Pasar Besar Buah Persea 1
Avokad  wina berumur 10 tahun menghasilkan 500 kg buah per tahun

Avokad wina berumur 10 tahun menghasilkan 500 kg buah per tahun

Turmanto kewalahan memenuhi permintaan 1 ton avokad per pekan. Ia hanya mampu memenuhi 100—200 kg sepekan. Sebanyak 80—90% permintaan belum terpenuhi.

Pekebun di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Turmanto menanam Persea americana dengan jarak tanam 7 m x 7 m di lahan kurang dari 1 ha. Total jenderal Turmanto memiliki 150 pohon dengan umur beragam, 3—10 tahun. Dari jumlah itu terdapat 100 pohon menghasilkan. Sejak Agustus 2013 hingga Maret 2014 ia rutin memanen 100—200 kg avokad per pekan. Harga bervariasi,  Rp24.000—Rp25.000 per kg pada Juli—November atau musim kemarau.

Setelah itu harga turun menjadi Rp10.000—13.000 per kg. Pendapatan Turmanto dari si buah mentega itu memang aduhai, Rp9.600.000—19.200.000 per bulan saat kemarau. Padahal, biaya perawatan murah, kurang dari Rp700.000 per pohon per tahun. Turmanto antara lain menanam avokad wina berdaging buah kuning mentega. Bobot buah 0,8—1,3 kg.

Harga avokad di tingkat petani di Bandungan, Semarang Rp24.000—Rp25.000 per kg pada musim kemarau

Harga avokad di tingkat petani di Bandungan, Semarang Rp24.000—Rp25.000 per kg pada musim kemarau

Permintaan tinggi

Laba avokad bukan hanya monopoli pekebun “besar” yang memiliki ratusan pohon seperti Turmanto. Bahkan, pemilik beberapa pohon seperti Agus Riyadi pun mencecap manisnya bisnis avokad. Ia hanya memiliki 3 pohon berumur 3 tahun yang tumbuh di halaman rumah di Bandungan. Sebuah pohon avokad wina rata-rata menghasilkan 60—80 kg sekali panen. Pohon avokad 3 kali berbuah per tahun. Pria 32 tahun itu menjual buah asal Meksiko itu ke pengepul dengan harga Rp8.000 per kg.

Artinya pria yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar itu meraih pendapatan tambahan Rp5,7-juta per tahun. Itulah sebabnya ia pun menjalin kemitraan  dengan petani menaman 1.000 pohon avokad pada 2013. Saat ini avokad belum panen, pohon baru berumur setahun. Dua tahun mendatang pundi-pundi Agus meningkat jika 1.000 avokadnya produktif. Menurut Agus, yang juga sebagai pengepul, produksi avokad saat ini masih jauh dari kebutuhan pasar.

Turmanto mengebunkan 150 pohon avokad di Bandungan, Semarang, Jawa Tengah

Turmanto mengebunkan 150 pohon avokad di Bandungan, Semarang, Jawa Tengah

“Permintaan avokad wina baru terlayani 10%, sedangkan keseluruhan avokad baru 50%,” katanya. Itu permintaan untuk Jawa Tengah. Permintaan avokad yang tinggi juga Suparman Halim sampaikan. “Saya mau menerima berapa pun jumlahnya asal sesuai kriteria yang saya inginkan,” kata pengusaha buah-buahan di Jakarta itu. Tatang—sapaan Suparman Halim—menginginkan avokad berdaging kuning, legit, kulit bisa dikupas seperti pisang, dan tingkat kematangan 80—90%.

Saat ini Tatang mendapat pasokan avokad dari pengepul buah di Probolinggo, Jawa Timur. Avokad memang tengah menjadi incaran pasar. Vendi Tri Suseno, operational local fruit PT Laris Manis Utama, perusahaan pemasok buah-buahan, menuturkan kebutuhan avokad 20 toko modern—seperti Hypermart dan Giant—di Surabaya, Bali, dan Makassar mencapai 20 ton per pekan. Sementara  PT Laris Manis Utama baru bisa memasok 3 ton per pekan setara 15%.

Baca juga:  Busuk Batang Raja Rempah

Perusahaan itu menerima avokad varietas mentega berbobot minimal 300 g per buah, kulit mulus tanpa cacat atau luka, dan tingkat kemanisan minimal 60 briks. Menurut Vendi permintaan tinggi karena avokad merupakan buah kebutuhan sehari-hari. “Untuk keragaman buah avokad wajib ada di toko buah. Posisinya sama seperti melon dan semangka,” katanya.  Avokad juga disebut sebagai buah dasar. “Ia dijadikan sebagai bahan baku jus, campuran es krim, dan olahan lain,” kata Vendi.

Suparman Halim, pemasok buah di Jakarta, menerima avokad berdaging kuning, legit, dan tingkat kematangan 80—90%

Suparman Halim, pemasok buah di Jakarta, menerima avokad berdaging kuning, legit, dan tingkat kematangan 80—90%

Hambatan

Pernaiagaan avokad bukan berarti tanpa kendala. Turmanto urung menambah areal penanaman lantaran belum menemukan lokasi tepat. “Lahan harus dipastikan cukup air pada musim kemarau,” katanya. Avokad berbuah tak kenal musim. Pada saat pembentukan buah  Persea americana butuh pasokan air yang cukup. “Jika kurang air, buah yang baru seukuran pentil akan rontok,” kata pekebun di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah itu.

Selain pekebun, masalah juga kerap dialami pemasok. Seminggu dua kali, Tatang memasok sekitar 500 kg avokad untuk pasar Jakarta. Dari jumlah itu, 5% apkir dan dibuang. Hal itu akibat panen terlalu tua dan terserang hama ulat. Belum banyaknya pekebun yang membudidayakan avokad secara intensif juga membuat pasokan terbatas.  Selain itu minimnya pasokan sering merugikan pengusaha jus avokad.

Rudy Kartawidjaja, pengusaha jus, pernah dalam seminggu tidak menjual jus avokad karena tidak ada pasokan. Padahal, ia membutuhkan pasokan avokad 1,1 ton per pekan untuk gerai di Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Namun, bila semua aral itu dapat diatasi gurihnya bisnis avokad dapat dinikmati. Menurut Kepala Pengadaan Barang Moena Fresh di Surabaya, Prima Gustami, 80% avokad yang dipasok ke Moena Fresh untuk pembuatan jus dan es teler.

Avokad buah dasar yang dijadikan sebagai bahan baku jus, es krim, dan es teler

Avokad buah dasar yang dijadikan sebagai bahan baku jus, es krim, dan es teler

“Saat ini jus avokad menempati posisi pertama penjualan jus,” ujar Prima. Gerai Moena Fresh menjual 250 gelas jus avokad per hari. Harganya Rp16.500 per gelas. Prima menuturkan kebutuhan avokad untuk 11 toko mencapai 150 kg sehari. Kebutuhan itu terus meningkat 20% setiap tahun. Pasokan avokad dari Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Pada pertengahan 2013 Moena Fresh sempat kekurangan pasokan. “Pasokan dari Jawa juga sedang kosong,” kata perempuan 25 tahun itu. Akibatnya Moena Fresh terpaksa membatasi penjualan jus avokad.

Baca juga:  Avokad Idaman Asal Sleman

Budidaya intensif

Para pekebun di berbagai daerah akhirnya mengendus peluang bisnis avokad. Mereka lantas mengebunkan pohon anggota famili Lauraceae itu. Sebut saja Hartono di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang menanam 400 pohon varietas kendil pada 2011. Menurut Hartono avokad kendil bercitarasa manis, pulen, tebal, bobot minimal 1 kg per buah, daging padat dan berwarna kuning. Pohon-pohon berumur kurang dari 3 tahun itu belajar berbuah, belum panen.

Nun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ada Satya Laksana yang bekerja sama dengan 10 investor mengebunkan avokad secara tumpangsari dengan jati putih. Rencana di lahan 5 ha yang disewa dari desa ditanam 5.500 jati putih (jarak tanam 3 m x 3 m) dan 500 avokad miki (jarak tanam 9 m x 9 m). Hingga pertengahan Maret 2014 Satya baru menanam 250 avokad asal bibit sambung setinggi 30 cm yang dibeli Rp25.000 per batang.

Kebutuhan 20 toko modern di Surabaya, Bali, dan Makassar mencapai 20 ton per pekan

Kebutuhan 20 toko modern di Surabaya, Bali, dan Makassar mencapai 20 ton per pekan

Pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya, itu memilih avokad karena lokasi lahan di Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut itu cocok. Harga buah stabil, Rp8.000—14.000 per kg. Selain itu, “Avokad panjang umur sampai 30 tahun. Semakin bertambah umur, produksi juga semakin banyak,” katanya.

Maraknya pekebun membudidayakan avokad berimbas pada permintaan bibit. Dalam sebulan H Yunus Junaedi SPd MM, penangkar di Depok, Jawa Barat, menjual 1.500 bibit avokad miki. Harga bibit miki setinggi 50—60 cm Rp50.000. Menurut Yunus permintaan bibit cenderung naik 10% setiap tahun.

Prakoso Heryono, pembibit avokad varietas kendil di Demak, Jawa Tengah, menjual 75—90 bibit per bulan pada musim kering, sementara pada musim hujan bisa mencapai 500—an bibit per bulan. Prakoso menjual bibit stek setinggi 50 cm seharga Rp60.000—Rp75.000. Di Kampung Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ada Jazuri SE, yang banyak menerima order 200—400 bibit dari instansi pemerintah. Menurut Jazuri bibit itu untuk dibagikan kepada masyarakat dalam program penghijauan. Permintaan bibit avokad cipedak juga datang dari pekebun di berbagai daerah seperti Sumedang, Manado, Surabaya, Lampung, Padang, dan beberapa kota di Kalimantan Timur.

Menurut Agus banyak pekebun tertarik menanam avokad karena perawatannya mudah. Saat menanam, cukup berikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar untuk menggemburkan tanah. Pemupukan susulan dengan kotoran itik dan sampah organik setiap bulan. Selanjutnya cukup siram setiap hari. Selain perawatannya mudah, pangsa pasar avokad terbuka lebar. Buktinya Turmanto yang baru sanggup memenuhi 10—20% permintaan pasar. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari  Titisari, Kartika Restu Susilo, Rizky Fadhilah, dan Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments