Olahraga agiliti yang menampilkan keterampilan pawang dan anjing klangenan menaklukkan rintangan kini makin diminati.

Oshin, klangenan milik Yanie Kamadjaya, ras samoyed umur 20 bulan kerap mengikuti kontes agiliti di tanahair.

Oshin, klangenan milik Yanie Kamadjaya, ras samoyed umur 20 bulan kerap mengikuti kontes agiliti di tanahair.

Waktu menunjukan pukul 20.30. Namun, Brutus tetap semangat melewati rintangan yang terpasang di lapangan berukuran 10 m x 30 m. Canis lupus berbulu putih berumur 10 tahun itu tampak terampil melewati berbagai rintangan, seperti lompat gawang, lompat ring, masuk gorong-gorong, lari zig-zag, dan menaiki papan jungkat-jungkit. Kombinasi sempurna antara Supriyono, pawang Brutus, dan klangenannya membuat penonton dan dewan juri berdecak kagum.

Supriyono dan Brutus adalah atlet olahraga agiliti yang kerap mengikuti berbagai lomba ketangkasan anjing (agiliti) di tanahair. Menurut Dr Ing S Leowardi, pehobi asal Jakarta sekaligus juri kontes ketangkasan anjing, agiliti adalah kegiatan atau kejuaraan yang terbuka bagi seluruh jenis anjing ras yang memimiliki sertifikat Federation Cynologique Internationale (FCI) dan berumur minimal 1 tahun. Dalam kontes agiliti terbagi menjadi dua tipe permainan, yakni agiliti atau ketangkasan dan permainan lompatan atau jumping.

Pada masing-masing tipe permainan itu terdapat tiga tingkatan, yaitu 1, 2, dan 3. Makin tinggi kelas, tingkat kesulitannya pun makin tinggi. “Dalam agiliti harus cepat dan tepat, serta selaras antara pawang dan klangenan,” kata Leowardi. Dalam kontes agiliti panitia biasanya membagi peserta menjadi 3 kategori berdasarkan tinggi tubuh anjing. Kategori S (kecil) biasanya diikuti oleh anjing ras dengan tinggi dari pundak kurang dari 35 cm. Sedangkan kategori M (sedang) tinggi 35 cm—43 cm, dan kategori L (besar) tinggi lebih dari 43 cm.

Ramai

Supriyono dan Brutus (ras kintamani), saat mengikuti kontes agiliti pada gelaran Indopet 2016.

Supriyono dan Brutus (ras kintamani), saat mengikuti kontes agiliti pada gelaran Indopet 2016.

Olahraga agiliti sejatinya sudah tren di luar negeri sejak 1970-an. Kini tren itu merambah ke tanah air. Untuk mewadahi para pehobi olahraga agiliti dibentuklah Klub Agiliti Indonesia (KAI) pada 2013. Menurut Ketua KAI Pusat, Ir Gde Armen Widyasthana MM, agiliti di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Komunitas itu mulanya terbentuk dari inisiatif beberapa pehobi agiliti di Bali. Komunitas itu lalu berkembang di Bandung, Jawa Barat. Semula komunitas itu bernama Indonesian Agility Club (IAC), tapi belum diresmikan Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) pusat. Pada 26 Oktober 2013 di Yogyakarta nama IAC berubah menjadi KAI dan mendapat pengesahan Perkin pusat.

Baca juga:  Gairah Bisnis Umbi Lokal

Meski tergolong baru di tanahair, KAI sudah mempunyai cabang atau koordinator wilayah di beberapa daerah, seperti KAI Wilayah Jakarta Raya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Syarat menjadi cabang atau koordinator wilayah adalah memiliki anggota minimal 10 atlet.

Robert Irawan, pehobi agiliti sekaligus pengurus KAI Jakarta Raya.

Robert Irawan, pehobi agiliti sekaligus pengurus KAI Jakarta Raya.

Menurut Robert Irawan, pehobi agiliti sekaligus pengurus KAI wilayah Jakarta Raya peminat agiliti terus meningkat setiap tahunnya. “Dahulu sebelum KAI terbentuk peserta agiliti biasanya hanya 2—5 ekor anjing dengan 2 orang handler atau pawang. Kini pada setiap kontes jumlah peserta bisa sampai 15—20 ekor dengan rata-rata 10—15 pawang,” kata pria yang merawat 2 ekor anjing untuk agiliti itu.

Robert menambahkan, kini tiap wilayah berkewajiban menyelenggarakan kompetisi agiliti minimal setahun sekali. “KAI menginduk ke Perkin, dan Perkin menginduk ke FCI,” papar pria pehobi agiliti sejak 2005 itu.

Standar
Meski berkembang cukup pesat, tapi masih ada beberapa kendala yang dihadapi untuk mengembangkan hobi agiliti. Menurut Robert, sarana dan lapangan yang memadai untuk kontes agiliti masih terbatas di tanahair. Harap mafhum, berdasarkan standar FCI lapangan yang layak untuk kompetisi agiliti minimal berukuran 40 m x 30 m. Selain itu, rintangan yang digunakan pun harus sesuai standar keamanan agar pawang dan klangenan aman selama beraksi.

Yanie Kamadjaya dan klangenan, pehobi agiliti asal Bandung, Jawa Barat.

Yanie Kamadjaya dan klangenan, pehobi agiliti asal Bandung, Jawa Barat.

Bagaimana jika ada peminat agiliti baru tertarik mengikuti kontes? Robert menyarankan para pehobi baru sebaiknya bergabung dengan klub yang tersebar di beberapa wilayah. “Jika ikut klub setidaknya bisa mengikuti pelatihan mengenai standar aturan agiliti dan cara melakukan pendekatan yang baik dan benar pada klangenan,” katanya.

Baca juga:  Pasar Besar Flora

Kunci sukses mengikuti kontes agiliti adalah terciptanya ikatan antara pawang dan klangenan. Menurut Yanie Kamadjaya, pengurus biro kejuaraan dan pelatihan KAI, cara meningkatkan bonding atau ikatan adalah dengan memberikan pujian dan hadiah. “Intinya mengambil hati klangenan, jangan ada paksaan, maka kedua belah pihak akan senang,” katanya. Perempuan asal Kota Bandung, Jawa Barat, itu menambahkan, hadiah bisa berupa makanan, mainan, atau apapun yang anjing suka. “Dengan diberi hadiah bisa menambah motivasi anjing dan dia tahu kalau dia melakukan hal yang baik,” paparnya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d