Pengunjung kafe berlama-lama menikmati kopi sambil bersantai.

Pengunjung kafe berlama-lama menikmati kopi sambil bersantai.

Tidak hanya meringankan kepenatan, kopi juga berkhasiat bagi kesehatan.

Pisau bedah, jarum suntik, dan botol infus menjadi pegangan sehari-hari Prof Dr Hendro Sudjono Yuwono. Bagi pria berusia 68 tahun itu, profesi ahli bedah menuntut ketelitian dan konsentrasi penuh. Maklum, membuka jaringan tubuh manusia tidak sesederhana menggunting kertas. “Meleset sedikit, pasien bisa kehilangan nyawa,” kata alumnus Academish Medisch Centrum Amsterdam University, Belanda, itu.

Menurut Hendro dokter bedah berisiko mengidap stres tinggi sehingga memerlukan penyegaran. Hendro memilih untuk menyeruput secangkir kopi demi meraih penyegaran itu. Ayah 2 anak itu selalu menyediakan kopi di ruangan kerjanya. Kapan pun hasrat menikmati serbuk tanaman anggota famili Rubiaceae itu menghampiri, ia tinggal seduh. Sepulang bekerja pun Hendro kerap menyempatkan menyeduh kopi.

Slamet Prayoga mengelola kedai kopi di Kota Bogor, Jawa Barat.

Slamet Prayoga mengelola kedai kopi di Kota Bogor, Jawa Barat.

Faedah besar
Meminum segelas kopi tidak membuat Hendro terjaga semalaman. “Saya justru minum kopi untuk menghilangkan penat sehingga tidur lebih nyenyak,” tutur dokter alumnus Universitas Padjadjaran itu. Di rumah pun ia menyimpan berbagai jenis kopi seperti kopi fermentasi 8 tahun dan kopi asal Guatemala yang ia dapat dari putranya. Ia juga menyimpan kopi asal dataran tinggi Parahyangan yang ia beli ketika berjalan-jalan di Taman Hutan Raya, Bandung.

Hendro tidak setiap hari mengonsumsi kopi. “Kadang 2 hari sekali, kadang sepekan hanya sekali,” ujar ayah 2 anak itu. Keinginan mencecap kopi biasanya muncul ketika orang di dekatnya membuat kopi yang menguarkan aroma harum. Ia gemar mengonsumsi kopi sejak SMA dan semakin yakin sejak meneliti manfaat kesehatannya. “Kopi mampu menghambat perkembangan bakteri penyebab infeksi yang kebal terhadap antibiotik,” kata Hendro.

Yang ia maksud adalah methycillin-resistent Staphylococcus aureus (MRSA). Efektivitas ekstrak air kopi menghambat perkembangan bakteri itu jauh lebih baik daripada ekstrak jahe yang mempunyai reputasi tersohor sebagai bahan antimikrob, termasuk bakteri. Selain Hendro, ada Toni Wahid, seorang penggemar kopi “garis keras”. Demi menikmati citarasa asli biji tanaman asal Ethiopia itu, Toni sampai membuat bilik berukuran 2 m x 3 m di rumah.

Prof Hendro S Yuwono SpB menikmati kopi untuk penyegaran.

Prof Hendro S Yuwono SpB menikmati kopi untuk penyegaran.

Connoisseur du café alias pehobi kopi itu menyimpan koleksi biji sangrai dari berbagai jenis kopi spesialti tanahair. Berbagai jenis kopi seperti gayo dari Nanggroe Aceh Darussalam, lintong (Sumatera Utara), priangan (Jawa Barat), bali, dan papua tersimpan rapi dalam stoples kaca berukuran 10 cm x 10 cm setinggi 20 cm. Toni juga menempatkan berbagai perlengkapan untuk meracik kopi seperti penggiling biji kopi, mesin espresso, french press (gelas tahan tekanan untuk mempertahankan suhu kopi), dan termos listrik.

Baca juga:  Tiga Jurus Panen Besar

Eksekutif perusahaan fesyen yang berpusat di Amerika Serikat itu berusaha menemukan citarasa paling asli dari setiap jenis kopi. “Sebelum menjadi minuman, biji kopi harus melalui berbagai proses seperti pemanggangan, penyimpanan, penggilingan, dan penyeduhan. Untuk mendapatkan rasa asli, semuanya harus pas,” kata penggemar kopi di Jakarta Selatan itu.

Toni Wahid tidak segan membeli peralatan pembuat kopi untuk mencecap kopi enak.

Toni Wahid tidak segan membeli peralatan pembuat kopi untuk mencecap kopi enak.

Lima gelas sehari
Toni Wahid mencintai kopi sejak 2001. Ia sadar bahwa kunci rasa kopi terletak di proses pembuatan dan penyajian. Sejak itu, ia mempelajari cara membuat kopi enak. Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu mulai membeli berbagai peralatan yang harganya sepintas tidak masuk akal “hanya” demi secangkir kopi.

Ia menggunakan teknik pullover yang terbilang sederhana dengan peralatan yang tidak terlalu mahal. Cara itu menghasilkan kopi yang cukup kental, tidak terlalu masam, tapi beraroma kuat. Di kerongkongan rasanya lebih lengket sehingga citarasa kopi lebih lama tertinggal dalam mulut. Ia menghabiskan segelas kopi dalam 5—10 menit. Lebih dari itu, aroma habis menguar sementara rasa masam lebih kuat sehingga kopi terasa encer. Dalam sehari, Toni mengonsumsi hingga 5 cangkir kopi yang ia proses sendiri.

Bagi Toni dan Hendro, konsumsi kopi tidak sekadar untuk memenuhi keinginan tetapi sudah menjadi gaya hidup. Gaya hidup serupa juga dianut banyak pencinta kopi. Sebagian juga menjadikan kopi sebagai alat sosialisasi dengan mitra bisnis, kolega, atau teman lama. Itu mendorong munculnya kedai-kedai kopi yang menyesuaikan dengan strata pelanggan yang berasal dari kelas elite, pebisnis, mahasiswa, sampai kaki lima.

Baca juga:  Kuliner Ekstrem

Menurut Slamet Prayoga, pemilik Malabar Mountain Café di Bogor, banyak pelanggan juga menjadikan kedai kopi sebagai tempat bersantai bersama teman-teman. “Pelanggan kedai kopi betah duduk berjam-jam tanpa melihat waktu, apalagi para mahasiswa kerap membawa komputer jinjing untuk mengerjakan tugas kuliah atau menyusun skripsi,” tutur Yoga. Untuk itu pria berusia 55 tahun itu melengkapi kedainya dengan koneksi internet nirkabel. Pada malam hari, kafe di sudut kota Bogor itu juga menghadirkan pentas musik.

Konsumsi kopi memberikan manfaat bagi kesehatan.

Konsumsi kopi memberikan manfaat bagi kesehatan.

Kopi yang disajikan khusus ia datangkan dari perkebunan di Kecamatan Pangalengan dan Ciwidey—keduanya di Kabupaten Bandung. Yoga memilih bisnis kopi lantaran ia sendiri penggila kopi. Dalam sehari ia menghabiskan 4—5 cangkir kopi tanpa gula. Itu sebabnya ia tahu persis rasa kopi yang enak. “Tingkatan enak bagi penggila kopi tidak akan sama dengan penggemar biasa. Semuanya harus mendapatkan kopi yang mereka mau,” kata Yoga.

Menurut Pranoto Soenarto, ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia dan mantan Direktur Operasional PT Excelso Multi Rasa—pemegang merek Excelso—sejatinya masyarakat Indonesia patut menikmati kopi bercitarasa tinggi. Namun, hukum pasar yang bicara.

Pembeli mancanegara mampu memberikan harga lebih baik sehingga yang beredar di pasar lokal adalah kopi berkualitas rendah. Peningkatan taraf ekonomi dan pengetahuan membuat orang penasaran dengan kopi enak. Gerai-gerai Excelso pun menjadi pilihan untuk bersantai menikmati kopi sebagai gaya hidup. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhammad Awaluddin)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts