Kabar gembira! Beberapa peternak  sukses membudidayakan gabus dan pasarnya pun bagus.

559_9-1Muhammad Farhan memanen 1,25 ton ikan ikan gabus dari sebuah kolam 315 m². Itu kali kedua ia panen pada Desember 2015. Peternak gabus di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, itu menjual hasil panen ke pasar tradisional Rp35.000 per kg sehingga beromzet Rp43,75-juta. Hasil panen semestinya bisa lebih tinggi. “Panen turun lantaran badai el nino,” ujar Farhan.

Kolam pembibitan ikan gabus milik Andhi

Kolam pembibitan ikan gabus milik Andhi

Lokasi budidaya ikan gabus itu hanya berjarak sekitar 25 km dari pantai. Gejala alam itu menyebabkan musim panas berkepanjangan dan air tanah menjadi payau. Ia membudidayakan Channa striata sejak 2014. Pada panen perdana Farhan memanen hingga 2,5 ton ikan gabus dari kolam yang sama. Bobot rata-rata 200 g per ekor.

Prospek bagus
Farhan memiliki 5 kolam tanah dengan ukuran kolam bervariasi, yaitu 9 m x 35 m; 7,5 m x 25 m; 6 m x 15 m; 5 m x 10 m; dan 6 m x 8 m. Pria 55 tahun itu menebar bibit berukuran 5—7 cm dengan kepadatan tebar 20 ekor per m². “Saya menghindari populasi yang terlalu sesak agar ikan tumbuh optimal,” ujarnya. Sebagai sumber nutrisi, Farhan memberikan pakan berupa pelet dan limbah ikan.

Permintaan bibit ikan gabus cenderung meningkat.

Permintaan bibit ikan gabus cenderung meningkat.

Haruan—sebutan gabus di Kalimantan—siap panen setelah 7 bulan pascatebar bibit. Waktu budidaya bisa lebih singkat, jika peternak memanfaatkan benih berukuran besar seperti 15 cm. Pada masa panen itu bobot ikan rata-rata 200 gram per ekor. Menurut Farhan ukuran itu cukup untuk konsumsi. Selain dijual ke pasar tradisional, banyak pengelola restoran dan ibu rumah tangga yang membeli langsung hasil panen ke kolam.

Nun di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, David Kunaisi juga membudidayakan gabus. Ia membudidayakan hewan anggota famili Channidae itu di 8 di kolam terpal masing-masing berukuran 6 m x 4 m (3 kolam), 8 m x 8 m (2 kolam), dan 9 m x 10 m (3 kolam). Kedalaman kolam seragam yakni 80 cm. Di bagian pinggir kolam David memasang jaring setinggi 1 m untuk mencegah gabus melompat.

Pria 30 tahun itu menebar bibit ukuran 5—7 cm dengan padat tebar berbeda-beda tergantung ukuran kolam. Pada kolam berukuran 9 m x 10 m, padat tebar bibit 20 ekor per m², ukuran 6 m x 4 m 10—12 ekor per m², dan ukuran 8 m x 8 m 15 ekor per m². Populasi per kolam sengaja longgar.

Menguntungkan
David menebar bibit secara bergilir agar bisa panen secara kontinu. Waktu tebar tergantung musim panen bandeng dan nila di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan, keduanya di Provinsi Jawa Timur. Menurut Haridian Wijaya, anggota staf Pengolahan Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lumajang, kedua kabupaten itu merupakan daerah pemasok ikan gabus di Jawa Timur.

Ir Syaiful MM, mendukung pengembangan gabus di Kabupaten Lumajang dengan memberikan bantuan alat pengolahan dan pengemasan.

Ir Syaiful MM, mendukung pengembangan gabus di Kabupaten Lumajang dengan memberikan bantuan alat pengolahan dan pengemasan.

Pada musim kemarau pasokan gabus dari Sidoarjo dan Lamongan melimpah karena bersamaan dengan panen bandeng atau nila di tambak. Peternak bandeng atau nila di sana kerap menangkap gabus-gabus liar yang terperangkap di tambak. Hasil tangkapan bisa mencapai 50—100 kg setiap kali panen. Karena merupakan hasil sampingan, para petambak biasanya menjual dengan harga murah, yakni hanya Rp20.000 per kg.

Itulah sebabnya David menargetkan panen pada saat musim hujan, yaitu ketika pasokan gabus dari Sidoarjo dan Lamongan turun sebab peternak bandeng tidak panen. Saat itulah peternak di Lumajang memperoleh harga tinggi, yakni mencapai Rp40.000—Rp45.000 per kg.

Bahkan David pernah memperoleh harga jual hingga Rp70.000 per kg karena pasokan gabus sedikit. David memanen gabus 7 bulan pascatebar bibit. Pada panen terakhir, yakni pada Januari 2016, ia memanen 500 kg gabus dari 2.000 bibit yang ia tebar di kolam berukuran 9 m x 10 m. Ukuran ikan rata-rata 2—3 ekor per kg. Jumlah panen itu lebih rendah daripada panen sebelumnya yang mampu menghasilkan 1 ton ikan dari kolam yang sama.

Marisa Sunaryo mengolah gabus menjadi dendeng.

Marisa Sunaryo mengolah gabus menjadi dendeng.

“Hasil panen lebih sedikit karena jaring yang mengelilingi kolam jebol sehingga banyak ikan yang mati,” katanya. David menjual hasil panen kepada pengepul Rp35.000 per kg. Harga jual itu di luar prediksi David. Saat itu semestinya harga lebih tinggi karena bukan masa panen bandeng.

Ramai budidaya
Kesuksesan Farhan dan David membudidayakan gabus mematahkan anggapan jika gabus tak bisa dibudidayakan karena bersifat kanibal. Sifat kanibalisme itu memang masih menjadi kendala di kalangan peternak. Namun, menurut Kepala Seksi Pengolahan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lumajang, Norman Riyadi, kendala itu dapat di atasi dengan menggunakan bibit berukuran seragam (baca “Jurus Urus Gabus” halaman 18—19).

Permintaan gabus meningkat setelah adanya info gabus mengandung albumin yang baik untuk kesehatan.

Permintaan gabus meningkat setelah adanya info gabus mengandung albumin yang baik untuk kesehatan.

Lima tahun terakhir memang kian banyak peternak yang membesarkan ikan gabus. Selain David di Lumajang dan Farhan di Banjarmasin, peternak lain adalah Eko Rudi Feriawan di Lumajang, Suandi Laksana (Yogyakarta), Syakdilah (Banjarmasin), dan Herwanto Purba (Bengkulu). Selama ini masyarakat menikmati kelezatan ikan gabus dengan mengandalkan tangkapan alam. Namun, dalam jangka panjang hal itu membahayakan kelestariannya.

Baca juga:  Batuk

Menurut ahli budidaya perairan dari Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat, Dr Ir H Untung Bijaksana MP, budidaya menjadi jalan keluar untuk menjaga kelestarian ikan gabus. Selain itu dengan budidaya masyarakat dapat menikmati kelezatan dan khasiat ikan gabus kapan pun juga. Sementara jika mengandalkan tangkapan alam ikan gabus cenderung melimpah di suatu musim, dan langka pada musim lain.

Suandi Laksana kewalahan melayani permintaan gabus.

Suandi Laksana kewalahan melayani permintaan gabus.

Menurut Haridian di Kabupaten Lumajang tak hanya David yang membudidayakan gabus. Haridian yang juga menjadi pengepul gabus mendapat pasokan dari 20 peternak mitra. Hari—panggilan akrab lebih suka mendapatkan pasokan gabus dari hasil budidaya karena lebih aman dan tanpa cacat.

“Terkadang ikan gabus tangkapan alam terdapat luka bekas pancing,” ujarnya. Menurut Haridian di Kabupaten Lumajang gabus mulai ramai dibudidayakan pada 2012—2013. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lumajang, Ir Syaiful MM, menuturkan peternak gabus di Lumajang masih dalam tahap belajar. Jumlah peternak pun masih sedikit.

Sebagian besar masih mengandalkan hasil tangkapan alam karena gabus masih banyak ditemukan di muara-muara sungai di Kabupaten Lumajang. “Namun, dinas sangat mendukung setiap pelaku budidaya baik hulu maupun hilir. Apalagi ikan gabus menguntungkan dari segi ekonomis,” ujarnya. Untuk membantu pengembangan gabus di Kabupaten Lumajang,

Fitrajaya, Rumah Makan Ma Abeng perlu pasokan 10 kg gabus perhari, saat akhir pekan bisa naik 2—3 kali lipat.

Fitrajaya, Rumah Makan Ma Abeng perlu pasokan 10 kg gabus perhari, saat akhir pekan bisa naik 2—3 kali lipat.

Untuk kesehatan
Apa yang menyebabkan para peternak ramai membudidayakan gabus? Menurut Hari permintaan gabus mulai meningkat sejak 2005. Ketika itu kapsul ekstrak ikan gabus mulai marak. “Sejak saat itu masyarakat mengenal ikan gabus untuk obat,” tuturnya. Berbagai hasil penelitian menyebutkan gabus kaya albumin. Menurut Prof Dr dr Nurpudji Astuti Daud MPH, SpGK, albumin merupakan plasma protein tubuh yang jumlahnya separuh dari total protein di tubuh sebesar 7,2—9 g/dl.

Dokter spesialis gizi klinis dari Universitas Hasanuddin itu mengatakan, sebagai plasma protein peran albumin yang mengandung 16 asam amino amat vital mulai dari penyusun struktur sel, antibodi, enzim, hingga hormon. Hasil riset Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS, menunjukkan kandungan albumin pada gabus tinggi, sebesar 62,24 g per kg.

Bandingkan dengan telur yang hanya mengandung albumin 9,34 g per kg. Selama ini albumin identik dengan putih telur. Nurpudji menjelaskan penderita penyakit akut dan berat seperti kanker, gagal ginjal, dan stroke, mengalami kadar albumin rendah, kurang dari nilai standar 3,5—5 g/dl. Dampaknya tekanan osmotik darah turun sehingga pengangkutan asam lemak, obat, hormon, dan enzim terganggu.

Itulah sebabnya permintaan gabus yang mengalir ke Hari berasal dari produsen kapsul dan sari ikan gabus di Kota Malang, Jawa Timur. Hari mengirim gabus hidup dua kali setiap pekan.

Sekali kirim sebanyak 140—250 kg. Ia menjual gabus hidup Rp45.000—

Rp50.000 per kg. Pengiriman ikan hidup menggunakan kotak pendingin berkapasitas 200 liter. Pengepul di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, Suandi Laksana, memasok gabus ke beberapa rumahsakit, seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates di Kulonprogo sebanyak 10—20 kg per pekan.

Ia juga memasok 10 kg gabus ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito per pekan dan Rumah Sakit Khusus (RSK) Bedah Patmasuri di Kabupaten Bantul 5—10 kg per pekan. “Menurut beberapa dokter ikan gabus dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan pasien pascaoperasi,” kata Suandi. Pengepul di Kabupaten Sidoarjo, Andry Wijaya, juga memasok 50 kg ikan gabus ke rumahsakit di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur.

Faedah untuk kesehatan juga berimbas pada permintaan menu berbahan ikan gabus di rumah makan. Contohnya Rumah Makan Ma Abeng di Jalan Ragamukti Desa Citayam, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pada 2012 rumah makan itu hanya menghabiskan 3—4 kg gabus pucung per hari. “Sekarang rata-rata 10 kg per hari. Pada akhir pekan bisa naik 2—3 kali lipat,” kata Fitrajaya, pengelola Rumah Makan Ma Abeng. Sayangnya akhir-akhir ini Fitrajaya kerap kekurangan pasokan. “Dari kebutuhan 10 kg per hari paling terpenuhi 3—4 kg. Kadang-kadang sama sekali tidak ada pasokan,” ujarnya.

Baca juga:  Tumbuh di Kantong Susun

Selain pasar albumin yang terbentuk, kini beberapa produsen mengolah gabus menjadi abon. Produsen di Lumajang, Kautsaril Barida mengolah rata-rata 50 kg gabus per bulan (baca: Pasar Tunggu Gabus—hal 16).

Di Jakarta ada Marisa Sunaryo yang mengolah gabus menjadi dendeng asam manis dan cabai hijau. Ia mengemas produk itu dalam kantong plastik vakum dan toples isi 250 g. Ia menjual dendeng asam manis Rp87.500 per 250 g dan cabai hijau Rp100.000 per 250 g. Marisa mengolah 10—20 kg ikan gabus per bulan. Pada saat Ramadan ia bisa mengolah hingga 100—200 kg gabus. Dendeng ikan gabus itu ia jual melalui penjualan daring. Dalam 3 tahun terakhir, ia memasok pasar swalayan Kemchick di Mal Pacific Place. Ia juga beberapa kali melayani permintaan dari Singapura.

Pangsa pasar

Albertus Budi Setiawan tengah mempersiapkan pengiriman bibit gabus keluar kota.

Albertus Budi Setiawan tengah mempersiapkan pengiriman bibit gabus keluar kota.

Membesarkan gabus yang lazim hidup liar di alam bukan hal gampang. Beragam hambatan menghadang para calon peternak. Harap mafhum ikan gabus bersifat kanibal. Belum lagi serangan penyakit yang merebak (baca boks: “Aral Beternak Gabus”). Jika beragam kendala teratasi, pasar ikan gabus sejatinya terbentang. Beberapa pasar swalayan kini juga mulai menyediakan ikan gabus.

Salah satunya Pasar Swalayan Giant di Kota Bogor yang mulai menyediakan gabus sejak 2013. Menurut penanggung jawab produk segar pasar swalayan Giant, Alimul Huda, jumlah penjualan gabus memang masih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar jenis lain. Dalam sepekan pasar swalayan itu baru mampu menjual rata-rata 10 kg.

Huda menduga jumlah penjualan ikan gabus masih sedikit karena harga lebih mahal dibandingkan dengan ikan air tawar lain seperti ikan gurami dan nila. Di Giant harga gabus mencapai Rp64.900 per kg, sedangkan gurami hanya Rp59.900 dan ikan mas Rp52.900 per kg. Saat ini tidak semua pasar swalayan Giant menyediakan gabus karena pasokannya terbatas.

Menurut Suandi saat ini jumlah pasokan menjadi kendala karena sebagian besar masih mengandalkan hasil tangkapan alam. Akibatnya banyak permintaan yang belum mampu ia penuhi. Saat ini Suandi kewalahan melayani tingginya permintaan gabus dari beberapa rumah makan seperti Rumah Makan Iwak Kalen di Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Rumah makan yang terkenal dengan menu ikan wader dan udang itu meminta pasokan rutin minimal 10 kg per pekan. “Jika ada 50 kg per minggu pasti diambil juga,” ujar Suandi. Salah satu rumah makan di Kabupatan Klaten, Jawa Tengah, juga meminta pasokan rutin hingga 50—100 kg per pekan. “Saya baru mampu sekali kirim sebanyak 10 kg,” kata Suandi.

Suandi mengatakan, pasar swalayan Superindo di Yogyakarta juga meminta pasokan gabus. “Permintaan satu gerai Superindo mencapai 40 kg per hari. Di Yogyakarta terdapat 10 gerai Superindo. Jadi total permintaan sekitar 400 kg per hari. Saya belum mampu memenuhi karena tidak ada barangnya,” katanya. Ia juga terpaksa menolak permintaan dari seorang eksportir yang meminta pasokan gabus 7 ton per minggu.

Pembibit ikan gabus di Bantul, Yogyakarta, Andhi Raharjo, mendapat permintaan 1 ton gabus ukuran konsumsi per bulan dari 2 konsumen asal Kulonprogo. Konsumen itu rencananya memproduksi ekstrak albumin gabus. Sayang, ia melewatkan permintaan itu karena Andhi masih fokus memproduksi bibit gabus. “Rencananya pada akhir 2016 saya membangun 6 kolam semen berukuran 3 m x 6 m untuk pembesaran gabus. Saat ini masih dalam tahap pembangunan,” tutur Andhi.

Gabus pucung salah satu olahan ikan gabus, menu favorit masyarakat betawi.

Gabus pucung salah satu olahan ikan gabus, menu favorit masyarakat betawi.

Saat ini pengepul di Sidoarjo, Andry Wijaya, baru mampu memasok 50 kg gabus untuk konsumsi per pekan. Padahal, total permintaan mencapai 500 kg sepekan. “Jumlah itu baru 10% dari total permintaan,” tuturnya. Itulah sebabnya saat ini makin banyak yang tertarik membudidayakan gabus. Salah satunya H Budi di Tenggarong, Kabupaten Kutaikartanegara, Kalimantan Timur, yang baru mulai budidaya gabus pada Januari 2016.

Ia melakukan pembesaran 25.000 benih ikan gabus di 6 kolam berukuran beragam. Pria yang juga menjadi pemasok ikan betok Anabas testudineus itu membudidayakan gabus karena tingginya permintaan dari pasar tradisional. “Saat ini pasokan dari tangkapan alam berkurang. Bagi masyarakat di sini ikan gabus menjadi santapan sehari-hari,” tutur Budi.

Beberapa daerah kini juga mencanangkan gabus sebagai komoditas andalan. Salah satunya Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin bekerja sama dengan Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat mengembangkan teknologi pembibitan dan budidaya untuk menggenjot produksi gabus. Menurut dosen Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat, Dr Ir H Untung Bijaksana MP, kini ada 4 kelompok tani dari 4 kecamatan di Banjarmasin yang menjadi binaannya sejak 2015.

Di sana Untung memperkenalkan teknik memacu gabus bertelur dengan menyuntikkan 0,2 ml per ml hormon gonadotropin. “Dengan cara itu derajat pembuahan 99,2% dan derajat penetasan 98,1%,” ujar doktor alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Dari sepasang induk gabus mampu menghasilkan 5.000 bibit gabus dengan tingkat kelulusan hidup atau survival rate (SR) 90%.

Untung menuturkan dengan berbagai teknologi itu para peternak gabus masih bisa menuai laba karena harga gabus relatif bagus. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Ian Purnama Sari, Muhamad Fajar Ramadhan, dan Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d