Potensi pasar florikultura tanahair memerlukan dukungan logistik yang memadai.

Potensi pasar florikultura tanahair memerlukan dukungan logistik yang memadai.

Potensi pasar florikultura sangat besar, produktivitas meningkat rata-rata 27% per tahun.

Dua tahun terakhir industri florikultura Indonesia mati suri. Musababnya, “Regulasi yang tidak mendukung investasi dan pengenaan pajak pertambahan nilai 10%,” kata Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Glenn Pardede. Pajak membuat produk bunga dalam negeri sulit menyaingi produk impor. Menurut Glenn varietas tanaman di Indonesia sangat banyak, tapi minim dukungan penelitian karena dana penelitian terbatas.

Keterbatasan dana itu membuat balai-balai penelitian kesulitan melakukan penelitian mendalam. Ketua PT Monfori Nusantara di Indonesia, Ir. Suzy Ratnawati Madjid, menceritakan jatuh-bangun mengembangkan bisnis florikultura. “Produknya sensitif dan mudah rusak. Untuk ekspor memerlukan dukungan logistik, termasuk kontainer yang dapat menjaga suhu bunga agar segar dan tidak rusak saat tiba di tujuan,” kata Suzy.

Salah satu rangkaian bunga yang memiliki daya saing dan nilai tambah bagi ekonomi Indonesia.

Salah satu rangkaian bunga yang memiliki daya saing dan nilai tambah bagi ekonomi Indonesia.

Banyak hambatan
PT Monfori Nusantara mengekspor tanaman hias hasil kultur jaringan seperti aglaonema dan keladi untuk Australia dan Belanda. “Kemudahan karantina dan prosedur ekspor sangat penting. Negara-negara lain mendukung petaninya dengan benih, logistik, dan peraturan,” kata Suzy. “Florikultura merupakan salah satu potensi ekonomi yang menanti sentuhan,” ujar istri Wakil Presiden Republik Indonesia, Mufidah Yusuf Kalla.

Potensi Indonesia di bidang florikultura luar biasa dan dapat membangun perekonomian bangsa. Mufidah menyatakan bahwa 6 tahun terakhir sejak 2010, produktivitas agribisnis florikultura Indonesia meningkat rata-rata 27% per tahun. Luasan tanam pun meningkat 15% per tahun. Kenaikan itu mendongkrak produk domestik bruto hingga 12% dengan nilai ekspor melebihi US$ 20-juta. Sebanyak 750.000 tenaga kerja terserap sektor itu.

Atas dasar itu pemerintah menjadikan florikultura sebagai sektor berpotensi yang harus diperhitungkan. Untuk meningkatkan kualitas produk sehingga bisa diterima pasar mancanegara antara lain dengan even Florikultura Indonesia 2017 yang berlangsung di kampus Institut Pertanian Bogor. Rektor Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc, menilai banyak hambatan pengembangan tanaman hias atau florikultura.

Krisan dan gerbera paling diminati karena tahan 4—5 hari.

Krisan dan gerbera paling diminati karena tahan 4—5 hari.

Hambatan itu antara lain tingginya kerusakan lingkungan produksi dan kurangnya infrastruktur sarana dan prasarana. Selain itu, “Petani terkendala kepemilikan lahan yang terbatas, akses permodalan minim, kelembagaan lemah, penyuluhan absen, serta carut-marut penunjang agribisnis,” kata Herry. Untuk mengatasinya, pemerhati dan peneliti agribisnis harus menggalang konsolidasi dengan berbagai pihak.

Baca juga:  Midas Pengolah Sampah

Harry berharap melalui pencanangan Hari Florikultura Indonesia terjadi kebangkitan florikultura Indonesia untuk menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Ketua panitia Florikultura Indonesia 2017, Syarifah Iis Aisyah, menyatakan bahwa petani menghadapi kendala lemahnya sistem perbenihan nasional. “Mereka juga mempunyai masalah keterbatasan akses permodalan, tingginya suku bunga usaha tani, lemahnya kapasitas dan kelembagaan petani-penyuluh, rendahnya nilai tukar petani, dan belum padunya kebijakan antarsektor dalam menunjang pembangunan agribisnis florikultura.

Fokus pangan
Untuk mengatasinya dengan meningkatkan nilai jual komoditas melalui upaya mengangkat dan memamerkan kekayaan florikultura nasional. Masyarakat bisa melihat, tertarik, lalu bertransaksi. Dekan Fakultas Pertanian IPB, Dr. Agus Purwito, M.Sc. Agr., menyatakan pentingnya sosialisasi program dan hasil riset untuk mendukung pembangunan industri florikultura, menunjang daya saing, dan nilai tambah.

Dukungan pemerintah dan inovasi kunci untuk terus kembangkan komoditas florikultura.

Dukungan pemerintah dan inovasi kunci untuk terus kembangkan komoditas florikultura.

“Saya berharap dari seminar ini muncul rekomendasi pembangunan industri florikultura yang kompetitif dan bernilai tambah,” ujar Agus. Menurut Agus pemerintah fokus mengembangkan tanaman pangan.

“Sektor florikultura sama sekali belum mendapat perhatian,” ujar Agus. Dana untuk perkembangan florikultura di Indonesia selalu dikesampingkan. Plasma nutfah asli Indonesia akan tetap ada dan berkembang jika mendapat perhatian dari pemerintah dan peneliti seperti sektor pangan. Dengan demikian florikultura dapat membantu perkembangan ekonomi Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc. menyatakan IPB sebagai institusi pendidikan berperan aktif mencetak sumber daya manusia berkualitas yang mampu mengembangkan sektor florikultura. “Sudah saatnya sektor florikultura menjadi salah satu ruas tulang punggung pertanian bangsa. Tidak melulu mengandalkan impor,” ujar Hardiyanto.

Potensi pengembangan agribisnis florikultura di Indonesia masih sangat besar. Hal itu didukung oleh keanekaragaman genetik yang luas, kondisi tanah dan agroklimat yang kondusif, serta permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, potensi itu belum tergali optimal. Dibutuhkan kebijakan tepat agar florikultura berperan lebih banyak dalam perekonomian nasional.

Baca juga:  Robot Pemerah di Kandang Sapi

Direktur Buah dan Hortikultura Kementerian Pertanian, Sarwo Edhi, menyatakan pemerintah mendukung pengembangan florikultura sejak hulu sampai hilir. Penjualan florikultura potong seperti mawar, anggrek, sedap malam, gerbera, dan gladiol meningkat 75%. “Penelitian, pembentukan pasar, pembinaan kelompok tani, dan dukungan regulasi terus mendapatkan perhatian agar peningkatan yang membantu ekonomi Indonesia,” ujar Sarwo.

Intelijen pasar
Menurut Kepala Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, perwakilan Indonesia di luar negeri siap membantu ekspor, termasuk memasang mata dan telinga sebagai intelijen pasar. “Pangsa ekspor florikultura masih kecil, di bawah 0,1% dari total nilai perdagangan kita, padahal potensinya besar,” kata Fajarini. Data pemerintah menunjukkan perniagaan florikultura dunia dikuasai Belanda, Kolombia, Ekuador, Etiopia, Kenya, dan India.

Negara yang juga mulai menggeliat menjadi eksportir adalah Thailand, Malaysia, Australia, Israel, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Sumbangan sektor florikultura terhadap produk domestik bruto mereka mencapai 40%. “Saya harapkan semua provinsi dan kabupaten atau kota sentra mulai fokus agar suatu saat industri ini mampu mendatangkan lebih banyak devisa negara,” tutur Fajarini.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian melakukan pembinaan kelompok tani, menata sistem perbenihan, menata pasar dan mendorong inovasi. “Untuk bunga krisan, misalnya, balai penelitian hortikultura mengembangkan sampai 80 varietas,” kata Sarwo Edhi. Selama ini petani mengimpor benih dari Belanda. Komitmen pemerintah untuk mengembangkan florikultura harus didukung dengan kecukupan pendanaan untuk riset dan pengembangan. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d