Pasar Besar Bisnis Sabut Kelapa

sabut kelapa,kulit kelapa

Bisnis sabut kelapa tak ada habisnya. Limbah itu diolah menjadi jok, matras, kasur, hingga geotekstil bernilai jual tinggi.

Suara mesin menderu terdengar di sebuah pabrik pengolah sabut kelapa. Pagi itu dua orang pekerja sibuk memasukkan gulungan-gulungan serat kelapa kering dalam mesin pengurai. Di sudut lainnya tampak seorang pekerja memasukkan sabut yang telah bercampur karet ke dalam cetakan persegi, memadatkannya dengan lempengan besi yang sekaligus berfungsi sebagai penutup.

Uap panas kemudian dialirkan lewat pipa besi menuju cetakan itu. Seperti layaknya mencetak kue dalam oven. Dalam waktu kurang dari 15 menit, bahan pengisi jok mobil berbentuk persegi selesai dicetak.

sabut kelapa,pasokan sabut kelapa indonesia

Indonesia hanya pasok 14,5% sabut mentah dunia

Begitulah aktivitas sehari-hari di pabrik pengolahan sabut kelapa milik Ir A Sidik Omar MM di Depok, Jawa Barat. Kesibukan itu untuk memenuhi permintaan 35.000—40.000 buah cocoboard—sebutret pengisi jok mobil dan kursi—per bulan. Sebutret berupa komposit atau campuran serat sabut kelapa yang dipadu lateks.

Cocoboard itu dibutuhkan pabrik pembuat jok mobil dan tatami—kursi ala Jepang—di Depok, Jawa Barat. Sejak dua tahun lalu, Sidik menjalani bisnis pembuatan cocoboard di bawah bendera CV Serat Kelapa yang memberikannya pendapatan Rp150-juta—Rp200-juta per bulan.

Jahari B Iskak,bisnis sabut kelapa

Jahari B Iskak, pantang mundur bisnis serat walau keuntungan naik turun

Produk turunan kelapa berbahan sebutret lainnya yang diproduksi Sidik yakni 3.000 lembar matras per bulan. Matras sabut kelapa yang diproduksi sejak 2008 itu dibutuhkan industri pembuat kasur pegas di Jakarta. Jumlah itu naik 7 kali dibanding volume produksi 5 tahun silam. Dengan harga matras Rp40.000 per buah Sidik mengantongi omzet Rp120-juta per bulan.

Untuk memproduksi seluruh produk tersebut, Sidik membutuhkan 20 ton serat kelapa kering. Aktivitas pekerja di pabriknya bakal kian meningkat jika Sidik berhasil memodifikasi mesin untuk menghasilkan sebutret tanpa lateks. “Jepang menginginkan matras minim lateks karena mereka menginginkan produk alami tanpa tambahan bahan sintetis,” kata pengolah matras sabut kelapa sejak 2008 itu. Sidik juga memproduksi pot dan tali.

Kewalahan permintaan sabut kelapa

KUB (Kelompok Usaha Bersama) Sebutret Indonesia di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memproduksi 150 kasur sebutret per bulan. Kasur dibuat dengan panjang 2 m dan lebar beraneka ukuran 1,2—1,8 m.

Dengan harga jual Rp1,5-juta—Rp4,5-juta per kasur, omzet yang diraih sekitar Rp250-juta per bulan. Untuk menghasilkan produk jadi itu, KUB SI mengolah 100 m3 sebutret per bulan. “Bahan bakunya diperoleh dari desa-desa sekitar,” ucap Akhmad Rizali, salah satu pengelola KUB SI.

sabut kelapa,kulit kelapa

Harga serat kelapa Indonesia di pasar internasional pada Oktober 2013 sebesar US$305/MT

Pundi-pundi KUB bakal makin penuh jika berhasil memenuhi permintaan 1.500 m3 sebutret dari pabrik kasur pegas. Selain kasur, KUB yang berdiri pada 2008 oleh H Karsono itu mendapatkan permintaan ribuan lembaran serat kelapa (cocosheet) dari Australia dan Cina.

Pembeli mensyaratkan spesifikasi ketebalan 2 mm, lebar 2 m, dan panjang 20 m. Belum lagi permintaan jok mobil dari pembeli di Malaysia. Sayang permintaan itu urung terpenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x