtera. Apalagi ketika Ben Ripple pada 2007 bersedia membiayai proses sertifikasi organik untuk pohon kelapa milik 700 kepala keluarga penyadap dan pengolahan gula merah. Setelah proses itu rampung pada 2008, permintaan pun mengalir sampai sekarang.

Modal dan bimbingan

Peluang memproduksi gula semut makin terbuka lebar. Itulah sebabnya pada 2012 Suparyono memperluas skala produksinya dengan kredit dari PT Sosial Enterprener Indonesia (SEI). Rekan-rekannya seperti Sutriyana juga memanfaatkan kredit serupa.

Berbeda dengan perbankan, SEI mengucurkan kredit dan memberikan pendampingan, bimbingan, pelatihan, bahkan sampai mencarikan pasar. Pada pinjaman pertama sebesar Rp300-juta sudah lunas, dan saat ini pinjam dengan siklus kedua.

Menurut Direktur SEI, Adee Tiwow, perusahaannya memberikan kredit kepada usaha kecil dan menengah (UKM) di tiga bidang: agribisnis, industri kreatif, dan furnitur.

“Syaratnya antara lain UKM itu harus berjalan minimal 2 tahun, meraih untung, mempunyai dampak sosial besar alias padat karya, dan dapat ditiru orang lain,” kata Adee. Syarat lain, pelaku usahanya masih berusia produktif sehingga usaha itu diharapkan berumur panjang.

Baca juga:  Bikin Gula Semut Bermutu

Menurut Pramukti Surjaudaja, chairman bank OCBC NISP yang juga salah satu investor di SEI, dampak sosial menjadi salah satu syarat utama pemberian kredit lantaran mereka mengharapkan UKM menjadi pemerkuat ekonomi di lapisan bawah. Maklum, UKM biasanya mengandalkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

Jika produsen mengalami peningkatan permintaan, maka masyarakat sekitar akan menjadi tulang punggung utama untuk produksi. Itu tentu saja berimbas terhadap peningkatan pendapatan.

“Di sentra UKM yang sibuk tidak akan ada anak muda yang nongkrong di ujung gang, mereka memilih bekerja karena hasilnya nyata,” tutur Pramukti.

Dampak sosial yang besar itu akan lebih baik kalau mampu bertahan lama. “Bisnis harus berkelanjutan, bisa berkembang, dan berinovasi,” kata pendiri grup Triputra, Theodore Permadi Rachmat, yang juga chief commissioner SEI. Artinya, harus ada pasokan bahan baku yang terjamin, tenaga kerja yang terlatih dan bisa diandalkan setiap saat, serta pasar yang dinamis.

Kriteria lain untuk memperoleh kredit SEI adalah bisnis harus replicable alias bisa ditiru di daerah lain oleh pelaku lain. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi benar-benar dibangkitkan dari bawah.

Produksi gula semut dapat menggunakan bahan gula jawa dengan rendemen 85%.
Produksi gula semut dapat menggunakan bahan gula jawa dengan rendemen 85%.

Semua syarat itu terpenuhi oleh Suparyono. Kini dengan 7.000 keluarga penyadap yang mengantongi sertifikat organik, Suparyono berusaha meningkatkan produksinya menjadi 150 ton per bulan. Itu masih jauh dari permintaan 2 calon pembeli di Amerika Serikat selain Ben, yang masing-masing menanti pasokan 200 ton per bulan.

Gula semut juga mendapat tempat di pasar lokal. Suparyono misalnya memasok 200 kg per bulan untuk gerai Mirota di Yogyakarta.

Tanaman kelapa menjadi primadona komoditas perkebunan di Kabupaten Kulonprogo. Pada 2012 luas tanam kelapa mencapai 18.070,48 hektar. Masyarakat memanfaatkan tanaman kelapa untuk menghasilkan berbagai produk. Salah satunya yang populer adalah gula semut yang mulai populer sejak 2010.

Dalam paparan tentang pencanangan one village one product (OVOP) Indonesia volume ekspor gula semut dari Kulonprogo pada 2012 mencapai 225 ton. Per September 2013 mencapai lebih dari 381 ton sehingga diproyeksikan pada akhir 2013 mencapai 500 ton nilai ekspor mencapai US$1-juta.

Menurut Ben Indonesia produsen gula kelapa terbaik di dunia. Negara lain yang mencoba menyaingi antara lain Filipina. Ben mengatakan Filipina kalah pengalaman. Efeknya biaya tenaga kerja dan nira yang dihasilkan tidak sebanding dengan penyadap seperti Tugiyo dan kawan-kawan. Indonesia merupakan negara dengan areal penanaman kelapa terbesar di dunia (lihat ilustrasi).

Negara Produsen kelapa Berdasar Luas Areal.
Negara Produsen kelapa Berdasar Luas Areal.

India dan Srilanka yang juga mempunyai banyak pohon kelapa, fokus memproduksi kelapa dan olahannya seperti minyak kelapa atau kopra. Menurut Ben, India bahkan melarang penyadapan nira sejak 1980-an karena menjadi bahan baku minuman keras.

Sejarah menyebutkan, bendera merah putih pun berasal dari umbul-umbul gula kelapa kerajaan Majapahit. Itu membuat gula semut layak menjadi produk khas Nusantara. Gula semut berpotensi dikembangkan di sentra kelapa Nusantara.

Dr Budi Agus Riswandi MH, direktur eksekutif Pusat Hak Atas Kekayaan Intelektual Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, mengupayakan gula semut Kokap terlindung oleh SPIG alias sistem perlindungan indikasi geografis “Nantinya sebelum mengekspor ke negara tujuan, kita mengurus SPIG terlebih dahulu sehingga kompetitor tidak bisa sembarangan menjual produk sejenis,” kata Budi.

Jika itu terwujud, produk gula semut Kokap pun bisa semakin dikenal dunia.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d